Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Trump Klaim Damai AS-Iran di Depan Mata, Selat Hormuz Disebut Segera Dibuka

Johan Panjaitan • Minggu, 24 Mei 2026 | 10:25 WIB
Selat Hormuz. (hidayahtulah)
Selat Hormuz. (hidayahtulah)

 

WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com-Setelah berbulan-bulan Timur Tengah dibayangi ancaman perang terbuka, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba-tiba melontarkan klaim besar: kesepakatan damai dengan Iran disebut hampir selesai.

Bukan sekadar penghentian konflik, Trump bahkan menyebut pembukaan kembali Selat Hormuz — jalur laut paling strategis bagi perdagangan minyak dunia — tinggal menunggu pengumuman resmi.

Pernyataan itu disampaikan Trump lewat akun Truth Social miliknya, Sabtu (24/5/2026), setelah serangkaian komunikasi intensif dengan para pemimpin Timur Tengah.

“Aspek dan detail akhir dari kesepakatan tersebut saat ini sedang dibahas dan akan segera diumumkan,” tulis Trump.

Kalimat itu langsung mengguncang perhatian dunia internasional. Sebab, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa. Hampir seperlima distribusi minyak global melintasi kawasan sempit yang selama ini menjadi titik paling rawan konflik antara Iran dan Barat.

Baca Juga: Bupati Fery Tutup MTQ dan FSQ XVII Labusel, Torgamba Ditunjuk Jadi Tuan Rumah Berikutnya

Ketika Iran menutup akses strategis itu dalam beberapa bulan terakhir, pasar energi global sempat limbung. Harga minyak melonjak, distribusi logistik terganggu, dan dunia kembali dihantui ancaman krisis geopolitik.

Kini, Trump mencoba membalik keadaan: dari eskalasi menuju diplomasi.

Dalam beberapa hari terakhir, Presiden AS itu aktif melakukan komunikasi dengan Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Pakistan, Yordania, Mesir, Turki, hingga Bahrain. Ia juga berbicara langsung dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Di balik layar, negara-negara kawasan mulai memainkan peran penting sebagai penengah. Pakistan, misalnya, secara terbuka menyatakan siap menjadi mediator dialog Washington-Teheran.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahkan berharap negaranya bisa menjadi tuan rumah pembicaraan resmi AS-Iran dalam waktu dekat.

Turki ikut memberi sinyal optimistis. Presiden Recep Tayyip Erdogan menyebut peluang perdamaian kini semakin terbuka dan berpotensi mengembalikan kebebasan pelayaran di Selat Hormuz.

Baca Juga: Tim Gabungan Polres Labuhanbatu dan Intel Kodim 0209 Gagalkan Pengiriman  1 Kg Sabu ke Jambi

Sementara Mesir memilih mendorong semua pihak menahan diri dan memberi ruang lebih besar bagi diplomasi.

Namun di tengah optimisme itu, satu hal tetap terasa: dunia belum benar-benar yakin.

Pasalnya, Trump sendiri dalam beberapa pekan terakhir kerap mengeluarkan pernyataan yang berubah-ubah. Kadang mengancam Iran dengan operasi militer lanjutan, beberapa hari kemudian berbicara soal perdamaian.

Bahkan pada Sabtu lalu, ia sempat mengunggah ilustrasi Iran yang tertutup bendera Amerika Serikat — sebuah unggahan yang memicu tafsir liar mengenai arah sebenarnya kebijakan Washington.

Di sisi lain, Iran juga belum sepenuhnya percaya.

Teheran menilai Amerika Serikat tetap melakukan tekanan militer di tengah negosiasi program nuklir yang sedang berlangsung. Bagi Iran, pengalaman masa lalu membuat setiap tawaran damai dari Washington selalu disikapi dengan kewaspadaan tinggi.

Konflik terbaru AS-Israel-Iran sendiri mulai pecah sejak 28 Februari lalu. Ketegangan meningkat cepat setelah serangkaian serangan dan aksi balasan terjadi di kawasan Teluk.

Meski intensitas perang mulai menurun sejak awal April, bara konflik sejatinya belum padam sepenuhnya.

Baca Juga: Bantah Dakwaan Korupsi HGU PTPN II, Askani: Penerbitan HGB Sudah Sesuai Aturan

Masalah utama yang mengganjal perundingan juga masih sangat besar: program nuklir Iran, pengaruh militer AS di Timur Tengah, kontrol terhadap Selat Hormuz, hingga akses Iran terhadap dana-dana yang dibekukan Barat.

Karena itu, klaim Trump belum otomatis berarti perang benar-benar usai.

Tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, diplomasi mulai terdengar lebih keras dibanding dentuman rudal.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#as-iran #damai #donald trump #selat hormuz