Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Telur Disarankan Jadi “Makanan Darurat”, Ahli Gizi: Lebih Bergizi Dibanding Mi Instan

Redaksi • Rabu, 6 Mei 2026 | 19:00 WIB
telur seharusnya menjadi pilihan utama ketika tubuh membutuhkan asupan cepat. (Freepik.com)
telur seharusnya menjadi pilihan utama ketika tubuh membutuhkan asupan cepat. (Freepik.com)

 

sumutpos.jawapos.com – Kebiasaan menjadikan mi instan sebagai “penyelamat” saat lapar mendadak mulai mendapat sorotan dari kalangan ahli gizi. Di tengah gaya hidup serba cepat, pilihan praktis kerap mengalahkan pertimbangan nutrisi. Namun, tren ini perlahan didorong untuk berubah.

Melansir Instagram @lambegosiip, Rabu (6/5/2026), Ahli gizi dari sektor FMCG, Citra Tanani, menegaskan bahwa telur seharusnya menjadi pilihan utama ketika tubuh membutuhkan asupan cepat. Selain sama-sama praktis, telur dinilai jauh lebih unggul dari sisi kandungan gizi dibandingkan mi instan.

“Telur bisa dimasak dalam waktu kurang dari lima menit, setara dengan mi instan. Bedanya, telur memberi nutrisi nyata yang dibutuhkan tubuh,” ujarnya.

Dalam satu butir telur, terkandung sekitar 6–7 gram protein berkualitas tinggi. Kandungan ini berperan penting dalam memberikan rasa kenyang lebih lama, sekaligus membantu menjaga massa otot.

Baca Juga: Mentan Amran Rangkul dan Siapkan Mahasiswa Jadi Penerus Arah Masa Depan Pertanian Nasional

Tak hanya itu, telur juga mengandung berbagai zat penting seperti vitamin B12, vitamin D, kolin yang baik untuk fungsi otak, serta lemak sehat. Kombinasi ini membuat telur menjadi sumber gizi yang relatif lengkap dalam satu bahan makanan sederhana.

Sebaliknya, mi instan cenderung didominasi karbohidrat dan sering kali rendah kandungan gizi seimbang. Produk ini juga dikenal memiliki kadar natrium dan MSG yang tinggi, yang jika dikonsumsi berlebihan dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan.

Kebiasaan mengonsumsi mi instan tidak jarang disertai tambahan lauk seperti telur dan nasi. Dalam satu porsi, mi instan bisa mengandung sekitar 420 kilokalori. Ketika ditambah telur (sekitar 70 kilokalori) dan nasi, total asupan bisa mendekati 700 kilokalori.

Dalam jangka panjang, pola konsumsi seperti ini berpotensi meningkatkan risiko kelebihan berat badan hingga obesitas, terutama jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

Baca Juga: Patroli Gabungan Tengah Malam di Belawan, Polisi Tekan Potensi Premanisme hingga Tawuran

Keunggulan lain dari telur adalah sifatnya yang alami dan minim bahan tambahan. Berbeda dengan mi instan yang melalui proses pengolahan panjang, telur dapat dikonsumsi dengan cara sederhana seperti direbus, diceplok, atau didadar tanpa kehilangan nilai gizinya.

Citra menekankan bahwa kemudahan ini seharusnya menjadi alasan kuat untuk mengubah kebiasaan masyarakat.

Para ahli gizi kini mendorong “normalisasi” telur sebagai stok wajib di rumah. Artinya, saat lapar datang tiba-tiba, telur menjadi pilihan pertama, bukan mi instan.

Untuk orang dewasa sehat, konsumsi 1–2 butir telur per hari masih tergolong aman dan bahkan dianjurkan sebagai bagian dari pola makan seimbang.

Baca Juga: Respon Cepat Polisi, Sarang Narkoba di Tanjungpura Dibongkar

Perubahan kecil dalam memilih makanan darurat ini dinilai dapat memberi dampak besar bagi kesehatan jangka panjang. Di tengah rutinitas yang padat, pilihan sederhana seperti telur bisa menjadi langkah awal menuju gaya hidup yang lebih sehat.(lin)

Editor : Redaksi
#Nutrisi Harian #Telur Sehat #Makan Seimbang #ahli gizi #Gaya Hidup Sehat