TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com – Ketegangan di Timur Tengah kembali memasuki babak berbahaya. Iran resmi menutup Selat Hormuz setelah Israel melancarkan serangan baru ke wilayah Lebanon yang menewaskan sedikitnya 16 orang. Keputusan tersebut bukan hanya meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Penutupan Selat Hormuz diumumkan Markas Besar Pusat Khatam-al Anbiya melalui siaran televisi pemerintah Iran pada Sabtu (20/6). Jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia itu dinyatakan ditutup untuk seluruh lalu lintas kapal hingga waktu yang belum ditentukan.
Langkah Teheran tersebut menjadi sinyal bahwa kesepakatan damai yang baru saja dicapai antara Iran dan Amerika Serikat kini berada di ujung tanduk. Bagi Iran, serangan terbaru Israel ke Lebanon dianggap sebagai pelanggaran terhadap komitmen yang sebelumnya diharapkan mampu meredakan ketegangan kawasan.
Baca Juga: Argentina Vs Austria: La Albiceleste Ditantang Sang Godfather of Gegenpressing
Dalam pernyataannya, militer Iran menegaskan bahwa penutupan Selat Hormuz merupakan respons awal terhadap tindakan yang mereka sebut sebagai agresi berulang.
“Langkah pertama ini merupakan tanggapan terhadap pelanggaran janji musuh. Jika agresi berlanjut, langkah-langkah lebih lanjut akan diambil untuk memaksa musuh mematuhi kewajibannya,” demikian pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah Iran.
Keputusan tersebut segera mengguncang perhatian dunia internasional. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur strategis terpenting bagi distribusi minyak dan gas global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memicu lonjakan harga energi sekaligus mengganggu rantai pasok internasional.
Serangan Israel Picu Eskalasi
Di saat upaya diplomasi masih berlangsung, situasi di Lebanon justru kembali memanas.
Media resmi Lebanon melaporkan serangan udara Israel di sebuah desa dekat Kota Sidon menewaskan sedikitnya tujuh orang. Sementara Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) menyebut serangan lain yang terjadi di Qannarit merenggut tujuh nyawa dan menyebabkan sedikitnya 13 warga mengalami luka-luka.
Baca Juga: Kabur dari Tahanan Imigrasi, WN Malaysia Ditemukan Bersembunyi di Pinggir Sungai Bahilang
Rangkaian serangan itu terjadi hanya sehari setelah gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah diumumkan. Fakta tersebut memperlihatkan rapuhnya kesepakatan yang sebelumnya diharapkan mampu menghentikan kekerasan di perbatasan Lebanon-Israel.
Baik Israel maupun Hizbullah saling menuduh pihak lawan sebagai pelanggar gencatan senjata. Namun, tudingan tersebut tidak mampu mencegah memburuknya situasi keamanan di lapangan.
Diplomasi AS Diuji
Di tengah meningkatnya eskalasi, Amerika Serikat berupaya mempertahankan jalur diplomasi yang telah dibangun bersama Iran.
Wakil Presiden AS JD Vance dilaporkan bertolak ke Swiss untuk melanjutkan pembicaraan terkait implementasi kesepakatan damai yang sebelumnya telah dicapai kedua negara. Agenda utama perundingan meliputi program nuklir Iran serta upaya menjaga keberlangsungan gencatan senjata di Lebanon.
Pembicaraan tersebut sebenarnya sempat tertunda akibat serangan terbaru Israel. Namun Washington masih meyakini bahwa diplomasi merupakan satu-satunya jalan untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang regional yang lebih besar.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan