sumutpos.jawapos.com - Siapa orang Indonesia yang tidak pernah makan mi instan? Rasanya sulit menemukan, makanan yang katanya tak sehat itu begitu populer.
Saking populernya, mi instan bahkan sudah seperti bahan pokok. Ya, meski ketidaksehatannya makanan praktis ini terus bergulir.
Melansir Healthline, Selasa (3/2/2026), mi instan umumnya dibuat dengan bahan tepung terigu, garam, dan minyak kelapa sawit.
Mi instan juga kerap dilengkapi penambah rasa seperti garam, bumbu penyedap, dan monosodium glutamat (MSG).
Nah, fakta-fakta di atas lah yang membuat mi instan identik disebut sebagai makanan tidak sehat.
Berikut fakta dan mitos mi instan makanan tidak sehat yang tersebar di tengah masyarakat:
1. Mengandung lilin
Banyak orang percaya bahwa mi instan dilapisi oleh lilin. Lilin bermanfaat untuk mencegah mi saling menempel saat dimasak.
Selain itu, lilin juga dipercaya menjadi salah satu bahan yang membuat mi instan tampak mengkilap.
Namun, lilin pada mi instan sepenuhnya hanya mitos. Mengutip laman Singapore Government Agency (SGA), mi instan tidak dilapisi dengan lilin.
Warna mengkilap pada permukaan mi didapat dari proses pembuatannya yang menggunakan suhu tinggi
2. Tinggi lemak dan kalori
Mi instan juga disebut-sebut tinggi lemak dan kalori.
Nyatanya, pada umumnya, satu kemasan mi instan mengandung 188 kalori.
Angka ini sebenarnya lebih rendah jika dibandingkan jenis pasta kemasan lainnya. Satu porsi spageti, misalnya, mengandung 257 kalori.
Meski disebut lebih rendah kalori, namun perlu juga memperhatikan nutrisi lain pada mi instan seperti serat dan protein yang terbilang rendah.
Satu sajian mi instan umumnya hanya mengandung 4 gram (g) protein dan 1 g serat.
Selain itu, mi instan juga memang tinggi lemak. Kadar lemak didapat dari proses deep fried yang digunakan untuk membuat mi instan.
Namun, kandungan lemak pada mi instan juga bisa bervariasi. Perhatikan label nutrisi pada kemasan untuk mengetahui lebih lanjut.
3. Tinggi garam
Rata-rata satu sajian mi instan mengandung 861 miligram (mg) sodium.
Angka ini mencapai hampir 50 persen dari batas asupan garam harian yang dianjurkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). (lin)
Editor : Redaksi