sumutpos.jawapos.com - Menyebut ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-proses mungkin sedikit asing. Masyarakat cenderung akrab dengan istilah fast food, daging olahan, makanan instan, minuman kemasan, dan sebagainya.
Secara umum, makanan ultra-proses adalah makanan yang telah mengalami berbagai proses industri dan banyak ditambahi zat aditif seperti pengawet, pemanis, pewarna buatan, dan penguat rasa.
Dan, itu berbahaya. Berbagai penelitian melaporkan bahwa konsumsi makanan ultra-proses memiliki dampak buruk pada kesehatan.
Baca Juga: Polres Batu Bara Bongkar Empat Kasus Sabu dalam Sepekan, Empat Tersangka dan Barang Bukti Diamankan
Melansir dari Medical News Today, Kamis (23/7/2026), makanan ultra-proses umumnya tinggi garam, gula, dan lemak jenuh. Produk dengan lebih dari lima bahan biasanya termasuk kategori ini.
Tanpa disadari, mengonsumsi makanan ultra-proses terlalu sering dapat berisiko buruk pada kesehatan jangka panjang.
Berikut beberapa bahaya makan makanan ultra-proses:
1. Mengganggu metabolisme tubuh
Selain berdampak pada penyakit kronis, konsumsi makanan ultra-proses juga dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus.
Dijelaskan dalam jurnal yang dipublikasi Science Direct, tubuh memproduksi lebih banyak zat pemicu peradangan seperti LPS dan hidrogen sulfida yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Di sisi lain, produksi zat penting seperti butirat justru menurun. Padahal, butirat berperan menjaga lapisan usus dan sistem imun tetap optimal.
Ketidakseimbangan ini membuat metabolisme tubuh terganggu, sehingga risiko peradangan dan berbagai penyakit meningkat dalam jangka panjang.
2. Picu kenaikan berat badan
Makanan ultra-proses cenderung mengandung tinggi kalori tetapi rendah nutrisi seperti serat dan protein. Hal tersebut membuat seseorang jadi mudah lapar dan makan berlebihan.
Makan makanan tinggi kalori dan minim nutrisi tentu lama-kelamaan akan memicu kenaikan berat badan.
3. Meningkatkan risiko penyakit jantung
Makanan ultra-proses umumnya tinggi lemak jenuh, gula, dan garam, yang dapat memicu kenaikan tekanan darah, kolesterol, serta peradangan.
Faktor-faktor ini mengganggu sistem jantung atau kardiovaskular.
Apalagi, makanan ultra-proses juga minim kandungan serat dan nutrisi penting yang bisa menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko serangan jantung dan strok.
4. Meningkatkan risiko diabetes tipe 2
Konsumsi makanan ultra-proses jangka panjang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Ini karena makanan ultra-proses umumnya mengandung tinggi gula tambahan dan karbohidrat olahan yang memicu lonjakan gula darah secara cepat.
Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat membebani insulin dalam mengatur kadar gula darah.
Lama-kelamaan, tubuh akan mengalami resistensi insulin, yang menjadi awal dari penyakit diabetes tipe 2.(lin)
Editor : Redaksi