Sumutpos.jawapos.com-Menjaga kesehatan otak tidak selalu membutuhkan makanan mahal atau bahan pangan yang sulit ditemukan. Sejumlah makanan beku yang tersedia di supermarket, bahkan yang mungkin sudah tersimpan di dalam freezer rumah, bisa menjadi pilihan untuk mendukung fungsi kognitif dan menjaga daya ingat.
Seiring bertambahnya usia, otak mengalami perubahan yang dapat memengaruhi kemampuan mengingat, berkonsentrasi, dan memproses informasi. Meski proses penuaan tidak bisa dihindari, pola makan bergizi seimbang dapat membantu menjaga kesehatan otak dalam jangka panjang.
Baca Juga: Cegah Bullying dan Narkoba, Wakapolres Tebingtinggi Ingatkan Pelajar Jaga Masa Depan
Kabar baiknya, makanan beku tidak selalu kalah bergizi dibandingkan bahan pangan segar. Sayuran dan buah yang dibekukan dengan cepat umumnya dapat mempertahankan banyak kandungan nutrisinya. Selain praktis, makanan beku juga relatif tahan lama sehingga membantu mengurangi pemborosan bahan pangan.
Mengutip EatingWell, sejumlah ahli gizi merekomendasikan enam makanan beku yang kaya akan antioksidan, serat, vitamin, mineral, dan asam lemak omega-3 untuk mendukung kesehatan otak.
Berikut ulasannya.
1. Buah Beri Beku, Kaya Antioksidan untuk Otak
Blueberry, stroberi, raspberry, dan blackberry merupakan kelompok buah yang kaya antioksidan serta senyawa tumbuhan yang bermanfaat bagi kesehatan.
Salah satu senyawa yang banyak mendapat perhatian adalah antosianin, pigmen alami yang memberikan warna merah, ungu, dan biru pada buah. Senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan dan dikaitkan dengan kesehatan otak.
Blueberry liar menjadi salah satu pilihan yang disoroti para ahli gizi. Dalam sebuah penelitian yang dikutip EatingWell, konsumsi bubuk blueberry liar setiap hari selama enam bulan pada orang dengan penurunan kognitif ringan dikaitkan dengan peningkatan kecepatan pemrosesan mental dan berkurangnya kelelahan kognitif.
Baca Juga: MBG Hadir di favehotel S. Parman Medan, Makan Sepuasnya Menu Khas Sumut Mulai Rp88 Ribu
Meski demikian, hasil penelitian tersebut tidak berarti buah beri dapat mencegah atau menyembuhkan demensia.
Buah beri beku bisa dinikmati dengan berbagai cara. Campurkan ke dalam oatmeal, smoothie, atau yoghurt, maupun gunakan sebagai bahan tambahan untuk pancake dan hidangan penutup.
2. Sayuran Hijau Beku, Sumber Vitamin untuk Daya Ingat
Bayam dan kale beku juga layak menjadi persediaan di rumah. Kedua sayuran ini mengandung vitamin K dan folat yang berperan penting dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk yang berkaitan dengan kesehatan otak.
Vitamin K terlibat dalam sejumlah proses biologis di sistem saraf, sedangkan folat atau vitamin B9 dibutuhkan untuk pembentukan DNA dan fungsi sel yang normal.
Asupan folat yang cukup juga penting bagi kesehatan secara keseluruhan. Sejumlah penelitian mengaitkan pola makan kaya sayuran hijau dengan kesehatan kognitif yang lebih baik, meskipun hubungan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa satu jenis makanan mampu mencegah penurunan daya ingat.
Sayuran hijau beku dapat menjadi alternatif praktis ketika tidak sempat berbelanja bahan segar. Tambahkan bayam ke dalam sup, tumisan, telur dadar, atau pasta agar asupan sayuran sehari-hari lebih mudah terpenuhi.
3. Brokoli dan Kembang Kol Beku, Bantu Lindungi Sel Otak
Sayuran dari keluarga cruciferous, seperti brokoli, kembang kol, dan kubis Brussel, mengandung vitamin, mineral, antioksidan, serta senyawa tumbuhan yang mendukung kesehatan.
Salah satu senyawa yang menarik perhatian peneliti adalah sulforafana, yang dapat ditemukan terutama pada brokoli dan beberapa sayuran sejenis. Senyawa ini diteliti karena potensinya dalam membantu melindungi sel dari stres oksidatif dan peradangan.
Baca Juga: Diduga Manipulasi Takaran BBM, Manajer dan Supervisor SPBU di Sergai Jadi Tersangka
Stres oksidatif merupakan kondisi ketika jumlah radikal bebas melebihi kemampuan tubuh untuk menetralkannya. Kondisi tersebut dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, termasuk proses penuaan dan penyakit yang memengaruhi otak.
