Sumutpos.jawapos.com– Cuaca panas ekstrem membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan melalui keringat. Jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang tepat, risiko dehidrasi hingga gangguan keseimbangan elektrolit dapat meningkat dan berdampak pada kesehatan.
Banyak orang memilih minum air es untuk menyegarkan tubuh. Menurut ahli gizi, kebiasaan tersebut justru bukan pilihan terbaik saat suhu udara sedang tinggi.
Saat cuaca panas, air es memang terasa lebih menyegarkan. Namun, suhu yang terlalu dingin dapat menyebabkan pembuluh darah di lambung menyempit sehingga penyerapan cairan menjadi kurang optimal.
Sebagai gantinya, Oksana menyarankan mengonsumsi air putih bersuhu ruang atau sedikit hangat. Cara ini dinilai lebih efektif membantu proses pendinginan alami tubuh melalui mekanisme berkeringat.
Jangan Hanya Minum Air Putih
Meski penting untuk menjaga hidrasi, minum air putih dalam jumlah besar tanpa mengganti elektrolit yang hilang juga dapat menimbulkan masalah.
Ketika berkeringat, tubuh tidak hanya kehilangan air, tetapi juga mineral penting seperti natrium. Kondisi ini berisiko menyebabkan hiponatremia, yaitu kadar natrium dalam darah yang terlalu rendah.
Gejalanya dapat berupa lemas, pusing, mual, hingga gangguan kesehatan yang lebih serius apabila tidak segera ditangani.
Untuk membantu menjaga keseimbangan elektrolit, ahli menyarankan mengonsumsi satu gelas air mineral yang mengandung mineral alami setiap hari—dengan membiarkan gasnya hilang terlebih dahulu—atau menambahkan bubuk elektrolit sesuai anjuran ke dalam air minum.
Baca Juga: Lawan Keengganan Anak ke Sekolah setelah Libur Panjang, Jangan Menyerah!
Minuman yang Sebaiknya Dihindari
Tidak semua minuman mampu mengatasi dehidrasi. Beberapa jenis minuman justru dapat memperburuk kondisi tubuh saat cuaca panas, antara lain:
Minuman bersoda dan jus tinggi gula, karena kandungan gulanya dapat meningkatkan rasa haus sekaligus mempercepat dehidrasi.
Kopi berkafein tinggi, yang memiliki efek diuretik sehingga tubuh lebih cepat mengeluarkan cairan.
Minuman beralkohol, karena juga memicu peningkatan produksi urine dan mempercepat kehilangan cairan tubuh.
Nutrisi yang Membantu Tubuh Bertahan di Tengah Panas
Selain menjaga asupan cairan, beberapa nutrisi juga dinilai dapat membantu tubuh beradaptasi saat menghadapi suhu tinggi.
Baca Juga: Jangan Biarkan Aktivitas Membaca Jadi Sia-sia, Ini Cara agar Bisa Ingat Isi Bacaan
Magnesium (jenis sitrat atau malat) membantu menjaga fungsi otot, pembuluh darah, dan kesehatan jantung. Mineral ini mudah hilang melalui keringat sehingga dianjurkan dikonsumsi sekitar satu jam sebelum tidur dengan dosis 200–400 miligram sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Vitamin C yang dikombinasikan dengan rutin atau quercetin dapat membantu melindungi pembuluh darah halus dari paparan sinar ultraviolet sekaligus mengurangi pembengkakan pada kaki.
Sementara itu, asam suksinat atau koenzim Q10 berperan mendukung produksi energi tubuh, terutama ketika menghadapi suhu panas dan kadar oksigen yang lebih rendah. Keduanya lebih baik dikonsumsi pada pagi hari.
Adapun taurin disebut bermanfaat membantu menjaga fungsi jantung yang bekerja lebih keras saat cuaca panas, sekaligus mendukung keseimbangan cairan di dalam sel tubuh.
Hidrasi yang Tepat Lebih Penting daripada Sekadar Banyak Minum
Menjaga tubuh tetap terhidrasi saat cuaca panas bukan hanya soal memperbanyak minum, tetapi juga memilih jenis minuman yang tepat dan memastikan keseimbangan elektrolit tetap terjaga.
Dengan menghindari air es berlebihan, membatasi minuman manis, kopi, dan alkohol, serta mencukupi kebutuhan cairan dan mineral, tubuh akan lebih siap menghadapi cuaca panas sekaligus mengurangi risiko dehidrasi dan gangguan kesehatan lainnya.(han)
Editor : Johan Panjaitan