Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kenali 10 Tanda-tanda Inner child Terluka, Mungkin Anda Pernah Mengalaminya

Johan Panjaitan • Jumat, 29 November 2024 | 13:08 WIB
ILUSTRASI
ILUSTRASI

SUMUTPOS.CO - Inner child adalah istilah yang digunakan dalam psikologi dan self-help untuk menggambarkan karakter diri seseorang yang merupakan refleksi dari masa kecil mereka, baik itu pengalaman positif maupun negatif.

Namun, pengalaman masa kecil yang negatif sering kali menyebabkan seseorang secara tidak sadar memiliki inner child yang terluka sehingga akhirnya membekas dalam dirinya. Ketika inner child mengalami luka atau trauma pada masa kecil, hal ini dapat berdampak negatif pada kehidupan seseorang sebagai orang dewasa.

Memulihkan inner child yang terluka membutuhkan waktu, tapi sebaiknya Anda terlebih dulu mengenali tanda-tanda inner child terluka.

Dirangkum dari berbagai sumber, berikut tanda inner child memiliki luka yang belum sembuh:

1. Sangat terikat dengan orang tertentu karena merasa takut ditinggalkan.
Orang-orang yang takut ditinggalkan, selalu menuntut bukti kesetiaan dan komitmen orang lain. Hal ini dapat menjadi masalah, karena perilaku dan tindakan orang tersebut terlalu dipengaruhi oleh konsep di masa lalunya dan mengaburkan fakta yang sebenarnya terjadi di masa kini saat orang tersebut menjalani hubungan.

2. Merasa bersalah jika memberikan suatu batasan dari diri sendiri kepada orang lain.
Rasa bersalah adalah penyesalan atau beban tanggung jawab yang dihadapi orang setelah mereka melakukan kesalahan. Rasa bersalah adalah hal yang wajar. Kecuali jika perasaan ini muncul tanpa ada alasan yang jelas. Misalnya, ketika Anda merasa bersalah ketika tidak melakukan kesalahan.

Itu bisa menjadi pertanda masalah serius seperti depresi atau kecemasan. Bisa jadi hal tersebut juga adalah tanda inner child terluka akibat sering dibuat merasa bersalah di masa kecil. Serta, Anda tidak pernah sembuh darinya.
Sengaja atau tidak, terkadang orang dewasa membuat anak-anak merasa bertanggung jawab atas hal-hal di luar kendali mereka, dan hasilnya adalah emosi bersalah yang tidak perlu.
Sulit menyelesaikan suatu aktivitas.

3. Tidak berani beropini dan menunjukkan perasaan yang sebenarnya.
Jika di masa kecil Anda sering dibohongi, dicurangi, atau dimanipulasi, ada kecenderungan bagi Anda untuk mempertanyakan niat orang lain. Dengan kata lain, Anda menjadi sangat mudah curiga atau suudzon.
Hal tersebut merupakan mekanisme bertahan dari rasa sakit atau kekecewaan akibat dikhianati orang lain. Namun, kecurigaan yang berlebihan dapat merusak suatu relasi yang sehat. Tidak semua orang berencana untuk berbuat jahat kepada Anda. Dan menolak untuk percaya kepada orang yang benar-benar tulus, akan menjauhkan Anda dari hubungan yang sehat. Jika merasa memiliki trust issue yang berlebihan, cobalah untuk mengingat kembali apakah di masa kecil Anda sering dibohongi atau dimanipulasi oleh orang lain.

4. Takut menetapkan dan menegakkan batasan privasi

Batas adalah aturan yang kita buat dalam pikiran kita sendiri tentang seberapa jauh kita mengizinkan orang lain “masuk” dalam kehidupan kita agar kita dapat merasa nyaman. Orang yang memiliki inner child yang terluka terkadang kesulitan menetapkan batasan dan menegakkannya. Contohnya adalah people pleaser. Jika Anda tidak dapat mengatakan "tidak" atas permintaan orang lain yang mengganggu kenyamanan Anda, kemungkinan besar Anda termasuk dalam golongan people pleaser.

Bisa jadi karena Anda sungkan menyakiti perasaan orang lain atau mungkin Anda hanya tidak pandai mengungkapkan pikiran Anda. Bagaimanapun itu terwujud dalam diri Anda, itu sering kali merupakan tanda dari inner child yang terluka.

5. Terlalu mudah marah adalah tanda inner child terluka

Kemarahan adalah emosi yang wajar dirasakan oleh setiap orang pada satu titik tertentu. Ada banyak alasan untuk marah, mulai dari yang besar hingga yang kecil. Dalam beberapa kasus, bisa merasakan dan mengungkapkan kemarahan adalah suatu tanda kecerdasan emosi.

