MEDAN, SUMUT POS– Kabupaten Labuhanbatu Utara (Labura) menghadapi kejadian luar biasa (KLB) ganda penyakit menular. Pemerintah daerah menetapkan KLB malaria dan dengue menyusul lonjakan kasus di sejumlah wilayah.
Kasus malaria menjadi perhatian utama. Hingga Agustus 2026, tercatat sekitar 1.300 kasus malaria di Labura. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 kasus ditemukan di Kecamatan Tanjung Leidong.
Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Utara (Dinkes Sumut) Faisal Hasrimy melalui Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) dr Nora Nasution, mengatakan jumlah tersebut menempatkan Labura sebagai salah satu daerah dengan kontribusi kasus malaria terbesar di Sumut.
Baca Juga: Guruh Soekarno Putra Kritis
“Total seluruhnya dari Januari sampai Agustus kemarin mereka 1.300-an. Jadi mereka menyumbang sepertiganya kasus di Sumatera Utara,” ujar Nora.
Selain Tanjung Leidong, kasus malaria juga banyak ditemukan di wilayah Kampung Masjid. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kasus malaria di Labura sebelumnya sempat mengalami penurunan cukup signifikan.
Nora menyebut, penelitian yang dilakukan Prof Ayodhia di Tanjung Leidong pada 2021 hingga 2024 berhasilu menekan kasus malaria hingga 64 persen. Namun, setelah program tersebut tidak lagi dilanjutkan, kasus kembali meningkat.
“Dulu di tahun sebelumnya kasusnya turun, ada 64 persen. Sekarang naik lagi,” katanya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah malaria jenis Plasmodium vivax yang dapat mengalami kekambuhan. Menurut Nora, penanganan jenis malaria ini membutuhkan pengobatan selama 14 hari.
Dalam penelitian sebelumnya, dilakukan penyesuaian dosis dengan durasi pengobatan lebih singkat. Namun, metode tersebut harus didahului pemeriksaan G6PD untuk memastikan terapi dapat diberikan dengan aman.
“Karena pola penanganannya tidak lagi berjalan seperti sebelumnya, kasusnya kembali meningkat,” jelasnya.
Dengue Juga Melonjak
Di tengah tingginya kasus malaria, Labura juga menghadapi KLB dengue. Dinkes Sumut mencatat 128 kasus dengue sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Satu pasien meninggal dunia, yakni seorang pelajar perempuan berusia 14 tahun.
Nora mengatakan peningkatan kasus dengue mulai terlihat sejak Mei 2026. Lonjakan kasus yang mencapai dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya, ditambah adanya kematian, menjadi salah satu dasar penetapan KLB.
“Kalau dengue, terjadi peningkatan kasus yang dua kali lebih besar dari bulan sebelumnya. Kemudian ada kematian tadi satu,” ujarnya.
Kasus kematian tersebut menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap fase kritis dengue. Pasien sempat menjalani perawatan dan kondisinya membaik. Namun, setelah memasuki fase kritis, pasien kembali mengalami demam dan kondisinya memburuk.
Pada fase tersebut, pasien dapat mengalami kebocoran plasma dan perdarahan. Kondisi korban terus menurun hingga akhirnya meninggal setelah dirujuk ke rumah sakit di Medan.
Dinkes Sumut juga menemukan jentik nyamuk saat melakukan survei di wilayah yang memiliki banyak kasus dengue. Temuan tersebut menunjukkan masih adanya tempat perkembangbiakan nyamuk yang perlu segera diberantas.
Nora menegaskan, penanganan dengue tidak bisa hanya mengandalkan fogging. Pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyelesaikan persoalan apabila jentik masih dibiarkan berkembang.
Karena itu, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui 3M Plus menjadi langkah penting untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk. “Yang paling efektif adalah PSN 3M Plus,” tegasnya.
PSN dilakukan dengan menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengelola barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Upaya tersebut dapat diperkuat dengan penggunaan kelambu, kasa, repellent hingga ikan pemakan jentik.
Selain Labura, Dinkes Sumut mencatat KLB dengue di sejumlah daerah lain, antara lain Tapanuli Utara, Labuhanbatu dan Mandailing Natal. Sementara KLB malaria juga ditemukan di Dairi dan Serdang Bedagai.
Namun, Labuhanbatu Utara menjadi daerah dengan perhatian khusus karena menghadapi dua KLB sekaligus, yakni malaria dan dengue.
Nora menekankan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam memutus mata rantai penularan. Keterlibatan masyarakat, khususnya dalam memberantas tempat perkembangbiakan nyamuk, menjadi bagian penting dalam pengendalian penyakit.
“Yang paling penting untuk memutus mata rantai penularan: peran aktif dari masyarakat,” pungkasnya. (ila/ram)
Editor : Juli Rambe