Lawan Keengganan Anak ke Sekolah setelah Libur Panjang, Jangan Menyerah!

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 12:30 WIB
 ilustrasi, anak usia sekolah kadang enggan kembali ke sekolah usai libur panjang. (pexels.com)
ilustrasi, anak usia sekolah kadang enggan kembali ke sekolah usai libur panjang. (pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Kadang, ketika libur panjang usai, ada keengganan anak untuk kembali bersekolah. Mungkin, sudah terbiasa tak pakai seragam.

Lalu, apakah Anda sebagai orang tua akan menyerah dengan tingkah mereka? Padahal, Anda sudah bayar uang sekolah, membeli segala perlengkapan, dan sebagainya.

Melansir Parents, Selasa (28/7/2026), sebenarnya, anak mogok sekolah adalah hal yang wajar terjadi dan bisa dialami oleh anak dari berbagai usia dan tingkat pendidikan.

Hampir setiap anak pasti pernah mengalami benci sekolah atau malas pergi ke sekolah. Alasannya bisa beragam, seperti kurang motivasi, lelah secara mental, atau tak suka dengan gaya pertemanan di sekolahnya.

Baca Juga: 5 Zodiak yang Paling Lama Menemukan Cinta Sejati, Apakah Anda Salah Satunya?

Nah, berikut ini cara mengatasi anak mogok sekolah sesuai dengan usia dan tingkat pendidikannya.

1. Usia taman kanak-kanak
Anak-anak usia taman kanak-kanak atau TK sering merasa lelah atau kewalahan dengan lingkungan baru. Mereka juga mungkin kesulitan berpisah dari orang tua.

Menurut psikolog Anne Welsh, ketika anak usia TK menunjukkan penolakan, yang sebenarnya mereka inginkan adalah koneksi atau kepastian.

"Menambahkan momen-momen kecil untuk menjalin koneksi sebelum atau sesudah sekolah dapat membuat perbedaan besar," saran Welsh.

Baca Juga: Kalapas Labuhan Ruku Serap Aspirasi Warga Binaan Lewat Program "Sapa Tanya", Perkuat Pelayanan Humanis dan Kondusivitas Lapas

Sanam Hafeez, ahli neuropsikologi di New York, juga menyarankan orang tua untuk membuat rutinitas pagi yang mencakup elemen sama setiap hari. Misalnya, sarapan bersama atau salam khusus yang lucu sebelum keluar rumah.

2. Usia sekolah dasar
Anak-anak di usia SD mulai merasakan kemandirian dan mungkin mulai tidak suka dengan materi pelajaran atau lingkungan sosialnya.

Hafeez mengatakan, memberikan anak kesempatan untuk terlibat dalam keputusan sehari-hari, seperti memilih bekal makan siang, dapat meningkatkan rasa kontrol dan motivasi mereka.

Orang tua juga dianjurkan untuk menanyakan hal-hal terbuka tentang pengalaman sekolah anak.

Baca Juga: Verstappen Bersinar di Hungaria, Namun Krisis Performa Red Bull Belum Usai

Monica Barreto, Direktur Klinis Kesehatan Perilaku di Nemours Children's Health, mendorong orang tua untuk fokus membentuk kebiasaan tidur yang sehat pada anak. Salah satunya, dengan mengurangi penggunaan teknologi di malam hari.

3. Usia sekolah menengah pertama
Masa SMP merupakan periode yang lebih kompleks. Anak mulai menghadapi tekanan akademik yang lebih berat, drama pertemanan, dan mungkin ketertarikan romantis pertama.

Pada tahap ini, penting bagi orang tua untuk menjadi tempat yang aman bagi anak agar mereka merasa nyaman berbagi masalah.

Baca Juga: Bupati Baharuddin Pimpin Tepung Tawar Jemaah Haji, Tekankan Peningkatan Layanan Haji Batu Bara

Selain itu, orang tua bisa membantu anak mengaitkan pelajaran dengan minat dan passion mereka agar sekolah terasa lebih bermakna dan relevan.(lin)

Editor : Redaksi
Tips Orangtua Anak Mogok Sekolah anak sekolah libur panjang parenting