Dinkes Sumut Imbau Warga Periksa Diri saat Merasa Gejala Gangguan Kesehatan

Juli Rambe • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 20:34 WIB
ASAP: Kabut asap yang menyelimuti Kota Medan diambil dari Lantai 7 Kantor Gubernur Sumut, Rabu (14/10/2026) menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)
ASAP: Kabut asap yang menyelimuti Kota Medan diambil dari Lantai 7 Kantor Gubernur Sumut, Rabu (14/10/2026) menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.(Dok : Ihsan Syahreza/Sumut Pos)

 

MEDAN, SUMUT POS- Kabut asap yang menyelimuti Kota Medan dan sejumlah daerah di sekitarnya menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. 

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumatera Utara, Hamid Rizal, mengimbau masyarakat agar tidak panik, tetapi tetap mengambil langkah-langkah antisipasi untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara.

“Dalam kondisi kualitas udara yang kurang baik seperti sekarang ini, masyarakat tidak perlu panik. Namun, kita harus tetap waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan agar dampaknya terhadap kesehatan dapat diminimalkan,” ujar Hamid saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Rabu (14/10/2026).

Baca Juga: Korupsi Rehabilitasi Puskesmas Nias Barat, Direktur PT Danrus Divonis Lepas

Selain itu, Hamid mengingatkan masyarakat agar membiasakan diri mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, menghindari kebiasaan merokok, serta tidak mengonsumsi minuman beralkohol.

“Perilaku hidup bersih dan sehat harus tetap kita terapkan setiap hari. Konsumsi makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, menjaga kebersihan lingkungan, dan menghindari rokok merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh,” katanya.

Masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah juga diimbau menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel pencemar udara. Penggunaan masker perlu disertai upaya membatasi durasi berada di lingkungan yang terpapar kabut asap.

“Kalau memang tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan. Apabila harus keluar rumah, gunakan masker dan tetap memperhatikan kondisi lingkungan di sekitar,” ujarnya.

Sebagian masyarakat mungkin tidak langsung merasakan keluhan, sementara kelompok tertentu dapat lebih rentan mengalami gangguan kesehatan.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah beraktivitas di tengah kabut asap. Keluhan seperti batuk, iritasi pada mata, atau gangguan pernapasan perlu diperhatikan, terutama apabila berlangsung terus-menerus atau semakin memburuk.

“Jangan mengabaikan kondisi kesehatan apabila mulai merasakan keluhan. Jika mengalami gangguan atau merasa tidak nyaman setelah terpapar udara yang kurang baik, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” katanya.

Hamid turut mengingatkan pentingnya memberikan perlindungan lebih kepada kelompok masyarakat yang rentan terhadap dampak pencemaran udara, seperti bayi, balita, anak-anak, lanjut usia (lansia), dan ibu hamil.

“Kelompok rentan harus menjadi perhatian kita bersama. Bayi, balita, lansia, dan ibu hamil perlu mendapatkan perlindungan lebih agar tidak terlalu banyak terpapar udara yang kualitasnya sedang tidak sehat,” ujarnya.

Selain membatasi paparan, masyarakat juga diingatkan untuk mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih secara teratur. Kebiasaan tersebut membantu menjaga kecukupan cairan tubuh, meskipun minum air putih bukan pengganti upaya menghindari paparan polusi udara.

Di tengah kondisi kabut asap, masyarakat yang menggunakan kendaraan juga diminta meningkatkan kewaspadaan. Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang sehingga berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.

Pengendara diimbau menyesuaikan kecepatan kendaraan dengan kondisi jalan, menjaga jarak aman, serta menggunakan lampu kendaraan sesuai kebutuhan dan ketentuan yang berlaku.

Terkait dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh kondisi udara tersebut, Hamid menyebutkan bahwa hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai lonjakan signifikan kasus gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan paparan kabut asap.

Meski demikian, kondisi tersebut tetap perlu dipantau. Ia tidak menutup kemungkinan adanya peningkatan kunjungan pasien di sejumlah rumah sakit, sehingga perkembangan situasi kesehatan masyarakat perlu terus diperhatikan.

“Sejauh ini belum ada laporan lonjakan yang signifikan terkait dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Namun, kondisi ini tetap harus kita waspadai dan pantau perkembangannya,” kata Hamid.

Ia menambahkan, masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan sebaiknya segera mendatangi puskesmas, klinik, atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan sesuai kondisi yang dialami. (san/ram)

 

Editor : Juli Rambe
asap karhutla asap karhutla ke medan asap di medan dinkes sumut