Sumutpos.jawapos.com-Ketegangan di Timur Tengah kembali bergerak menuju titik paling berbahaya. Ancaman demi ancaman saling dilempar, serangan bersenjata terus terjadi, sementara jalur vital energi dunia di Selat Hormuz kini berada di ambang krisis besar.
Situasi memanas setelah sirene tanda bahaya meraung di berbagai wilayah Kuwait menyusul dugaan serangan drone yang dikaitkan dengan Iran. Meski belum ada pengumuman resmi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengakui telah menyerang pangkalan yang digunakan pasukan Amerika Serikat untuk operasi di kawasan Selat Hormuz.
IRGC menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas operasi militer AS yang lebih dulu menggempur peluncur rudal Iran di Bandar Abbas, wilayah strategis di selatan Iran. Dalam operasi itu, militer AS juga dilaporkan menarget kapal-kapal penyebar ranjau milik Iran.
“I ni sebagai peringatan serius kepada Amerika,” demikian pernyataan resmi IRGC.
Tak hanya di daratan, ketegangan juga pecah di laut. Angkatan Laut IRGC mengklaim berhasil memukul mundur kapal tanker Amerika yang melintas di Selat Hormuz setelah kapal tersebut diduga mencoba bergerak dengan radar dimatikan. Tembakan peringatan dilepaskan hingga kapal akhirnya berbalik arah.
Eskalasi terbaru ini membuat gencatan senjata yang telah berlangsung sejak 8 April berada di ujung tanduk. Di saat yang sama, perundingan antara Washington dan Teheran di Doha, Qatar, belum menghasilkan titik temu.
Di tengah situasi yang semakin panas, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan keras yang langsung mengguncang kawasan.
Dalam rapat kabinet di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan pernah berada di bawah kendali Iran. Menurutnya, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia itu merupakan perairan internasional yang harus diawasi Amerika Serikat.
Baca Juga: Megawati Hangestri Pertiwi Terancam Kehilangan Separuh Musim di Korea
“Tidak ada yang akan mengendalikannya,” kata Trump.
Namun pernyataan paling kontroversial muncul saat Trump menyinggung Oman, negara tetangga Iran yang berada di sisi lain Selat Hormuz. Trump mengancam akan mengambil tindakan ekstrem apabila Oman mendukung skema Iran dalam pengaturan lalu lintas di kawasan tersebut.
“Oman harus bersikap seperti negara lain atau kami akan membumihanguskan mereka,” ujar Trump.
Ucapan itu sontak memicu kekhawatiran baru tentang potensi meluasnya konflik di kawasan Teluk. Sebab, Oman selama ini dikenal sebagai salah satu negara mediator paling aktif dalam berbagai konflik Timur Tengah, termasuk komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran.
Di sisi lain, Teheran menunjukkan sikap yang tak kalah keras.
Baca Juga: DPD PAN Deliserdang Sembelih 3 Sapi Kurban, Bayu Sumantri Tegaskan PAN Hadir untuk Rakyat
Ketua Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan Iran tidak akan mundur dari tuntutan strategisnya, termasuk hak pengayaan uranium, kepemilikan uranium yang diperkaya, pencabutan sanksi, hingga kendali atas Selat Hormuz.
Menurut Azizi, tekanan dan ancaman yang terus dilontarkan Washington menunjukkan bahwa AS tengah menghadapi kebuntuan dalam negosiasi.
“Trump bergantian antara mengeluarkan ancaman dan menyerukan kesepakatan,” ujarnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan