Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Solusi Baru JEC: Metode Ganti Lensa Alami untuk Atasi Mata Tua

Johan Panjaitan • Kamis, 7 Agustus 2025 | 21:25 WIB
Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K), Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics dan Mubadiyah, S.Psi, MM, Kepala  Divisi Marketing and Communication JEC Group sesi JEC
Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K), Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics dan Mubadiyah, S.Psi, MM, Kepala Divisi Marketing and Communication JEC Group sesi JEC


JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-JEC Eye Hospitals and Clinics memperkenalkan prosedur Refractive Lens Exchange (RLE) berupa penggantian lensa mata yang bertujuan mengurangi kebutuhan kacamata/lensa kontak pada gelaran acara yang bertema " Merdeka dari Kacamata Diusia Emas" yang berlokasi di RS Mata JEC Kedoya, Jakarta Barat (7/8/2025).

Diperkuat teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang berpresisi tinggi dan minim risiko, prosedur RLE memungkinkan kalangan pasien presbiopia segera terbebas dari ketergantungan berkacamata atau menggunakan lensa kontak.

Presbiopia atau mata tua mengancam sekitar 86,3 juta populasi di Indonesia, yakni penurunan kemampuan akomodasi lensa mata yang menyebabkan kesulitan melihat benda dekat.

Penggunaan kacamata dianggap sebagai solusi lazim bagi para penyandangnya, namun sayangnya berpotensi menghambat aktivitas, bahkan menurunkan kualitas hidup.

Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K), Dokter Subspesialis Katarak, Lensa dan Bedah Refraktif JEC Eye Hospitals and Clinics sekaligus Kepala Klinik Utama Mata JEC mengatakan, “Prevalensi presbiopia secara global terus meningkat seiring bertambahnya harapan hidup dan intensitas tuntutan penglihatan dekat di era modern, seperti penggunaan ponsel.

"Padahal kalangan 45 tahun ke atas biasanya mulai menjalani usia emas lantaran berada di puncak periode produktif, atau sedang menikmati masa senior bersama keluarga. Lebih dari sekadar membatasi aktivitas keseharian, presbiopia bisa berdampak secara psikologis, bahkan ekonomi.”kata Nashrul.

Prevalensi presbiopia pada usia 45 tahun ke atas mencapai 83 persen

Sejumlah penelitian mengungkapkan, bahwa pasien presbiopia baik di negara berpenghasilan tinggi maupun rendah mengalami penurunan kualitas hidup.
Presbiopia yang tidak terkoreksi mengakibatkan penderita dua kali lebih sulit melakukan tugas-tugas yang membutuhkan penglihatan jarak dekat.

Kesulitan ini meningkat hingga delapan kali lipat untuk tugas penglihatan jarak dekat yang sangat intens.

Terlebih lagi, 12 persen pasien presbiopia memerlukan bantuan dalam menjalankan tugas rutin, yang pada akhirnya dapat memicu tekanan mental dan penurunan harga diri.

Presbiopia memiliki gejala khas yang mudah dikenali dalam keseharian, antara lain kesulitan melihat objek atau tulisan pada jarak dekat.

Secara naluriah, penderitanya akan menjauhkan objek tersebut agar dapat terlihat/terbaca dengan lebih jelas.

Kondisi ini sering disertai dengan gejala sekunder berupa kelelahan mata, sakit kepala setelah membaca atau melakukan pekerjaan detail dengan fokus pandangan jarak dekat (seperti memasukkan benang ke jarum atau membaca label barang berhuruf kecil).

Presbiopia juga membuat penderita membutuhkan pencahayaan yang lebih terang saat membaca. Gejala-gejala ini umumnya mulai muncul secara bertahap pada usia 40-an dan menjadi semakin nyata setelah usia 45 tahun, sejalan dengan proses penurunan kemampuan akomodasi lensa mata yang merupakan bagian alami dari proses penuaan.


“Imbas presbiopia melibatkan komponen psikologis karena penyandangnya menganggap opsi kacamata bifokal sangatlah tidak menarik, dan seolah menandai penuaan. Sementara, rata-rata penderita presbiopia masih menjalani gaya hidup aktif sehingga penggunaan kacamata dapat menghalangi performa dalam beraktivitas. RLE menjadi prosedur ideal bagi mereka yang tidak nyaman mengenakan kacamata dan menginginkan solusi jangka panjang,” ungkap Dr. Nashrul.

