Organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), ternyata mendoktrin dan mencuci otak pengikutnya agar tetap setia. Setidaknya hal itu yang dirasakan Nasib (55), saat masih berstatus sebagai anggota Gafatar.
------
Menurut warga Jalan Karya Gang Ambarsari, Lingkungan XVII, Kelurahan Karang Berombak, Kecamatan Medan Barat itu, selama bergabung, dia dan anggota yang lain telah dicuci otaknya oleh organisasi tersebut. Saat ditemui, Rabu (27/1), semula Nasib enggan bercerita panjang lebar soal Gafatar. Hatinya baru tergerak setelah dikatakan keterangannya bisa jadi bahan pembelajaran bagi masyarakat luas. "Ya sudah, biar yang lain tahu," katanya.
"Tiga tahun lalu aku pernah ikut jadi anggota Gafatar," katanya mengawali cerita.
Nasib bergabung atas ajakan adik iparnya, Senan (45) warga Jalan Pringgan Gang Pancing, Dusun II, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal. "Senan yang ngajak bergabung. Awalnya dia bilang gabung saja karena pengajian mereka bagus, semua diajari," aku Nasib.
Pernyataan itu pula yang membuat ayah tiga anak itu tertarik. Singkat cerita, hari pertama bergabung, Nasib langsung dibaiat (diangkat) oleh petinggi Gafatar. “Katanya untuk mengislamkan aku,” katanya.
Kala itu Nasib sempat curiga karena bukan dua kalimat syahadat yang diucapkannya. "Ada orang yang kami bilang ustad, saya lupa namanya, disuruh jabat tangan lalu disuruh ikuti macam dua kalimat syahadat tetapi bukan seperti dua kalimat syahadat bunyinya. Katanya supaya sah masuk anggota mereka," ungkap suami dari Sami ini.
Setelah mengikuti persyaratan itu, hari-hari berikutnya Nasib pun mulai didoktrin mengenai hijrah. "Dibilang kita harus hijrah dan setiap usaha itu ada pengorbanannya," katanya lagi.
Dalam perjumpaan antar anggota Gafatar, Nasib diajarkan Al-Quran yang tidak bertuliskan Arab, tetapi bahasa latin. "Tiap kami ngaji dulu, dikasih kayak Al-Quran tapi gak ada bahasa Arabnya, cuma bahasa Indonesia," ujar pria yang bekerja sebagai penjual kue itu.
Selama dua bulan mengikuti ajaran Gafatar, Nasib selalu bertengkar dengan istrinya. "Istri juga sering protes, katanya sudah gak betul lagi itu ajarannya itu," nasehat Sami pada Nasib. Kecurigaan Sami makin terasa saat para anggota Gafatar datang ke rumah mereka. Ketika Sami membuatkan teh, tidak ada satupun dari mereka yang meminumnya.
“Memang gak boleh diminum kalo yang buat bukan orang Gafatar," ucapnya lagi. Selain itu banyak juga pantangan yang dilakukan organisasi Gafatar kepada anggota, seperti tidak boleh makan yang tidak dimasak oleh anggotanya. Organisasi itu juga menyuruh anggota untuk sekali memakan nasi yaitu pada siang hari dan pada pagi hari serta malam hanya mengonsumsi ubi kayu yang direbus.
Aktifitas pencucian otak juga dirasakan oleh Nasib yang ditandai dengan setiap perjumpaan, dia selalu disodori bacaan yang wajib dibaca. "Setiap kali kami berkumpul, ada selembar kertas yang harus dibaca. Itu-itu saja yang dibaca," kenang Nasib. Di selembar kertas itu bertuliskan Komuniti Millah Abraham. "Tulisan di atas kertas, Komuniti Millah Abraham, bukan Gafatar," ucapnya.
Sementara itu, setiap anggota disuruh mengajak orang terdekat seperti istri dan anak untuk bergabung. Nasib yang mendapat arahan seperti itu menolak mengajak istrinya dikarenakan sudah merasa ada yang lain dari ajaran Gafatar. Disinggung mengenai adanya kemungkinan anggota Gafatar mengajak pendirian sebuah negara, ia tidak menampik tetapi tidak pula mengiyakan. "Kalo masalah itu aku kurang paham, yang jelas kami disuruh membawa anggota, disuruh mencari dana untuk organisasi dan akan dikasih tempat. Mereka juga mempunyai pimpinan di tiap daerah katanya,. Akan kita bangun sesuatu yang baru gitu aja katanya," ungkap Nasib.
