Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Mager Bisa Picu Masalah Kesehatan, Ini Akibatnya

Redaksi • Minggu, 21 Juni 2026 | 20:25 WIB
ilustrasi, mager atau malas gerak lama-lama akan memicu berbagai masalah kesehatan. (pexels.com)
ilustrasi, mager atau malas gerak lama-lama akan memicu berbagai masalah kesehatan. (pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Mager alias malas gerak kini sudah demikian maraknya seiring hadirnya ragam teknologi yang memanjakan manusia.

Contoh sederhana mager tercipta karena adanya remote, adakah manusia mau bergerak menekan tombol televisi, AC, dan sebagainya?

Belum lagi bila mager diartikan seperti menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk, baik ketika bekerja di depan laptop maupun bersantai menonton televisi atau bermain ponsel.

Baca Juga: Robi Barus: Setiap Warga Negara Wajib Miliki Wawasan Kebangsaan

Melansir Cleveland Clinic, Minggu (21/6/2026), nyatanya kebiasaan mager itu membentuk pola hidup sedentari, yakni kondisi ketika tubuh minim aktivitas fisik.

Sebuah penelitian bahkan melaporkan bahwa menghabiskan waktu lebih dari 10 jam perilaku tidak aktif setiap hari akan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan masalah kesehatan lainnya.

Berikut beberapa risiko mager yang dapat mengintai kesehatan:

 

1. Obesitas

Tubuh akan cenderung membakar lebih sedikit kalori ketika kurang gerak dan duduk terlalu lama. 

Ini karena tubuh tidak menghasilkan energi untuk otot yang tidak digunakan.

Apalagi jika seseorang mengonsumsi lebih banyak kalori daripada yang dibakar melalui aktivitas fisik dan olahraga. 

Baca Juga: Hukuman Eks Kasek SMAN 16 Medan Diperberat 4 Tahun Penjara di Kasus Korupsi Dana BOS

Lama-kelamaan ini akan menambah berat badan yang dapat menyebabkan penimbunan lemak hingga obesitas.

2. Hipertensi

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah dalam arteri berada di atas normal. 

Kurangnya aktivitas fisik tentu akan membuat jantung dan pembuluh darah bekerja kurang efisien dan tak terkontrol.

Sebaliknya, seseorang yang menerapkan gaya hidup aktif dan berolahraga, kebiasaan ini membantu menjaga elastisitas pembuluh darah dan mengurangi risiko hipertensi.

Baca Juga: Pabrik Mainan di Medan Johor Terbakar Hebat, Damkar Masih Lakukan Pendinginan

3. Penyakit jantung

Kebiasaan malas bergerak juga erat kaitannya dengan risiko penyakit jantung. 

Kurangnya aktivitas fisik membuat jantung dan pembuluh darah bekerja kurang efisien sehingga aliran darah akan terganggu.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memicu penumpukan plak di arteri sehingga meningkatkan risiko terserang penyakit jantung.

 

4. Diabetes tipe 2

Tubuh yang minim gerak juga rentan terserang penyakit diabetes tipe 2. 

Diabetes tipe 2 adalah kondisi kronis ketika tubuh tidak mampu memproduksi insulin yang cukup atau resistensi insulin. Imbasnya, kadar gula darah menjadi tinggi dan sulit terkontrol.

Orang dengan gaya hidup sedentari lebih rentan terhadap resistensi insulin sehingga memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingkan orang yang aktif secara fisik.

Baca Juga: Polres Binjai Tangkap Dua Pengedar Narkoba di Lokasi Terpisah

5. Meningkatkan risiko penyakit kanker

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup tidak aktif dapat meningkatkan risiko terkena kanker tertentu, seperti kanker usus besar, kanker paru-paru, dan kanker rahim (endometrium).

Hal ini dikuatkan dalam penelitian ilmiah yang dipublikasikan dalam laman NCBI yang menyebut bahwa perilaku sedentari atau kebiasaan terlalu banyak duduk terbukti meningkatkan risiko jenis kanker tersebut.

Kurangnya aktivitas fisik dan kelebihan berat badan memengaruhi keseimbangan hormon, sensitivitas insulin, serta memicu peradangan kronis dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kanker.(lin)

Editor : Redaksi
#kesehatan #Mager #Malas Gerak #obesitas #Gaya Hidup Sehat