sumutpos.jawapos.com - Menulis kerap dianggap sekadar aktivitas kreatif atau sarana menuangkan ide. Namun bagi sebagian orang, menulis adalah ruang aman, tempat luka lama diberi nama, emosi yang terpendam dilepaskan, dan trauma perlahan dipahami. Inilah yang tercermin dari buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans.
Lewat Broken Strings, Aurelie tidak sedang membangun fiksi atau mencari sensasi. Ia menulis untuk dirinya sendiri, sebagai upaya berdamai dengan masa lalu yang penuh manipulasi emosional dan pengalaman grooming yang dialaminya saat remaja. Proses menulis itu sendiri menjadi bentuk terapi emosional, sebuah perjalanan batin untuk mengurai ingatan yang lama terbelit.
Melansir Healthline, Rabu (14/1/2026), dalam konteks psikologi, menulis dikenal sebagai expressive writing, yaitu teknik terapi yang membantu seseorang memproses pengalaman traumatis dengan cara menuliskannya secara jujur.
Ketika peristiwa traumatis hanya disimpan dalam ingatan, emosi sering kali muncul dalam bentuk kecemasan, rasa bersalah, atau kemarahan yang tidak jelas sumbernya.
Dengan menulis, seseorang dipaksa berhenti menghindar. Kata demi kata membuat luka menjadi konkret: terlihat, terbaca, dan pada akhirnya bisa dipahami. Hal ini juga terlihat dalam Broken Strings, di mana Aurelie tidak menampilkan dirinya sebagai korban yang pasif, melainkan sebagai individu yang berusaha mengerti apa yang pernah terjadi pada dirinya.
Salah satu kekuatan menulis sebagai terapi adalah kemampuannya mengubah kekacauan emosi menjadi narasi. Ketika pengalaman pahit ditulis dalam bentuk cerita, otak mulai menyusun sebab-akibat, konteks, dan makna. Proses ini membantu korban trauma melepaskan rasa bersalah yang sering tidak seharusnya mereka tanggung.
Dalam Broken Strings, pengalaman kelam tidak dituturkan secara sensasional. Justru melalui bahasa yang personal dan reflektif, pembaca diajak melihat bagaimana trauma terbentuk secara perlahan sering kali tersamar oleh rasa sayang, ketergantungan, dan manipulasi halus.
Menulis untuk Memulihkan Kendali
Trauma kerap membuat seseorang merasa kehilangan kendali atas hidupnya. Menulis menjadi cara untuk merebut kembali kendali tersebut. Saat seseorang memilih apa yang ingin diceritakan, sejauh mana detail dibuka, dan bagaimana akhir kisah ditulis, ia sedang memulihkan otoritas atas dirinya sendiri.
Keputusan Aurelie merilis Broken Strings secara mandiri, bahkan gratis, juga memperlihatkan aspek ini. Buku tersebut bukan sekadar konsumsi publik, melainkan pernyataan bahwa kisah hidupnya tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut atau tekanan sosial, seperti yang dilansir dari Instagram @aurelie, Rabu (14/1/2026).
Meski berangkat dari pengalaman personal, menulis sebagai terapi sering berdampak lebih luas. Pembaca yang memiliki pengalaman serupa dapat merasa “tidak sendirian”. Di sinilah tulisan berubah menjadi ruang empati bersama.
Banyak pembaca Broken Strings mengaku menemukan keberanian untuk mengakui luka mereka sendiri, atau setidaknya memahami bahwa relasi tidak sehat bisa dialami siapa saja, tanpa memandang usia dan latar belakang.
Menulis tidak serta-merta menyembuhkan trauma. Luka tidak lenyap hanya karena dituangkan ke dalam kata. Namun menulis membantu seseorang hidup berdampingan dengan luka tersebut tanpa terus disakiti olehnya.
Seperti Broken Strings, menulis sebagai terapi emosional bukan tentang mengungkit masa lalu tanpa tujuan, melainkan tentang memahami, memberi jarak, dan akhirnya melangkah dengan kesadaran baru. Dalam dunia yang sering menuntut korban untuk “cepat move on”, menulis menawarkan jalan yang lebih manusiawi: pelan, jujur, dan penuh penerimaan. (lin)
Editor : Redaksi