sumutpos.jawapos.com – Singapura meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kabut asap lintas negara yang dapat terjadi apabila kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan terus meluas. Kondisi angin yang bergerak ke arah utara berisiko membawa partikel asap hasil pembakaran menyeberangi Selat Malaka hingga mencapai kawasan perkotaan Singapura.
Melansir Instagram @lambegosiip, Sabtu (22/8/2026), Pemerintah Singapura melalui Badan Lingkungan Hidup Nasional atau National Environment Agency (NEA) kini memperketat pemantauan kualitas udara di seluruh wilayah. Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan kualitas udara yang dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat.
Ancaman kabut asap muncul di tengah kondisi cuaca kering yang masih diperkirakan berlangsung di kawasan Asia Tenggara. Fenomena monsun barat daya yang sedang terjadi turut meningkatkan peluang perpindahan polusi udara dari Indonesia menuju negara-negara tetangga.
Baca Juga: Ketua F-PDIP DPRD SU Berang, Minta Kasus Penganiayaan Anak di Dairi Diusut Tuntas
Perubahan arah angin harian menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat paparan asap. Jika angin bergerak dari arah tenggara atau barat daya dengan intensitas cukup kuat, maka konsentrasi partikel polutan berpotensi meningkat di wilayah permukiman Singapura.
NEA mengonfirmasi terdapat sejumlah titik panas yang memicu kepulan asap di kawasan selatan dan tengah Sumatera serta beberapa wilayah Kalimantan. Otoritas Singapura menyebut kondisi kering diperkirakan masih akan bertahan dalam beberapa hari ke depan.
“Dengan kondisi kering yang diperkirakan berlanjut dalam beberapa hari mendatang dan angin yang bertiup dari arah tenggara atau barat daya, Singapura mungkin akan mengalami kondisi berkabut asap jika kebakaran semakin hebat,” ujar NEA dalam imbauan resminya.
Baca Juga: Penderita Asma Tetap Aman Berolahraga, Ikuti Langkah Ini
Menghadapi potensi tersebut, otoritas Singapura mengaktifkan sistem peringatan dini serta meningkatkan pemantauan terhadap pergerakan angin dan kadar polutan di udara secara berkala.
Masyarakat juga diimbau untuk mengikuti perkembangan kualitas udara dan mengambil langkah pencegahan apabila tingkat polusi meningkat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan.
Ancaman kabut asap lintas negara kembali menjadi perhatian regional karena dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kebakaran, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas udara negara-negara yang berada di sekitar wilayah sumber asap. Kondisi cuaca dalam beberapa waktu ke depan akan menjadi penentu utama apakah asap dari Sumatera dan Kalimantan bergerak hingga ke wilayah Singapura.(lin)
Editor : Redaksi