NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com-Akhir sidang pertama Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores bukan berarti akhir drama. Pena yang diselipkan Maduro di catatannya diminta petugas keamanan.
“Saya adalah presiden yang diculik. Seorang tawanan perang!” katanya, setengah berteriak, setelah melewati lorong ruang sidang di pengadilan federal di Manhattan, New York, seperti dikutip dari The Guardian kemarin (6/1).
Maduro dan istrinya diculik dari Caracas, Venezuela, pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat. Dalam sidang pertama Senin (5/1) siang waktu New York itu, keduanya tidak diborgol, tetapi ada pembatas di kaki yang membuat gerak mereka tidak leluasa.
Dia dan istrinya menggunakan pakaian yang sama, yakni kemeja biru yang merangkap baju oranye. Celananya berwarna khaki. “Selamat tahun baru,” kata Maduro, dalam bahasa Spanyol, kepada orang-orang di ruang sidang.
Maduro yang memimpin negaranya sejak 2013 itu didakwa terlibat narkoterorisme. Pengganti Hugo Chavez tersebut menampik dakwaan itu.
“Saya Nicolas Maduro. Saya di sini, diculik sejak 3 Januari. Saya ditangkap di rumah saya,” kata Maduro.
Flores juga diberi kesempatan bicara. Pertama, dia menyebut dirinya sebagai Ibu Negara Venezuela. “Saya tidak bersalah. Sama sekali tidak berdosa,” katanya.
Kuasa hukumnya menyebut Flores mengalami patah tulang rusuk yang diduga terkait dengan penangkapannya. “Lukanya sangat kelihatan,” kata Mark Donelly, kuasa hukum Flores, yang meminta adanya evaluasi medis komprehensif untuk kliennya.
Dalam sidang itu, Maduro hanya meminta buku catatannya dikembalikan setelah disita otoritas penjara. Keduanya tidak mengajukan jaminan untuk bebas prapersidang.
Maduro didampingi pengacara kriminal terkenal Barry Pollack yang pernah membela jurnalis sekaligus pendiri WikiLeaks Julian Assange. Mengutip teleSur, Pollack berhasil membuat Assange bebas dari penjara setelah mencapai kesepakatan hukum pada 2014.
Saat itu Assange menghadapi dakwaan berkonspirasi untuk mendapatkan dan merilis dokumen rahasia AS yang terkait dengan kebocoran dokumen terbesar Negeri Paman Sam pada 2010. Sebanyak setengah juta dokumen yang bocor berhubungan dengan perang di Irak dan Afghanistan.
Ketegangan di Venezuela
Sementara itu, di Venezuela ketegangan terjadi. Ibu Kota Caracas juga dalam kondisi siaga. Mengutip CNN, ada rentetan tembakan ke udara. Kementerian Komunikasi dan Informasi Venezuela membantah adanya konfrontasi bersenjata dan menyebutkan bahwa itu merupakan tembakan polisi ke arah drone yang terbang tanpa izin.
Setelah Venezuela, ada kemungkinan Presiden AS Donald Trump juga menargetkan musuh lama negara yang dia pimpin, Kuba. Trump juga menyebut Kolombia sebagai negara yang sakit.
Dia menuduh Presiden Kolombia Gustavo Petro turut memproduksi narkotika. “Negara itu (Kolombia) dipimpin oleh orang sakit yang suka membuat kokain dan menjualnya ke Amerika Serikat, dan dia dalam waktu dekat tidak akan bisa melakukannya lagi,” ucapnya.
Sementara itu, Kuba disebutnya bakal hancur karena sangat bergantung pada minyak Venezuela. Trump mengancam tidak akan memberikan minyak sepeser pun.
Baca Juga: Hoaks BSU: Waspada Informasi Palsu Bantuan Subsidi Upah yang Merugikan Masyarakat
“Ada banyak warga Kuba-Amerika hebat yang akan senang dengan ini,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, dia juga menyinggung Meksiko dan Iran. Meksiko disebutnya memiliki banyak kartel narkoba yang kuat. Sementara Iran diancam agar tidak memicu peperangan lagi.
“Saat ini Greenland sangat strategis. Dipenuhi kapal Rusia dan Tiongkok. Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional,” katanya, merujuk pada wilayah otonom di bawah Denmark tersebut yang juga dia incar. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan