sumutpos.jawapos.com - Cara gampang dan cepat menurunkan berat badan adalah dengan obat-obatan. Namun, para ahli menyebut hal itu bukanlah solusi terbaik melawan obesitas.
Cara instan melawan obisitas dengan penggunaan obat-obatan penurun berat badan cenderung seperti bumerang, bisa jadi gemuk lagi dengan cepat ketika obat dihentikan.
Setidaknya, soal obesitas dan efek obat penurun berat badan ini, disampaikan oleh ahli dari University of Oxford dan University of Cambridge.
Melansir EuroNews, Senin (11l2/1/2026), ini terkait dengan penggunaan obat-obatan penurun berat badan golongan glucagon-like peptide-1 (GLP-1) seperti Ozempic, Wegovy, hingga Mounjaro.
"Saat Anda menjalani program diet (alami), Anda harus bekerja keras mengendalikan nafsu makan dan mempelajari strategi untuk menolak makanan," ujar Susan Jebb, profesor diet dan kesehatan populasi di University of Oxford.
Kalimat Jebb mengarah pada sebuah studi terbaru yang memberikan peringatan keras, berat badan bisa kembali melonjak drastis setelah pengobatan dihentikan.
Riset yang dilakukan oleh University of Oxford dan dipublikasikan dalam jurnal BMJ menemukan bahwa pasien yang berhenti menggunakan obat-obatan ini cenderung kembali ke berat badan asal hanya dalam waktu kurang dari dua tahun.
Hal yang lebih mengejutkan, studi ini mengungkapkan bahwa berhenti mengonsumsi obat mengalami kenaikan berat badan hampir empat kali lipat lebih cepat dibandingkan orang yang menurunkan berat badan melalui perubahan pola makan dan aktivitas fisik secara alami.
Ini karena obat-obatan GLP-1 bekerja dengan meniru hormon yang menekan rasa lapar secara instan.
Jadi, ketika bantuan medis ini hilang, tubuh seringkali belum siap secara perilaku maupun biologis untuk menjaga kondisi tersebut.
Selain risiko berat badan balik (efek yoyo), riset dari University of Cambridge yang diterbitkan di jurnal Obesity Reviews menyoroti bahaya lain yakni penurunan kualitas nutrisi.
Tanpa bimbingan gizi yang tepat, pengguna obat diet berisiko mengalami kekurangan nutrisi dan kehilangan massa otot yang signifikan.
Studi ini menyebutkan bahwa massa tubuh tanpa lemak, termasuk otot, dapat mencakup hingga 40 persen dari total berat badan yang hilang selama pengobatan.
Para ahli menekankan bahwa obat-obatan ini bukanlah solusi instan yang bisa ditinggalkan begitu saja.
Diperlukan dukungan medis dan nutrisi jangka panjang untuk memastikan berat badan yang turun tetap stabil dan tubuh tetap sehat.
"Ada risiko kita mengganti satu masalah kesehatan dengan masalah kesehatan lainnya," ungkap Marie Spreckley, penulis utama studi Cambridge. (lin)
Editor : Redaksi