Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat, AS Diminta Akhiri Perang di Timur Tengah

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 11:03 WIB
Selat Hormuz. (hidayahtulah)
Selat Hormuz. (hidayahtulah)

 

TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com – Iran memasang syarat tegas untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan dan distribusi minyak dunia.

Teheran meminta Amerika Serikat (AS) menghentikan perang serta operasi militer di sejumlah wilayah Timur Tengah sebagai bagian dari kesepakatan terkait lalu lintas pelayaran di selat tersebut.

“Setiap kesepakatan dengan Washington terkait Selat Hormuz harus mencakup penghentian perang dan operasi militer di Gaza, Lebanon serta Suriah,” kata Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, dalam wawancara dengan media Lebanon, Al Manar TV.

Baca Juga: Cagliari vs Inter Milan: Nerazzurri Siap Mengamuk, Prediksi Skor 1-3

Menurut Rezaei, kondisi Selat Hormuz tidak dapat dipisahkan dari konflik regional yang lebih luas. Karena itu, pembahasan mengenai jalur pelayaran tersebut harus ditempatkan dalam konteks situasi keamanan di Timur Tengah.

Iran Beri Izin Terbatas

Iran saat ini masih memberikan akses terbatas bagi kapal yang hendak melintasi Selat Hormuz.

Koridor sementara tersebut menjadi satu-satunya jalur yang masih dibuka bagi sebagian lalu lintas pelayaran. Namun, Teheran belum memberikan kepastian mengenai kapan akses penuh dapat kembali normal.

Rezaei menegaskan, AS perlu menunjukkan keseriusan dalam menjalankan komitmen yang disepakati sebelum kepercayaan antara kedua pihak dapat dibangun kembali.

Dia mengatakan, masa depan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akan sangat bergantung pada perkembangan kesepahaman antara Teheran dan Washington.

Baca Juga: Jangan Simpan Apel Sembarangan! 5 Makanan Ini Bisa Cepat Rusak

Sikap tersebut menunjukkan bahwa Iran menjadikan akses terhadap jalur strategis itu sebagai bagian dari tekanan diplomatik di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.

Washington Pilih Tekanan Ekonomi

Di sisi lain, pemerintah AS belum menunjukkan ketertarikan untuk membuka kembali perundingan dengan Iran.

Presiden Donald Trump disebut tidak lagi tertarik menggunakan kerangka kesepakatan Juni yang sebelumnya sempat berperan dalam menghentikan perang antara AS dan Iran.

Washington kini memilih mengandalkan strategi tekanan ekonomi untuk menghadapi Teheran.

AS bahkan meluncurkan kampanye dengan mengancam negara-negara yang masih melakukan aktivitas bisnis dengan Iran.

Baca Juga: Liverpool Rebut Bradley Barcola dari PSG, Tebus Rp2,7 Triliun

Kebijakan tersebut menandai pendekatan berbeda dari jalur diplomasi yang sebelumnya sempat ditempuh. Sementara Iran menjadikan penghentian operasi militer di kawasan sebagai salah satu syarat utama, Washington justru memperkuat tekanan ekonomi untuk memengaruhi sikap Teheran.

Persimpangan kepentingan tersebut membuat masa depan Selat Hormuz masih menjadi salah satu titik paling sensitif dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.

Bagi dunia internasional, perkembangan di kawasan itu tidak hanya menyangkut keamanan regional. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global, sehingga setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap rantai pasok dan perekonomian dunia. (jpc/han)

Editor : Johan Panjaitan
amerika serikat timur tengah selat hormuz iran