Asap Karhutla Indonesia Picu Lonjakan Asma dan ISPA di Malaysia

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 21:30 WIB
Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan kasus asma hingga 259 persen dalam periode pemantauan terbaru.(Instagram @pandemictalks)
Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan kasus asma hingga 259 persen dalam periode pemantauan terbaru.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Malaysia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mulai menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Gangguan pernapasan meningkat seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah kawasan negara tetangga.

Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (26/8/2026), Kementerian Kesehatan Malaysia mencatat lonjakan kasus asma hingga 259 persen dalam periode pemantauan terbaru. Jumlah kasus meningkat dari 61 menjadi 219 kasus. Sementara itu, kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) juga mengalami kenaikan 124 persen, dari 1.637 kasus menjadi 3.674 kasus.

Menteri Kesehatan Malaysia Dr Dzulkefly Ahmad mengatakan peningkatan tersebut terpantau melalui sistem pemantauan kesehatan kementeriannya. Kondisi itu terjadi ketika kabut asap mulai memengaruhi kualitas udara di beberapa wilayah Malaysia. 

Baca Juga: Bekerja dari Rumah Bukan Berarti Menganggur, Kisah Para Remote Worker di Era Digital

Selain meningkatnya kasus gangguan pernapasan, kualitas udara di tujuh wilayah Malaysia tercatat berada dalam kategori tidak sehat hingga Minggu (23/8/2026). Lima wilayah di antaranya berada di Sarawak, yakni Serian dengan angka Indeks Polutan Udara (API) 197, Kuching 185, Sri Aman 178, Samarahan 176, dan Sarikei 128. Dua wilayah lain yang terdampak berada di Sungai Petani, Kedah, serta Taiping, Perak, dengan masing-masing API 126. 

Kondisi tersebut membuat pemerintah Malaysia mengeluarkan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Kelompok rentan, seperti penderita asma, anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan diminta membatasi aktivitas di luar ruangan.

Bagi warga yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan pelindung pernapasan juga dianjurkan untuk mengurangi paparan partikel polutan dari kabut asap. Pemerintah Malaysia meminta masyarakat segera mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gejala gangguan pernapasan. 

Baca Juga: Eks Kabid UKM Diskop Medan Divonis Bebas Perkara Korupsi MFF 2024

Fenomena kabut asap lintas batas ini kembali menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti di wilayah tempat api membakar hutan dan lahan. Asap yang terbawa angin dapat melintasi batas negara dan memengaruhi kehidupan masyarakat di kawasan yang jauh dari sumber kebakaran.

Di Indonesia sendiri, pemerintah juga terus melakukan penanganan dampak kesehatan akibat karhutla. Kementerian Kesehatan mencatat jutaan warga di sejumlah daerah terdampak paparan kabut asap dan mengerahkan tenaga kesehatan serta logistik untuk mengantisipasi peningkatan kasus gangguan pernapasan. 

Di media sosial, sejumlah warganet menyoroti kembali persoalan karhutla yang setiap tahun menghadirkan dampak luas. Sebagian mengingatkan bahwa persoalan asap bukan hanya tentang kebakaran di satu wilayah, tetapi menyangkut kesehatan masyarakat lintas negara. Ada pula yang berharap penanganan karhutla dilakukan lebih serius agar kejadian serupa tidak terus berulang.(lin)

Editor : Redaksi
Asap Lintas Negara kabut asap kesehatan masyarakat kebakaran hutan karhutla