Sumutpos.jawapos.com-Tekanan darah tinggi bukan sekadar “penyakit orang tua”. Faktanya, hampir setengah orang dewasa kini hidup dengan hipertensi—dan banyak yang tidak menyadarinya. Padahal, kondisi ini menjadi pemicu utama penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, hingga penurunan daya ingat.
Menjawab ancaman tersebut, American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) merilis pedoman terbaru pada 2025, yang menekankan penanganan lebih dini dan berbasis bukti ilmiah terkini.
“Pedoman ini memberi peluang nyata bagi masyarakat untuk hidup lebih lama dan lebih sehat,” ujar Daniel W. Jones, MD, ketua tim penyusun pedoman.
Batas Tekanan Darah Masih Sama
Kategori tekanan darah tidak berubah:
Normal: di bawah 120/80 mm Hg
Meningkat: 120–129/80 mm Hg
Hipertensi: 130/80 mm Hg atau lebih
Namun, cara menurunkannya kini lebih tegas dan terarah.
Dilansir dari verywellhealth, ada enam langkah penting yang direkomendasikan.
1. Jangan Menunda Minum Obat Bila Diperlukan
Pedoman baru menganjurkan pengobatan dimulai lebih awal, terutama jika perubahan gaya hidup selama 3–6 bulan belum menunjukkan hasil.
Penelitian terbaru membuktikan bahwa tekanan darah tinggi tidak hanya merusak jantung, tetapi juga berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif dan risiko demensia.
Meski begitu, obat tetap harus berjalan beriringan dengan olahraga teratur dan pola makan sehat.
2. Garam Perlu Dikurangi Lebih Ketat
Batas konsumsi natrium tetap:
Maksimal 2.300 mg per hari
Idealnya 1.500 mg per hari
Sumber garam terbesar justru berasal dari makanan kemasan dan restoran, bukan dari dapur rumah. Membaca label nutrisi, memilih saus terpisah, serta memasak sendiri menjadi strategi penting.
Makanan tinggi kalium seperti pisang, bayam, jamur, dan melon juga membantu menyeimbangkan tekanan darah.
3. Alkohol Sebaiknya Dibatasi, Bahkan Dihindari
Pedoman 2025 menyarankan menghindari alkohol. Jika tetap dikonsumsi:
Pria: maksimal 2 gelas per hari
Wanita: maksimal 1 gelas per hari
Studi terbaru menunjukkan bahwa setiap tambahan konsumsi alkohol dapat meningkatkan tekanan darah secara bertahap, bahkan pada orang tanpa hipertensi.
4. Kelola Stres dengan Cara Ilmiah
Stres kronis terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung. Karena itu, pedoman terbaru menekankan pentingnya:
Olahraga rutin
Teknik relaksasi seperti yoga, meditasi, dan pernapasan dalam, serta Target aktivitas fisik tetap 75–150 menit per minggu, mencakup latihan aerobik dan kekuatan otot.
5. Turunkan Berat Badan, Meski Sedikit
Bagi orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas, penurunan minimal 5% berat badan sudah terbukti menurunkan tekanan darah secara bermakna.
Pendekatan bisa berupa:
- Pengaturan pola makan
- Aktivitas fisik terstruktur
- Terapi medis bila diperlukan, atas rekomendasi dokter
6. Ikuti Pola Makan DASH
Diet DASH tetap menjadi rujukan utama. Pola ini menekankan:
Buah dan sayur
Biji-bijian utuh
Kacang-kacangan
Produk susu rendah lemak
Ikan dan unggas
Sambil membatasi garam, gula, dan lemak jenuh. Pendekatan ini terbukti menurunkan tekanan darah secara konsisten dalam berbagai studi klinis.
Kenali Angka Tekanan Darah Anda
Semua upaya ini akan efektif jika Anda mengetahui angka tekanan darah sendiri. Para ahli menyarankan penggunaan alat ukur tekanan darah di rumah dan mencatat hasilnya secara rutin.
Dengan pemantauan yang baik, dokter dapat menyesuaikan terapi—baik gaya hidup maupun obat—sebelum komplikasi serius terjadi.
Kesimpulannya, pedoman terbaru menegaskan bahwa hipertensi bukan kondisi yang bisa ditunda penanganannya. Dengan langkah yang tepat, ilmiah, dan konsisten, tekanan darah dapat dikendalikan dan kualitas hidup tetap terjaga.(han)
Editor : Johan Panjaitan