Kurang lebih Nasib ikut dalam enam kali pertemuan. Nasib mengaku berat menolak pertemuan itu. Bahkan dalam keadaan hujan deras sekalipun, Nasib pasti datang untuk menghadiri pertemuan itu. “Seperti ada yang narik diriku datang,” katanya.
Beruntung Sami yang melihat hal itu berontak dan memaksa Nasib keluar dari organisasi tersebut. Dengan alasan keutuhan keluarga, akhirnya Nasib pun setuju keluar dari keanggotaan Gafatar. Sejak resmi keluar, semua pernak pernik termasuk kitab-kitab yang sebelumnya diberikan Gafatar ke Nasib ditarik kembali.
Belakangan Nasib sempat dipanggil oleh Senan untuk bergabung, namun keputusan Nasib sudah bulat untuk keluar. "Bayangkan saja tiap anggota dilarang berkomunikasi dengan orang lain. Alasannya gak mau didengar orang," ucap Nasib.
"Saya juga pernah dengar kalo Gafatar itu kelompok orang kecewa, gak puas gitu sama pemerintah," katanya.
Ketika ditanya mengenai ketidakpuasan di bidang apa? Nasib tidak mengetahuinya,. "Cuma gitu aja katanya, awak pun gak paham yang kita tahu dia itu menyimpang. Ketahuan kalinya pas bapak kami meninggal, sudah tidak boleh memandikan mayitnya sendiri, gak bisa makan yang kami masak," ucapnya lagi.
Lalu untuk mengetahui lebih dalam mengenai keterlibatan Senan di dalam Gafatar, salah seorang adiknya sempat memeriksa laptopnya. "Pas malam bapak meninggal kami heran, kemana-mana dia bawa laptop, kami tau dia gak bisa maen laptop. Kami bongkar isinya, ternyata semua tentang Gafatar," terangnya.
Kemudian Senan sempat mereka interogasi untuk disadarkan, namun ia tetap membela Gafatar. “Saat diminta mengucapkan dua kalimat syahadat, mulutnya kelu dan tidak dapat mengeluarkan bunyi yang diminta. Begitupun keluarga meminta untuk membacakan surat Al-Fatihah, ia pun lupa akan bacaan tersebut. Kontan Sampir emosi dan mengatakan kepada ibu kandungnya. Sudah, gak usah lagi anggap dia saudara kalo sudah sesat," tandasnya.
Hingga kini, Sanan dan istri serta anak mereka masih bergabung dengan Gafatar di Kalimantan.
Ditemui di lokasi terpisah, Handoko (21) warga Jalan Pringgan Gang Jambu, Dusun I, Desa Helvetia, Kecamatan Sunggal mengaku sedih ditinggalkan sendirioleh keluarganya. Handoko merupakan anak pertama dari empat bersaudara pasangan Senan (45) dan Ati (42). Menurut penuturan Koko nama akrab Handoko, bahwa ketuanya yang biasa disebut ayahnya adalah Surya Efendi. "Surya Efendi ketuanya, sering dibilang bapak," ucapnya. Lalu ia menjelaskan sejak tahun 2012 ayahnya mengikuti ajaran Gafatar.
"Saya simpatik dengan aksi sosialnya tetapi ajarannya tidak benar rupanya," tambah Koko. Sejak ayahnya bergabung, perubahan drastis dialami orangtuanya itu. "Berubah abis ngikut itu," terangnya. Terkini sejak kepergian orangtua beserta tiga adiknya ke Kalimantan mereka tetap menjaga komunikasi. "Kalo berhubungan tetap, mereka bilang sedang bekerja," aku Koko yang dihubungi Ati, ibunya.
Semasa maraknya pembakaran hutan di Kalimantan, Koko juga sering menanyakan kabar keluarganya di sana namun mereka menjawab bukan tinggal di daerah itu. "Mereka di sana beraktifitas, berladang, memelihara ikan di kolam dan bercocok tanam," ungkap pria berperawakan sedang itu.
Tepat pada Selasa (26/1) lalu, ia mendapat telepon dari ibunda yang menanyakan apakah keluarga disana masih menerima mereka atau tidak.
"Kami sudah gak punya apa-apa, apa keluarga masih nerima kami?” ucap Koko meniru pertanyaan ibunya. Meski begitu, Koko masih berharap kedua orangtua dan ketiga adiknya bisa pulang kembali ke Medan. “Saya ingin kami berkumpul kembali,” pungkas Koko. (ham/deo) Editor : Admin-1 Sumut Pos