Namun, ketika seseorang berulang kali tidak mampu bersikap tenang dan kehilangan kendali dalam mengelola emosi, itu adalah tanda bahwa ada masalah yang lebih dalam.

Marah yang berlebihan bisa merupakan tanda adanya inner child yang terluka akibat pada masa kecil mengalami ketidakadilan dan peristiwa yang membuat frustasi, tapi tidak dapat mengungkapkannya. Dengan kata lain, ada amarah yang terpendam sekian lama di dalam alam bawah sadar.

Ketika sedang marah, cobalah untuk introspeksi diri, apakah marah yang Anda lakukan adalah kemarahan yang wajar atau merupakan ketidakmampuan mengendalikan diri tanda inner child yang terluka?

6. Kesulitan “melepaskan sesuatu” yang telah berlalu

Apakah Anda terus memikirkan argumen lama yang telah selesai? Apakah Anda merenungkan hal-hal buruk yang terjadi meskipun tahu akan lebih bahagia jika move on? Atau apakah Anda terus mempertahankan hal-hal yang sudah berakhir karena merasa lebih aman daripada menerima kenyataan?

Kesulitan “melepaskan sesuatu” yang telah berlalu juga merupakan salah satu tanda inner child terluka. Anda perlu mewaspadainya jika terus menerus merasakan hal demikian.

7. Tanda inner child terluka lainnya adalah takut menyatakan pendapat pribadi

Banyak orang merasa takut menyatakan pendapat pribadinya karena merasa pendapat pribadinya tidak penting, takut dihakimi, dan tidak akan dihargai oleh orang lain. Hal ini bisa jadi karena pola pengasuhan orang tua yang otoriter di masa lalu.

Anak terbiasa mengikuti aturan, arahan, dan rencana orang tua tanpa diberi kesempatan untuk berdiskusi dan menentukan pilihan. Hasilnya adalah, anak jadi tumbuh dewasa dengan rasa takut untuk merencanakan, berpendapat, dan mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.

5. Terdapat suatu kecenderungan untuk mencurigai orang lain.
6. Tidak ingin terlibat dalam suatu konflik.
7. Tidak percaya diri (insecure) dengan bentuk tubuh sendiri.
8. Cemas ketika berhadapan dengan hal-hal baru.
9. Selalu berusaha keras untuk menjadi yang terdepan.
10. Selalu berusaha untuk menyenangkan orang lain.

Nah, bagaimana cara menyembuhkan Inner Child yang Terluka? Seseorang yang memiliki luka membekas dari pengalaman atau trauma di masa kecil dapat melakukan beberapa cara mengatasi inner child yang terluka seperti berikut ini:

1. Memahami Trauma Masa Kecil

Langkah awal dalam menyembuhkan inner child yang terluka adalah mengingat kembali apa saja hal di masa lalu yang meninggalkan luka mendalam. Perlu diketahui, penyebab luka pada inner child seseorang dapat berbeda dengan orang lainnya mengingat pengalaman hidup setiap individu juga berbeda-beda. Sebaiknya, konsultasikan langsung ke psikolog atau dokter spesialis kejiwaan (psikiater) untuk mengetahui penyebab trauma di masa kecil sehingga dapat ditangani dengan tepat.

2. Menerima Inner Child
Inner child adalah jiwa anak kecil yang tidak bisa disamakan dengan sikap kekanak-kanakan. Bagian dari diri seseorang ini menyimpan pengalaman dan emosi dari masa kecil. Untuk menerima inner child yang dimiliki, seseorang bisa memulainya dengan mengakui keberadaan jiwa anak kecil yang ada di dalam dirinya.

3. Memperhatikan Diri Sendiri
Inner child adalah bagian dalam diri yang tidak hanya unik, namun juga polos. Untuk menyembuhkan inner child yang terluka, disarankan untuk memperhatikan kondisi mental diri sendiri dengan melakukan meditasi dan menulis jurnal pribadi agar dapat membantu meringankan rasa sakit yang dimiliki.

4. Memeluk Diri Sendiri
Pelukan hangat untuk diri sendiri dapat memberikan perasaan nyaman dan bisa membantu menyembuhkan inner child dari trauma masa kecil.

5. Mengingat Kenangan Bahagia
Cobalah secara perlahan untuk melupakan semua kenangan buruk dengan berfokus pada kenangan-kenangan yang bahagia. Cara ini diketahui dapat memberikan pengaruh positif kepada diri sendiri. Lakukan kegiatan ini secara rutin untuk memperoleh hasil yang maksimal.(bbs/han)

Editor : Redaksi
#inner child