Namun, penelitian mengenai manfaat sulforafana terhadap fungsi kognitif manusia masih berkembang. Karena itu, brokoli tidak dapat dianggap sebagai makanan yang secara langsung mencegah kerusakan otak.
Agar lebih nikmat, brokoli beku bisa dipanggang menggunakan oven atau air fryer. Kembang kol juga dapat diolah menjadi sup, tumisan, maupun campuran nasi dan pasta.
4. Ikan Berlemak Beku, Sumber Omega-3 untuk Otak
Salmon, makarel, dan haring merupakan ikan berlemak yang mengandung asam lemak omega-3, terutama EPA dan DHA.
DHA merupakan komponen penting membran sel otak, sedangkan EPA dan DHA berperan dalam berbagai proses biologis yang mendukung kesehatan tubuh. Asupan ikan sebagai bagian dari pola makan sehat juga dikaitkan dengan kesehatan jantung dan fungsi otak.
Memilih ikan beku dapat menjadi solusi praktis bagi orang yang kesulitan mengolah ikan segar sebelum rusak. Ikan dapat disimpan lebih lama di freezer dan dimasak sesuai kebutuhan.
Salmon beku bisa dipanggang dengan bumbu sederhana, sementara makarel dapat diolah menjadi sup atau ikan bakar. Pilih produk tanpa tambahan garam atau saus berlebihan agar asupan natrium tetap terkendali.
Meski omega-3 penting bagi tubuh, mengonsumsi suplemen atau ikan dalam jumlah berlebihan tidak otomatis meningkatkan daya ingat. Manfaatnya tetap perlu dilihat sebagai bagian dari pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.
5. Edamame Beku, Kombinasi Protein dan Folat
Edamame atau kedelai muda merupakan sumber protein nabati dan serat yang praktis untuk melengkapi menu sehari-hari.
Selain itu, edamame mengandung folat dan isoflavon, yaitu senyawa alami dalam kedelai yang termasuk kelompok fitoestrogen. Isoflavon sedang diteliti karena kemungkinan kaitannya dengan kesehatan otak dan penurunan risiko gangguan kognitif.
Kedelai juga menyediakan sejumlah nutrisi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi normalnya. Namun, bukti mengenai kemampuan edamame secara khusus dalam mencegah demensia masih belum cukup kuat untuk menghasilkan kesimpulan pasti.
Baca Juga: UMP Sumut 2027 Masih Menunggu Arahan Pusat, 21 November Jadi Tenggat Penetapan
Cara mengolahnya pun sederhana. Rebus atau kukus edamame beku, kemudian tambahkan sedikit bumbu sesuai selera. Edamame yang sudah dikupas juga cocok dicampurkan ke dalam nasi, salad, sup, atau tumisan sayuran.
Kandungan protein dan seratnya membuat edamame dapat menjadi pilihan camilan maupun pelengkap makanan yang mengenyangkan.
6. Labu Butternut Beku, Mengandung Karotenoid
Labu butternut memiliki warna jingga khas yang berasal dari kandungan karotenoid, termasuk beta-karoten yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A.
Karotenoid dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan berperan dalam berbagai fungsi biologis. Sejumlah penelitian juga mengeksplorasi kaitannya dengan kesehatan otak, termasuk proses neuroplastisitas, yakni kemampuan otak membentuk dan menyesuaikan hubungan antarsel saraf.
Meski menjanjikan, manfaat tersebut tidak berarti konsumsi labu secara langsung akan meningkatkan kecerdasan atau mencegah penurunan kognitif.
Labu butternut beku menawarkan kepraktisan karena umumnya sudah dipotong-potong sehingga tidak perlu dikupas atau dipersiapkan dari awal.
Bahan ini dapat dimasukkan ke dalam sup, dipanggang sebagai pendamping makanan utama, atau dicampurkan ke dalam pasta dan salad. Rasanya yang sedikit manis juga cocok dipadukan dengan berbagai bumbu.
Cara Sederhana Menjaga Kesehatan Otak dari Dapur
Enam makanan beku tersebut menawarkan cara praktis untuk memperkaya asupan nutrisi tanpa harus selalu membeli bahan pangan segar. Kandungan gizinya dapat membantu melengkapi pola makan yang mendukung kesehatan otak.
Namun, tidak ada satu makanan yang dapat menjamin daya ingat tetap tajam atau mencegah demensia. Manfaatnya akan lebih optimal jika disertai konsumsi makanan beragam, aktivitas fisik teratur, tidur yang cukup, dan pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah tinggi serta diabetes.
Saat berbelanja, pilih buah dan sayuran beku tanpa tambahan gula atau saus berlebihan. Untuk ikan, perhatikan kandungan garam dan cara penyimpanannya. Pastikan pula makanan dicairkan dan dimasak dengan benar sesuai petunjuk keamanan pangan.(net/han)
Editor : Johan Panjaitan