sumutpos.jawapos.com - Media sosial kembali ramai oleh perbincangan soal kesehatan. Kali ini, sorotan tertuju pada banyaknya dokter yang speak up meluruskan mitos penyakit GERD lewat berbagai platform digital. Dengan gaya penyampaian yang tegas, bahkan cenderung sarkastik, para dokter tersebut menarik perhatian publik dan memicu diskusi luas di ruang komentar.
Melansir Instagram @medicstory.id, Senin (26/1/2026), pola komunikasi baru para dokter di media sosial ini dinilai bergaya singkat, lugas, dan tanpa basa-basi menjadi penanda perubahan cara edukasi medis di era digital.
Berbagai mitos lama kembali dipatahkan. Mulai dari anggapan bahwa GERD semata-mata disebabkan telat makan, hingga keyakinan bahwa semua keluhan lambung bisa diselesaikan dengan obat instan. Dalam banyak unggahan dokter, sarkasme digunakan sebagai penekanan, bukan untuk meremehkan pasien, melainkan untuk membedakan fakta medis dari asumsi yang selama ini dipercaya tanpa dasar ilmiah.
Tercatat, respons publik terhadap gaya komunikasi tersebut sangat beragam. Sebagian warganet mengaku justru lebih mudah memahami pesan ketika disampaikan secara langsung dan “menampar”.
Fenomena ini menunjukkan bahwa edukasi medis di era digital tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa berat dan bertele-tele. Kalimat singkat yang berbasis ilmu justru lebih mudah dicerna dan memantik kesadaran publik.
Namun, di balik viralnya konten tersebut, tersimpan realitas yang tak kalah penting. Upaya para dokter untuk menyampaikan informasi berbasis sains kerap berhadapan langsung dengan keyakinan personal masyarakat yang telah mengakar lama. Banyak penderita GERD mengaku memiliki “versi sendiri” tentang penyebab dan penanganan penyakitnya, sering kali tanpa rujukan medis yang jelas.
Meski demikian, para dokter tetap konsisten menyuarakan pesan utama: meluruskan kesalahpahaman agar masyarakat tidak terjebak pada asumsi keliru yang justru membahayakan kesehatan.
Gaya penyampaian yang ringan, kadang diselipi sarkasme tipis atau humor seperlunya menjadi strategi tersendiri untuk menembus kebisingan media sosial. Edukasi kesehatan pun kembali diuji, bukan pada kebenaran ilmunya, melainkan pada kesiapan publik untuk menerimanya.
Respons warganet pun beragam. Sebagian merasa tercerahkan, sebagian lain justru tersentil.
“Akhirnya ada dokter yang ngomong apa adanya soal GERD, bukan cuma ‘jaga makan’ doang,” tulis seorang netizen.
Komentar lain berbunyi, “Kontennya nusuk tapi bener. Banyak mitos yang selama ini saya percaya, ternyata salah.”
Namun, tak sedikit pula yang mengaku masih sulit menerima fakta medis tersebut. “Saya sudah GERD bertahun-tahun dan cara ini nggak mempan di saya,” tulis akun lain, memicu diskusi panjang antarwarganet.
Terlepas dari pro dan kontra, fenomena viralnya dokter yang speak up soal GERD ini menegaskan satu hal: media sosial kini menjadi ruang penting bagi edukasi kesehatan. Di tengah banjir informasi dan mitos, suara tenaga medis berbasis ilmu pengetahuan semakin dibutuhkan, meski harus siap menghadapi perdebatan di ruang publik digital. (lin)
Editor : Redaksi