Sumutpos.jawapos.com– Keramas menjadi bagian penting dalam menjaga kebersihan rambut dan kulit kepala. Namun, semakin sering mencuci rambut bukan berarti semakin baik.
Kulit kepala secara alami memproduksi sebum atau minyak yang berfungsi menjaga kelembapan sekaligus melindungi rambut. Jika keramas dilakukan terlalu sering, minyak alami tersebut bisa ikut terangkat sehingga rambut berisiko menjadi kering, kasar, dan lebih mudah rapuh.
Salah satu pola yang dapat dicoba adalah memberi jeda sekitar tiga hari sebelum kembali keramas. Jeda ini memungkinkan minyak alami tetap berada di kulit kepala, sekaligus memberi waktu bagi rambut untuk mempertahankan kelembapannya.
Baca Juga: Epson Indonesia Gelar Customer Day Serentak di 50 Lokasi, Perkuat Layanan dan Kedekatan dengan Pelan
Meski begitu, keramas tetap diperlukan untuk mengangkat kotoran, keringat, minyak berlebih, serta sisa produk perawatan dan penataan rambut.
Dilansir dari English Jagran, berikut empat manfaat yang dapat diperoleh dari pola keramas setiap tiga hari sekali.
1. Menjaga Minyak Alami Rambut
Sebum yang diproduksi kulit kepala bukan sekadar minyak. Zat alami ini membantu menjaga rambut tetap lembap dan memberikan perlindungan pada batang rambut.
Dengan memberi jeda beberapa hari sebelum keramas, minyak alami tersebut memiliki kesempatan untuk tetap melapisi rambut. Sebaliknya, mencuci rambut terlalu sering dapat membuat kulit kepala kehilangan terlalu banyak minyak sehingga terasa kering.
Baca Juga: Sering Doomscrolling Sebelum Tidur? Coba 5 Kebiasaan Ini agar Tidur Lebih Nyenyak
2. Membantu Mengontrol Penumpukan Produk
Serum, gel, hairspray, dan berbagai produk penataan rambut dapat meninggalkan residu pada kulit kepala maupun batang rambut.
Jika rambut terlalu jarang dibersihkan, residu tersebut bisa menumpuk dan membuat rambut terasa berat atau kulit kepala menjadi kurang nyaman.
Karena itu, keramas secara teratur tetap dibutuhkan. Jeda sekitar tiga hari dapat menjadi salah satu cara untuk menyeimbangkan kebutuhan membersihkan rambut tanpa terlalu sering menghilangkan minyak alaminya.
3. Mengurangi Paparan yang Bisa Memicu Kerusakan
Keramas bukan hanya soal sampo dan air. Rambut juga mengalami gesekan ketika dicuci, disisir, dan dikeringkan.
Jika proses tersebut dilakukan terlalu sering atau dengan cara yang kasar, batang rambut dapat mengalami tekanan berulang. Mengurangi frekuensi keramas memberi rambut jeda dari rangkaian proses tersebut.
Baca Juga: Siap Jadi Kaya Raya? Ini 5 Zodiak yang Paling Serius Mengejar Kesuksesan Finansial
Namun, cara mencuci dan mengeringkan rambut tetap menjadi faktor penting. Menggosok rambut terlalu kuat atau menggunakan panas berlebihan saat mengeringkannya justru dapat meningkatkan risiko kerusakan.
4. Membantu Mempertahankan Kelembapan Rambut
Tujuan utama keramas adalah membersihkan minyak dan kotoran berlebih. Masalahnya, keramas terlalu sering dapat ikut mengangkat minyak alami yang sebenarnya dibutuhkan rambut untuk mempertahankan kelembapan.
Memberikan jeda beberapa hari dapat membantu menjaga keseimbangan tersebut. Rambut tetap mendapatkan pembersihan yang cukup, sementara minyak alami memiliki kesempatan untuk menjalankan fungsinya.
Tak Ada Aturan yang Berlaku untuk Semua Orang
Meski keramas setiap tiga hari sekali dapat menjadi pilihan, pola ini bukan aturan mutlak untuk semua orang.
Kebutuhan keramas sangat bergantung pada jenis rambut dan kondisi kulit kepala. Rambut yang mudah berminyak tentu memiliki kebutuhan berbeda dibandingkan rambut kering atau keriting. Aktivitas sehari-hari, intensitas berkeringat, lingkungan, hingga penggunaan produk rambut juga perlu dipertimbangkan.
Baca Juga: Polres Sergai Ringkus 5 Pelaku Sabu di 3 Lokasi Perbaungan
Karena itu, yang paling penting bukan sekadar mengikuti hitungan tiga hari, melainkan mengenali kebutuhan rambut sendiri.
Jika kulit kepala terasa sangat berminyak, gatal, berketombe, atau rambut mulai terasa tidak nyaman, frekuensi keramas mungkin perlu disesuaikan.(jpc/han)
Editor : Johan Panjaitan