
sumutpos.jawapos.com - Penunjukan Raffi Ahmad sebagai Duta Kehormatan BPJS Kesehatan menandai babak baru pendekatan komunikasi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di tengah tantangan menjaga keberlanjutan layanan dan meningkatkan kepesertaan aktif, langkah ini dinilai sebagai strategi kultural, mengandalkan figur publik untuk menjangkau kesadaran masyarakat, terutama generasi muda.
Melansir Instagram @pandemictalks, Minggu (26/4/2026), pengukuhan yang berlangsung pada 23 April 2026 itu bukan sekadar seremoni. Di baliknya, terdapat agenda besar: mengubah cara publik memandang kesehatan, dari reaktif menjadi preventif. BPJS Kesehatan melihat perlunya pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat, terutama milenial dan Gen Z yang kini menjadi kelompok dominan dalam demografi produktif.
Selama lebih dari satu dekade sejak diluncurkan pada 2014, program JKN telah menjangkau hampir seluruh penduduk Indonesia, mendekati 99 persen atau sekitar 288–289 juta jiwa. Namun, persoalan klasik masih membayangi, tidak semua peserta aktif memanfaatkan layanan secara rutin. Banyak yang baru mengurus kepesertaan saat kondisi darurat.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan hanya soal cakupan, tetapi kualitas layanan dan keberlanjutan sistem. Setiap hari, program ini menangani sekitar 2 juta transaksi layanan kesehatan dengan nilai pembiayaan mencapai ratusan miliar rupiah.
Dalam konteks itulah, figur seperti Raffi Ahmad dinilai relevan. Selain memiliki jangkauan luas, ia juga dianggap mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif, terutama untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya hidup sehat sejak dini.
“Sehat itu harus dimulai dari muda, jangan menunggu sakit,” ujar Raffi dalam kesempatan tersebut.
Ia menekankan bahwa kesehatan adalah investasi jangka panjang yang kerap diabaikan. Dalam narasinya, kesuksesan karier dan finansial tidak akan berarti jika kondisi fisik tidak mendukung. Pesan ini menjadi inti kampanye yang akan ia gaungkan sebagai duta.
Lebih jauh, Raffi juga berkomitmen mengemas kampanye kesehatan dengan pendekatan yang lebih relevan, seperti kolaborasi dengan influencer, komunitas hobi, hingga kegiatan olahraga massal. Pendekatan ini diharapkan mampu menggeser persepsi bahwa program JKN bukan sekadar jaminan saat sakit, melainkan bagian dari gaya hidup sehat.
Di sisi lain, BPJS Kesehatan juga tengah menghadapi perubahan tren penyakit. Kasus penyakit katastropik seperti diabetes dan hipertensi kini mulai banyak ditemukan pada usia muda, sebuah fenomena yang menuntut pendekatan promotif dan preventif yang lebih agresif.



