sumutpos.jawapos.com - Pemerintah Thailand resmi menetapkan standar baru kadar kemanisan minuman sebagai bagian dari strategi nasional menekan konsumsi gula berlebih.
Dilansir dari Instagram @pandemictalks, Senin (23/2/2026), melalui Kementerian Kesehatan Thailand, level “manis normal” kini didefinisikan hanya mengandung 50 persen gula dari resep asli yang sebelumnya digunakan pelaku usaha.
Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 11 Februari 2026 dan diterapkan di berbagai jaringan kedai minuman besar. Sejumlah brand populer seperti Café Amazon, Inthanin, serta All Café turut menyesuaikan takaran gula dalam menu mereka.
Dengan aturan ini, setiap konsumen yang memesan minuman dengan tingkat “manis normal” otomatis akan mendapatkan kandungan gula setengah dari takaran sebelumnya. Meski demikian, pelanggan tetap diberikan pilihan untuk meminta tingkat kemanisan lebih tinggi sesuai selera.
Langkah ini merupakan bagian dari kampanye kesehatan publik untuk menekan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, dan gangguan metabolik lainnya.
Pemerintah berharap perubahan standar ini dapat membantu masyarakat mengurangi asupan gula harian tanpa harus melakukan perubahan ekstrem dalam kebiasaan konsumsi.
Otoritas kesehatan setempat menilai kebijakan tersebut juga menjadi strategi edukatif. Dengan menjadikan takaran lebih rendah sebagai standar default, preferensi rasa masyarakat diharapkan akan berangsur menyesuaikan ke tingkat kemanisan yang lebih sehat.
Komentar Netizen
Kebijakan ini pun ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet yang menyambut positif langkah pemerintah Thailand tersebut.
“Ini baru namanya pencegahan. Bukan cuma imbauan, tapi langsung ubah standar,” tulis seorang netizen.
Komentar lain menyebut, kebijakan tersebut bisa membantu masyarakat yang selama ini kesulitan mengurangi konsumsi gula. “Kadang kita pesan manis normal tanpa sadar gulanya kebanyakan. Kalau standarnya sudah diturunkan, jadi lebih aman,” ujar pengguna lainnya.
Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan efektivitasnya. “Kalau tetap bisa tambah gula, nanti orang tetap pilih yang manis banget,” komentar seorang warganet.
Ada juga yang membandingkan dengan kondisi di Indonesia. “Kapan ya di sini diterapkan? Minuman kekinian gulanya kadang kebangetan,” tulis netizen lain.
Terlepas dari pro dan kontra, kebijakan ini dinilai sebagai langkah progresif dalam membangun pola konsumsi yang lebih sehat. Kini, perhatian tertuju pada bagaimana respons pasar dan apakah kebiasaan masyarakat benar-benar akan berubah dalam jangka panjang.(lin)
Editor : Redaksi