sumutpos.jawapos.com - Air minum yang selama ini diasosiasikan dengan kebersihan dan keamanan, kini menghadapi tantangan baru yang tak terlihat: mikroplastik. Sejumlah penelitian ilmiah dalam beberapa tahun terakhir mengungkap fakta yang mengubah cara pandang publik, partikel plastik berukuran mikro telah ditemukan tidak hanya di lingkungan, tetapi juga dalam air keran hingga air minum kemasan di berbagai negara.
Temuan ini menempatkan isu mikroplastik bukan lagi sekadar persoalan pencemaran lingkungan, melainkan ancaman yang bersentuhan langsung dengan konsumsi harian manusia.
Melansir Instagram @lambegosiip, Jumat (24/4/2926), salah satu studi global yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science of The Total Environment pada 2024 meneliti keberadaan mikroplastik dalam sistem air keran. Hasilnya, partikel mikroplastik ditemukan secara luas dalam sampel air dari 34 negara, menunjukkan bahwa kontaminasi ini bersifat lintas wilayah dan terjadi bahkan pada sistem pengolahan air modern.
Baca Juga: Janji Konser K-Pop Menggema dari Seoul, Diplomasi Budaya Prabowo Bidik Generasi Muda
Penelitian lain yang terbit pada 2023 dalam jurnal yang sama mengungkap temuan serupa pada air minum kemasan. Studi tersebut menemukan bahwa mikroplastik tidak hanya ada, tetapi dalam beberapa kasus jumlahnya lebih tinggi dibandingkan air keran. Partikel berukuran sangat kecil mendominasi, dan sebagian di antaranya diduga berasal dari kemasan botol plastik itu sendiri.
Temuan-temuan ini diperkuat oleh kajian sistematis dalam jurnal Microplastics (2025) yang merangkum penelitian selama satu dekade terakhir. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa mikroplastik kini telah terdeteksi di hampir semua sumber air, mulai dari sungai, danau, hingga air minum yang dikonsumsi manusia setiap hari.
Masuknya mikroplastik ke dalam air minum merupakan hasil dari rantai panjang aktivitas manusia. Sampah plastik yang terurai di alam menjadi partikel kecil, lalu terbawa aliran air hingga masuk ke sumber air baku.
Baca Juga: Tragedi di Laut Belawan, ABK Jatuh dari Palka Kapal
Di sisi lain, proses distribusi dan penyimpanan air, termasuk penggunaan pipa dan wadah berbahan plastik, turut berkontribusi terhadap pelepasan partikel mikroplastik. Pada air kemasan, gesekan selama transportasi hingga degradasi botol plastik juga menjadi sumber tambahan kontaminasi.
Dalam kondisi ini, mikroplastik menjadi bagian dari siklus yang sulit diputus—berawal dari konsumsi, berakhir kembali ke konsumsi.
Meski keberadaan mikroplastik dalam air minum telah terkonfirmasi, dampaknya terhadap kesehatan manusia masih menjadi fokus penelitian. Sejumlah studi awal menunjukkan bahwa partikel ini dapat masuk ke dalam tubuh dan berpotensi memicu gangguan biologis, seperti stres oksidatif dan peradangan.
Namun, para ilmuwan menekankan bahwa bukti ilmiah mengenai dampak jangka panjang masih berkembang. Yang pasti, paparan mikroplastik kini terjadi secara berulang dan dalam jangka panjang, sehingga memerlukan perhatian serius.
Baca Juga: 1.079 CJH Sumut Telah Bertolak ke Tanah Suci
Temuan ilmiah ini memicu respons luas di media sosial. Banyak warganet mengaku terkejut, sementara lainnya merespons dengan nada satir yang mencerminkan kelelahan menghadapi isu lingkungan yang kian kompleks.
“Air keran kena, air botolan juga kena. Jadi kita minum apa sebenarnya?” tulis seorang pengguna.
Komentar lain menyoroti sulitnya menghindari paparan mikroplastik.
“Udah nggak ada yang benar-benar bersih sekarang. Mau lari ke mana?”
Sebagian mencoba menyikapi dengan lebih reflektif.
“Ini akibat kebiasaan kita sendiri. Plastik dipakai terus, akhirnya balik lagi ke tubuh.”
Baca Juga: Kegiatan untuk May Day 2026 Terpusat di Astaka
Ada pula yang mulai mendorong perubahan kecil dalam kehidupan sehari-hari.
“Mulai kurangi plastik sekali pakai. Walaupun kecil, setidaknya ada usaha.”
Fakta bahwa mikroplastik ditemukan baik dalam air keran maupun air minum kemasan memperlihatkan bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal dari kontaminasi plastik.
Di tengah tingginya konsumsi plastik global dan keterbatasan teknologi penyaringan, persoalan ini menjadi tantangan bersama. Upaya pengurangan plastik sekali pakai, inovasi teknologi pengolahan air, serta perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dari solusi jangka panjang.
Baca Juga: Politeknik Ganesha Menangkan Projek Terbaik ICT dan Sistem Maklumat iProPEx di Malaysia
Pada akhirnya, mikroplastik di air minum bukan sekadar isu ilmiah. Ia adalah cerminan dari gaya hidup modern di mana sesuatu yang dibuang hari ini, perlahan kembali ke tubuh manusia dalam bentuk yang tak lagi terlihat.(lin)
Editor : Redaksi