Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kasus Covid-19 Singapura Naik Tajam: 12.700 Infeksi Sepekan, Rawat Inap Ikut Meningkat

Johan Panjaitan • Minggu, 24 Mei 2026 | 18:25 WIB
ILUSTRASI: Seorang anak usia 6-11 tahun disuntik vaksin Covid-19 di RS USU. (Dokumentasi M IDRIS/SUMUT POS)
ILUSTRASI: Seorang anak usia 6-11 tahun disuntik vaksin Covid-19 di RS USU. (Dokumentasi M IDRIS/SUMUT POS)

 

SINGAPURA, Sumutpos.jawapos.com – Gelombang baru Covid-19 kembali mengguncang Singapura. Communicable Diseases Agency (CDA) mencatat sebanyak 12.700 kasus baru dalam periode 10–16 Mei, melonjak signifikan dibanding pekan sebelumnya yang berada di angka 8.000 kasus.

Kenaikan ini juga diikuti peningkatan pasien yang harus dirawat di rumah sakit, dari rata-rata 56 menjadi 73 pasien per hari. Bahkan, tercatat satu pasien setiap hari membutuhkan perawatan intensif di ICU.

Meski terjadi lonjakan, CDA menegaskan kondisi tersebut masih berada dalam pola gelombang berkala penyakit pernapasan endemik. Otoritas kesehatan juga menyebut tidak ada indikasi varian yang beredar saat ini—termasuk NB.1.8.1 yang kini dominan—lebih berbahaya atau lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya.

Baca Juga: Maling Kerbau Rp40 Juta Babak Belur Dihajar Massa, Satu Pelaku Kabur

“Seperti penyakit pernapasan endemik lainnya, gelombang Covid-19 berkala diperkirakan akan terjadi sepanjang tahun,” demikian pernyataan CDA seperti dikutip dari The Straits Times.

Pemerintah Singapura memastikan vaksin yang tersedia masih efektif dalam memberikan perlindungan terhadap varian yang beredar, meski tetap mengimbau masyarakat untuk menjaga kewaspadaan.

Di sisi lain, lonjakan kasus ini kembali mengingatkan dunia bahwa ancaman penyakit menular belum sepenuhnya reda. Laporan Global Preparedness Monitoring Board (GPMB) yang berada di bawah WHO menegaskan bahwa frekuensi wabah global justru cenderung meningkat, disertai dampak kesehatan, ekonomi, sosial, dan politik yang semakin besar.

Baca Juga: Pegawai Manajemen THM Phantom Ditangkap Jual Ekstasi

Sejumlah negara juga tengah menghadapi situasi serupa. WHO menetapkan status darurat kesehatan global untuk wabah Ebola di Afrika yang telah menewaskan sedikitnya 131 orang. Sementara itu, wabah hantavirus dan peningkatan kasus difteri di beberapa wilayah turut menambah daftar ancaman kesehatan global.

Para pakar menilai, kunci menghadapi ancaman pandemi di masa depan bukan hanya pada kesiapan ilmiah, tetapi juga pada akses yang adil terhadap vaksin, pengobatan, dan kerja sama lintas negara.

“Ilmu pengetahuan saja tidak cukup jika tidak diiringi akses dan kepercayaan publik,” ujar Profesor Sharon Lewin dari Institut Doherty, Universitas Melbourne.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#COVID-19 #rawat inap #infeksi