SUMUT POS- Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) menghadapi hambatan serius terkait upaya membuka kembali jalur vital energi global melalui Selat Hormuz.
Rusia, Tiongkok, dan Prancis dilaporkan menghalangi resolusi yang memungkinkan penggunaan kekuatan untuk menjamin kebebasan pelayaran di kawasan tersebut.
Mengutip laporan The New York Times berdasarkan sumber diplomatik dan pejabat senior PBB, draf resolusi itu memuat klausul yang memberi kewenangan kepada negara anggota untuk menggunakan berbagai cara, termasuk kekuatan militer, guna mencegah penutupan Selat Hormuz.
Baca Juga: Pesan Haru Jennifer Coppen untuk Kamari yang Buat Netizen Mewek
Usulan tersebut diajukan oleh Bahrain dan mendapat dukungan sejumlah negara Teluk. Hingga kini, rancangan resolusi telah memasuki revisi keempat setelah melalui serangkaian perundingan tertutup selama beberapa pekan terakhir.
Pemungutan suara resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat (4/4). Namun, belum ada kepastian apakah resolusi itu akan lolos, mengingat Rusia, Tiongkok, dan Prancis sebagai anggota tetap DK PBB memiliki hak veto.
Tidak hanya di antara anggota tetap, perbedaan pandangan juga terjadi di kalangan 10 anggota tidak tetap Dewan Keamanan. Hal ini semakin memperumit peluang tercapainya kesepakatan bersama terkait langkah konkret di Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz ini menjadi kebijakan Iran karena telah diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang lalu.
Iran membalas dengan menyerang berbagai fasilitas Amerika di negara teluk, serta berbagai fasilitas Israel.
Iran juga blokade de facto di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Kondisi ini menekan ekspor dan produksi energi dari kawasan Teluk, sekaligus mendorong kenaikan harga di pasar internasional. (jpc/ram)
Editor : Juli Rambe