RLE merupakan prosedur penggantian lensa alami mata yang sudah tidak berfungsi optimal dengan lensa tanam (intraokular lens/IOL).

Keandalan prosedur RLE tak hanya efektif untuk mengoreksi presbiopia, tetapi juga gangguan refraksi lainnya, seperti mata minus (miopia), mata plus (hipermetropia), dan silinder (astigmatisme) hanya dalam satu tindakan.

Dr. Nashrul Ihsan, Sp.M(K). menambahkan, “RLE sangat direkomendasikan untuk pasien yang mengalami perubahan penglihatan akibat proses penuaan. Bukan itu saja, RLE juga menjadi satu-satunya pilihan dalam kasus-kasus khusus yang sudah tak tertangani LASIK atau SMILE Pro. Misalnya, penderita miopia ekstrem dengan kondisi minus 20.”

Keunggulan lain RLE, dari tingkat keberhasilan tindakan, rasionya mencapai 98,5 persen. Risiko 1,5 persen komplikasi operasi biasanya bisa dikoreksi dengan operasi lanjutan.

Penerapan prosedur RLE di jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics diperkuat teknologi Femtosecond Laser-Assisted Cataract Surgery (FLACS) yang berpresisi tinggi dan minim risiko, dengan waktu pemulihan yang lebih cepat.

Tindakan RLE berbasis FLACS cenderung cukup singkat (berkisar 10-15 menit per mata).

Dalam tata laksana prosedur RLE, pemilihan lensa tanam mengombinasikan kebutuhan visual pasien secara personal dan rekomendasi dokter spesialis mata, demi mencapai hasil penglihatan yang optimal - sesuai gaya hidup masing-masing pasien.

Ragam pilihan teknologi lensa tanam meliputi:

Lensa Multifocal hadir menyempurnakan hasil kualitas penglihatan pada operasi katarak. IOL ini mampu menghilangkan gangguan kacamata presbiopia, miopia dan hiperopia dalam satu kali tindakan sehingga penglihatan dekat untuk membaca, penglihatan menengah seperti aktivitas menggunakan komputer serta penglihatan jauh akan lebih baik tanpa perlu menggunakan kacamata setelah tindakan operasi katarak.

IOL Extended Depth of Focus (EDOF) yang menyerupai lensa Multifocal, lensa ini memberikan penglihatan yang lebih alami dengan jangkauan jelas dari jarak jauh hingga menengah lebih dominan dibanding penglihatan dekatnya.

IOL Monofocal yakni Lensa Non-Aspheric - bekerja untuk mengoreksi gangguan rabun jauh, tetapi masih mempunyai aberasi atau bias yang tinggi.

Lensa Aspheric yang memberikan kualitas penglihatan melalui kontras warna yang lebih baik dibanding lensa Non-Aspheric.

Lensa Monofocal Plus yang tak hanya memperbaiki penglihatan jauh, lensa ini juga dapat mengakomodir hingga penglihatan menengah, seperti kegiatan menggunakan komputer, memasak, bercermin.

IOL Toric yang berfungsi untuk mengoreksi gangguan kacamata astigmatisme atau silindris dalam satu prosedur operasi.

Mubadiyah, S.Psi, MM, Kepala Divisi Marketing and Communication JEC Group, menyatakan, hadirnya RLE mencerminkan kepeloporan JEC dalam menyediakan solusi kesehatan mata di Indonesia yang berbasis teknologi mutakhir dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien. Seluruh proses dilakukan dengan pendekatan individual guna memastikan pasien mendapatkan penanganan yang selaras dengan kondisi mata dan gaya hidup mereka.

"Kami optimistis, melalui RLE dan FLACS, masyarakat Indonesia usia 45 tahun ke atas, khususnya penyandang presbiopia ataupun gangguan refraksi lainnya, memiliki opsi untuk mendapatkan kembali penglihatan yang nyaman dan produktivitas yang optimal sehingga lebih berdaya menjalani usia emasnya dengan berkualitas." kata Mubadiyah.(ari/han)

Editor : Johan Panjaitan
#lensa mata #prosedur #jec