MARELAN, SUMUTPOS.CO -Rumah Sakit (RS) Wulan Windi di Marelan, lagi-lagi mendapat sorotan. Pasalnya, pasien BPJS penderita sesak nafas dan paru-paru nyaris kehilangan nyawanya karena susah bernafas hingga menjadi lemas. Hal itu dipcu karena mereka dirawat di ruangan pengap dengan kondisi AC rusak bahkan tanpa kipas angin, Minggu (19/3) kemarin.
Buruknya fasilitas dan pelayanan di rumah sakit swasta ini, terungkap dari kegaduhan antara keluarga pasien dengan petugas medis. Ketika itu, Idris (62) , pasien pengguna kartu BPJS kesehatan, dipindahkan dari ruangan UGD (Unit Gawat Darurat) ke ruang rawat inap kelas dua.
Belum lama dipindahkan, tiba-tiba pasien berkeringat akibat pengap dan gerah, serta mulai sulit untuk bernafas. Melihat itu, keluarga pasien lantas bergegas menemui perawat agar diberi fasilitas kipas angin."Kalau gerah, bapak bawa kipas angin dari rumah saja. Karena AC di sini memang rusak," cetus seorang perawat wanita dengan ketus.
Merasa kesal dengan jawaban petugas rumah sakit, pihak keluarga lalu meminta agar pasien dipindahkan ke ruangan lain. Tapi, malah disarankan untuk kembali melapor ke petugas UGD. Kendati sempat memakan waktu lama, namun karena terus didesak, akhirnya proses pemindahan pasien ke ruangan lain disetujui. "Ruang nomor 9 ini kelas dua Pak, dan pasien dipindahkan ke ruang kelas tiga. Tapi, pembayaran tetap dihitung tarif ruangan kelas dua," kata perawat tersebut.
Pantauan wartawan koran ini, kegaduhan tersebut sempat jadi perhatian masyarakat, membuat perawat di RS Wulan Windi bergegas memindahkan pasien. Bahkan, oksigen di dalamtabung yang tadinya tinggal sedikit, langsung diganti oleh petugas Satpam rumah sakit.
Bonadi (41), pengunjung rumah sakit yang melihat kegaduhan, membenarkan kalau pelayanan dan fasilitas di RS Wulan Windi kurang memuaskan. Bahkan, pasien BPJS kelas tiga terkadang mesti naik ke ruang kelas dua, dengan alasan penuh."Jangankan pindah ruangan, kami yang minta dirujuk dipersulit. Alasannya seluruh rumah sakit di Medan sedang penuh," tutur Bonadi.
Dia mengaku, permintaan dirujuk ke rumah sakit lain disebabkan apa yang menjadi keluhan pasien maupun pihak keluarganya terkesan lambat ditanggapi. Bahkan, mereka harus menunggu terlalu lama."Coba lihat yang ribut tadi, untuk pemasangan oksigen ke pasien dilakukan Satpam, kemana perawatnya. Sedangkan kami minta dirujuk, gara-gara soal keluhan infus dan obat lambat ditanggapi, padahal bayar," bebernya.
Anggota DPRD Kota Medan Surianto SE menanggapi hal ini meminta pihak rumah sakit memperbaiki pelayanan terhadap masyarakat. Selain itu, ia menekankan agar Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan lebih meningkatkan pengawasan disetiap rumah sakit, khususnya layanan pasien rawat inap. "Keluhan seperti ini dari masyarakat, sudah sering kita dengar. Dimana
pasien tersebut adalah pemegang kartu BPJS, jadi perlu pengawasan yang maksimal," tegas politisi Partai Gerindra ini.(rul/ila) Editor : Admin-1 Sumut Pos