KATHMANDU, Sumutpos.jawapos.com – Banjir bandang dahsyat yang menerjang Nepal pada 26 Agustus meninggalkan krisis kemanusiaan yang belum sepenuhnya terpetakan. Hingga kini, 3.048 orang masih dinyatakan hilang, sementara pemerintah mengakui masih kesulitan mengumpulkan data lengkap mengenai korban jiwa, kerusakan bangunan, hingga infrastruktur yang terdampak.
Bencana tersebut dipicu gelombang besar yang membawa es, bebatuan dan puing-puing, menerjang sejumlah desa dan kawasan permukiman. Dampaknya meluas hingga wilayah Tibet, China.
Sedikitnya 797 orang dilaporkan meninggal dunia di Nepal dan Tibet akibat bencana tersebut.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menggambarkan situasi yang dihadapi negaranya sebagai bencana dengan skala yang sulit dibayangkan.
Baca Juga: Dapur Minyak Ilegal Terbakar Hebat di Langkat, Polisi Pasang Garis Polisi dan Buru Pengelola
“Negara kami sedang menghadapi bencana alam yang tak terbayangkan dan sangat menyayat hati,” kata Shah dalam unggahan di media sosial, Minggu (30/8) malam.
Menurut Shah, derasnya banjir di sepanjang Sungai Bhote Koshi, Rasuwa, membuat proses pencarian sekaligus pendataan korban dan kerusakan menjadi jauh lebih kompleks.
Bukan hanya jumlah korban yang belum ditemukan, pemerintah juga harus bekerja dalam kondisi medan yang porak-poranda untuk mengetahui seberapa besar kerusakan properti dan infrastruktur yang ditimbulkan.
Cuaca Buruk Persempit Ruang Pencarian
Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi tantangan berlapis.
Cuaca buruk, medan yang sulit dijangkau serta ancaman bencana susulan membuat tim penyelamat harus bekerja dalam situasi penuh risiko.
Di antara ribuan orang yang masih belum ditemukan, terdapat sejumlah wisatawan dan peziarah yang tengah melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet.
Situasi tersebut membuat pencarian tidak hanya menjadi persoalan domestik Nepal. Banyak keluarga masih menunggu kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka, sementara informasi dari sejumlah wilayah terdampak belum dapat dihimpun secara utuh.
“Meski tugas ini tetap menantang karena cuaca buruk, medan yang sulit, dan risiko yang terus berlanjut, kami terus maju dengan tekad untuk melindungi nyawa warga,” ujar Shah.
Baca Juga: Aghniny Haque Sampai Klaustrofobia, Adegan Dikubur di Film Ini Ternyata Bikin Tegang
Pernyataan tersebut menggambarkan kondisi operasi di lapangan yang masih jauh dari selesai. Fokus pemerintah kini bukan hanya menemukan korban, tetapi juga memastikan wilayah terdampak dapat dijangkau dan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Bencana Datang Saat Ekonomi Tertekan
Di luar persoalan kemanusiaan, bencana tersebut juga menempatkan pemerintah Nepal pada tantangan ekonomi yang berat.
Shah yang berusia 36 tahun kini harus menghadapi pekerjaan besar: menangani dampak langsung bencana sekaligus memulihkan permukiman dan infrastruktur penting yang rusak.
Persoalannya, kemampuan pemerintah untuk bergerak cepat dibatasi kondisi ekonomi Nepal yang sedang menghadapi tekanan.
Skala kerusakan yang belum sepenuhnya terdata membuat pemerintah menghadapi persoalan ganda. Di satu sisi, kebutuhan penanganan terus meningkat. Di sisi lain, sumber daya yang tersedia terbatas.
Karena itu, pemulihan diperkirakan tidak akan menjadi pekerjaan singkat. Pemerintah harus memprioritaskan penyelamatan, membuka akses ke wilayah terisolasi, memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak dan secara bertahap membangun kembali fasilitas yang rusak.
Shah Serukan Persatuan
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya terkendali, Shah menyerukan persatuan dan kerja sama masyarakat.
Menurutnya, penanganan bencana dengan skala sebesar ini tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai elemen masyarakat untuk membantu proses penyelamatan dan pemulihan.
“Kita akan berhasil mengatasi krisis ini melalui persatuan dan upaya bersama kita,” kata Shah.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan