SUMUT POS- Politisi Malaysia diancam sekelompok penipu melalui video seks palsu yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI). Total ada 10 orang, termasuk Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil.
Dijelaskannya, email tersebut disertai tangkapan layar video yang diduga berisi aktivitas tidak pantas.
“Bahasa yang digunakan dalam surel hampir identik, dilampiri tangkapan layar serupa, dan diyakini berasal dari alamat email yang sama,” ujarnya di Kuala Lumpur, Minggu (14/9/2025)
Para politisi tersebut telah menerima email berisi ancaman penyebaran video seks buatan AI yang menampilkan wajah mereka kecuali mereka membayar USD100.000 (Rp1,6 miliar).
Fahmi mengatakan bahwa politisi lain yang menjadi sasaran di antaranya mantan menteri ekonomi yang juga Anggota Parlemen Pandan Rafizi Ramli, Anggota Parlemen Subang Wong Chen, Anggota Parlemen Sungai Petani Taufiq Johari, dan Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Adam Adli.
Fahmi menambahkan, anggota dewan eksekutif Selangor Najwan Halimi dan Fahmi Ngah, serta Senator Manolan Mohamad dan Anggota Parlemen Kulim Wong Chia Zen juga termasuk di antara mereka yang menerima ancaman tersebut. Media lokal melaporkan bahwa Wakil Menteri Perkebunan dan Komoditas Chan Foong Hin, Anggota Parlemen Tasek Gelugor Wan Saifal Wan Jan, dan Anggota Parlemen Bangi Syahredzan Johan juga menerima email ancaman serupa.
Menanggapi situasi ini, Fahmi menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam. Ia telah memerintahkan Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC) bekerja sama dengan Kepolisian Diraja Malaysia (PDRM) untuk menelusuri dan mengidentifikasi pelaku, yang diketahui menggunakan akun Gmail.
Menurut mantan Menteri Perekonomian Rafizi dan Anggota Parlemen Subang Wong, email yang mereka terima pada hari Jumat juga menyertakan kode QR untuk mentransfer uang. Wong, yang telah menjadi anggota Parlemen selama 13 tahun, mengatakan dia tidak pernah merasa kurang aman sebagai anggota Parlemen dibandingkan saat ini.
“Ironisnya, sebagai anggota Parlemen dari Partai Keadilan Rakyat, partai yang berkuasa di pemerintahan Madani, saya merasa kurang aman sebagai anggota Parlemen sekarang dibandingkan dengan masa pemerintahan saya sebelumnya sebagai anggota Parlemen oposisi,” ujarnya dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu.
Dalam sebuah pernyataan di hari yang sama, Direktur Departemen Investigasi Kriminal Polisi Diraja Malaysia, M Kumar, mengatakan empat laporan polisi telah diajukan.
Kasus pertama dilaporkan oleh Anggota Parlemen Subang, Wong, pada 12 September. Pengirim mengancam bahwa jika tidak membayar dalam waktu tiga hari, video porno palsu yang menggunakan wajahnya akan disebarkan di media sosial.
Senator Nelson W Angang, Anggota Parlemen Kulim, Wong, dan Anggota Parlemen Sungai Petani, Taufiq Johari, kemudian mengajukan laporan polisi, yang semuanya menunjukkan bahwa mereka menerima tuntutan serupa.
"Polisi Diraja Malaysia menangani laporan-laporan ini dengan sangat serius," kata Kumar, seperti dikutip dari Bernama, Senin (15/9/2025).
"Kami akan mengambil tindakan tegas, komprehensif, dan tanpa kompromi terhadap pihak mana pun yang terlibat dalam memproduksi, mendistribusikan, atau menggunakan materi tersebut," ujarnya.
Menurut Kumar, semua laporan tentang upaya pemerasan sedang diselidiki berdasarkan Pasal 385 Undang-Undang Pidana tentang pemerasan dan Pasal 233 Undang-Undang Komunikasi dan Multimedia 1998 tentang penyalahgunaan fasilitas atau layanan jaringan. (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe