Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Oracle Pangkas 21 Ribu Karyawan, AI Ubah Peta Industri Teknologi Global

Johan Panjaitan • Rabu, 24 Juni 2026 | 11:15 WIB
Oracle pangkas 21 ribu karyawan seiring restrukturisasi AI. Otomatisasi dan kecerdasan buatan ubah industri teknologi global. (portalerp)
Oracle pangkas 21 ribu karyawan seiring restrukturisasi AI. Otomatisasi dan kecerdasan buatan ubah industri teknologi global. (portalerp)

 

AUSTIN, Sumutpos.jawapos.com – Gelombang transformasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali memakan korban. Raksasa teknologi Amerika Serikat, Oracle, memangkas sekitar 21 ribu karyawan atau setara 13 persen dari total tenaga kerjanya sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang didorong percepatan adopsi AI.

Langkah tersebut menandai perubahan mendasar dalam industri teknologi global, ketika perusahaan-perusahaan besar mulai menggeser sejumlah fungsi pekerjaan yang selama ini ditangani manusia ke sistem otomatis berbasis kecerdasan buatan.

Dilansir Reuters, pemangkasan tenaga kerja dilakukan seiring strategi Oracle untuk mempercepat transformasi bisnis dan efisiensi operasional di tengah kompetisi ketat sektor teknologi berbasis AI.

Dalam laporan tahunannya, Oracle mengungkapkan biaya restrukturisasi perusahaan melonjak tajam menjadi USD 1,84 miliar. Angka tersebut meningkat hampir lima kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD 374 juta.

Baca Juga: Pemkab Paluta Pertanggungjawabkan APBD 2025, Pertahankan WTP dan Catat SiLPA Rp34,34 Miliar

Manajemen Oracle menyebut sejumlah faktor menjadi pendorong langkah restrukturisasi tersebut, mulai dari perubahan manajemen, penyesuaian produk, persoalan kinerja, pergeseran strategi bisnis, hingga dampak integrasi berbagai akuisisi yang dilakukan perusahaan.

“Perubahan manajemen, penyesuaian produk, masalah kinerja, pergeseran strategi bisnis, serta dampak akuisisi merupakan kombinasi faktor yang melatarbelakangi langkah ini,” demikian pernyataan resmi perusahaan.

Namun di balik alasan korporasi tersebut, satu faktor menjadi sorotan utama: semakin besarnya peran AI dalam proses pengembangan teknologi Oracle.

Pendiri Oracle, Larry Ellison, sebelumnya telah mengisyaratkan perubahan besar yang tengah berlangsung di dalam perusahaan. Menurutnya, kecerdasan buatan kini tidak lagi sekadar menjadi alat bantu, tetapi telah mengambil peran penting dalam proses produksi perangkat lunak.

“Kode yang sebelumnya ditulis oleh tenaga kerja manusia di Oracle, kini tidak lagi sepenuhnya ditulis oleh manusia. Model AI kami yang menulisnya,” ujar Ellison.

Baca Juga: Skotlandia vs Brasil: Cunha Menantang Kutukan Nomor 9 Selecao

Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana AI mulai mengubah struktur kebutuhan tenaga kerja di sektor teknologi. Tugas-tugas yang selama ini membutuhkan ribuan programmer dan insinyur perangkat lunak kini dapat diselesaikan lebih cepat dengan bantuan model AI yang mampu menghasilkan, menguji, hingga memperbaiki kode secara otomatis.

Fenomena yang terjadi di Oracle mencerminkan tren yang lebih luas di industri teknologi dunia. Perusahaan-perusahaan besar berlomba mengintegrasikan AI ke dalam lini bisnis mereka untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya operasional. Namun di sisi lain, transformasi ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai masa depan lapangan kerja, terutama bagi pekerja yang pekerjaannya rentan digantikan oleh otomatisasi.

Bagi Oracle, restrukturisasi ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk mempertahankan daya saing di era AI. Bagi dunia kerja, langkah tersebut menjadi sinyal bahwa revolusi kecerdasan buatan bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas yang sedang mengubah wajah industri teknologi saat ini.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#oracle #restrukrisasi ai #karyawan