sumutpos.jawapos.com - Selama ini hipertensi atau tekanan darah tinggi identik milik usia tertentu, seperti kaum tua, tapi sekarang tidak lagi.
Parahnya, hipertensi pada usia muda kerap disebut sebagai silent killer karena sering tidak menimbulkan keluhan.
Hipertensi sendiri terjadi ketika tekanan darah di pembuluh arteri terus-menerus berada di atas normal. Dan memang, risiko hipertensi akan semakin meningkat seiring pertambahan usia.
Melansir Healthline, Senin (15/6/2026), pada usia muda, kondisi ini umumnya tidak dipicu oleh berbagai faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup dan kondisi kesehatan tertentu.
Baca Juga: Awas! Ini Ragam Kebiasaan yang Bisa Merusak Gigi
Sayangnya, hipertensi pada kaum muda cenderung terlambat didiagnosis. Jadi segera periksa ketika sakit kepala terutama di pagi hari, pusing, wajah terasa panas, mudah lelah, dan jantung berdebar.
Pada kondisi berat, tekanan darah tinggi dapat menimbulkan keluhan serius seperti gangguan penglihatan, nyeri dada, mual, muntah, hingga kebingungan.
Jika tidak dikendalikan, hipertensi berisiko merusak jantung, otak, ginjal, dan pembuluh darah
Berikut merupakan beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi pada anak muda:
Baca Juga: Rumah Dinas Wakil Bupati Deliserdang Diduga Ditembak, Polisi Selidiki Motif Pelaku
1. Pola makan tinggi garam, konsumsi makanan cepat saji, makanan olahan, camilan tinggi natrium.
2. Kelebihan berat badan atau obesitas, terutama penumpukan lemak di area perut.
3. Kurang olahraga, kebiasaan duduk terlalu lama, kurang gerak.
4. Kebiasaan merokok, paparan nikotin dapat merusak dinding pembuluh darah.
5. Konsumsi alkohol, terutama dalam jumlah berlebihan dan jangka panjang.
6. Stres berkepanjangan, tekanan pekerjaan, akademik, dan kurang manajemen stres.
Baca Juga: Elon Musk Pecahkan Sejarah, Jadi Triliuner Pertama Dunia Berkat IPO SpaceX
7. Faktor genetik, adanya riwayat hipertensi dalam keluarga.
8. Kondisi medis tertentu, seperti gangguan ginjal, gangguan tiroid, sleep apnea.
9. Penggunaan obat-obatan tertentu, termasuk pil kontrasepsi hormonal dan obat antiinflamasi nonsteroid.(lin)
Editor : Redaksi