Sumutpos.jawapos.com-Ketegangan geopolitik kembali mencapai titik didih di Selat Hormuz—jalur sempit namun vital yang menjadi nadi bagi hampir seperlima perdagangan minyak dunia. Kali ini, sorotan tertuju pada pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memerintahkan tindakan militer tegas terhadap kapal-kapal Iran yang diduga menebar ranjau laut.
Melalui platform Truth Social, Trump menyampaikan instruksi yang tak menyisakan ruang abu-abu: Angkatan Laut AS diminta menembak dan menenggelamkan setiap kapal yang terlibat dalam aktivitas tersebut. “Tidak boleh ada keraguan,” tulisnya—sebuah kalimat singkat yang menggema panjang di panggung internasional.
Pernyataan itu hadir di tengah laporan media Amerika yang menyebut Iran menghadapi kesulitan dalam membersihkan ranjau yang mereka pasang sendiri selama konflik. Ketidakmampuan membuka kembali jalur pelayaran justru memperpanjang ketidakpastian, sekaligus memperbesar risiko kecelakaan maritim di kawasan yang sudah rapuh.
Baca Juga: Rupiah Menyentuh Rp17.300 per USD, Bank Indonesia Perkuat Intervensi
Trump bahkan melangkah lebih jauh dengan mengklaim bahwa AS kini memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz. Ia menyebut tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa persetujuan militer AS—sebuah klaim yang memicu perdebatan tajam, baik dari sisi hukum internasional maupun realitas geopolitik.
Di saat bersamaan, Pentagon mengumumkan penyitaan kapal tanker Majestic X di Samudra Hindia. Kapal tersebut diduga terlibat dalam jaringan penyelundupan minyak Iran. Operasi ini disebut sebagai bagian dari upaya sistematis untuk memutus jalur logistik yang menopang ekonomi Teheran.
Data pelacakan menunjukkan kapal itu berlayar di antara Sri Lanka dan Indonesia, dengan tujuan akhir Zhoushan, Tiongkok. Rekaman yang dirilis memperlihatkan pasukan AS menaiki kapal tersebut—sebuah gambaran nyata dari operasi yang kini semakin sering terjadi di perairan internasional.
Langkah Washington itu bukan tanpa balasan. Iran, melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), meningkatkan eskalasi dengan menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz. Dua di antaranya—MSC Francesca dan Epaminondas—dilaporkan disita dan dibawa ke wilayah Iran. Insiden penembakan terhadap kapal di lepas pantai Oman bahkan menyebabkan kerusakan pada bagian anjungan, mempertegas bahwa konflik telah bergeser dari retorika ke aksi nyata.
Baca Juga: Ria Ricis Tampil dengan Hidung Macung dan Dagu Lebih Runcing, Oplas kah?
Ketegangan ini terjadi hanya sehari setelah perpanjangan gencatan senjata yang rapuh. Namun di lapangan, blokade terhadap pelabuhan Iran tetap berlangsung, membuat arus ekspor energi melalui Selat Hormuz nyaris terhenti total. Dampaknya segera terasa di pasar global.
Harga minyak mentah Brent melonjak tajam, sempat menembus USD 100 per barel—naik sekitar 40 persen sejak konflik pecah. Gelombang efek domino pun tak terhindarkan: biaya energi meningkat, harga pangan terdorong naik, dan tekanan terhadap ekonomi global kian terasa.
Komisioner Energi Uni Eropa Dan Jørgensen memperingatkan bahwa krisis ini berpotensi menimbulkan kerugian hingga ratusan juta euro per hari bagi Eropa. Sebuah angka yang mencerminkan betapa mahalnya harga dari instabilitas di satu titik sempit dunia.
Sejak konflik meletus pada akhir Februari, lebih dari 30 serangan terhadap kapal tercatat di kawasan Timur Tengah. Angka itu bukan sekadar statistik, melainkan indikator eskalasi yang terus bergerak naik—tanpa tanda-tanda mereda. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan