Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Atrium Mal Focal Point Disulap Jadi Museum Manusia Purba Sangiran

Admin-1 Sumut Pos • Sabtu, 21 Oktober 2017 | 13:06 WIB
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS Pengunjung mengamati koleksi manusia purba pada Pameran Museum Manusia Purba Sangiran di Mall Focal Point Jalan Ringroad Medan, Kamis (19/10/2017). Pameran museum manusia purba Sangiran yang digelar di lima kota di Sumatera t
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS Pengunjung mengamati koleksi manusia purba pada Pameran Museum Manusia Purba Sangiran di Mall Focal Point Jalan Ringroad Medan, Kamis (19/10/2017). Pameran museum manusia purba Sangiran yang digelar di lima kota di Sumatera t
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS Pengunjung mengamati koleksi manusia purba pada Pameran Museum Manusia Purba Sangiran di Mall Focal Point Jalan Ringroad Medan, Kamis (19/10/2017). Pameran museum manusia purba Sangiran yang digelar di lima kota di Sumatera t
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS Pengunjung mengamati koleksi manusia purba pada Pameran Museum Manusia Purba Sangiran di Mall Focal Point Jalan Ringroad Medan, Kamis (19/10/2017). Pameran museum manusia purba Sangiran yang digelar di lima kota di Sumatera t
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Pengunjung mengamati koleksi manusia purba pada Pameran Museum Manusia Purba Sangiran di Mall Focal Point Jalan Ringroad Medan, Kamis (19/10/2017). Pameran museum manusia purba Sangiran yang digelar di lima kota di Sumatera tersebut untuk memperkenalkan sejarah situs Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jateng yang telah diakui oleh UNESCO kepada masyarakat luas.

Ingin merasakan bagaimana suasana di zaman purba? Datang saja ke Mal Focal Point Medan. Di sana, setiap pengunjung akan merasakan suasana berbeda, seakan-akan berada di zaman purba. Arena pameran Museum Manusia Purba Sangiran ini digelar di Atrium Mal Focal Point Medan sejak Rabu (18/10) hingga besok, Minggu (22/10).


 

-------------------------------------

M IDRIS FIRDAUSY, Medan

-------------------------------------

 

Decak kagum tergambar dari raut wajah setiap orang yang memasuki arena pameran Museum Manusia Purba Sangiran. Bagaimana tidak, deretan koleksi fosil manusia dan hewan dengan umur jutaan tahun silam dipajang rapi di sana. Sehingga, menimbulkan kesan seolah kembali ke masa lampau.


Saat melangkah masuk ke arena pameran seluas sekitar 200 meter persegi itu, kita langsung dihadapkan dengan gading raksasa yang menjulang tinggi. Benda tersebut sepertinya sengaja didesain agar pengunjung serasa masuk ke museum sebenarnya, yang berada di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.


Ketika berjalan ke sisi kiri, terpajang fosil rahang buaya dan taring kuda sungai purba. Selain itu, terdapat juga tengkorak dan tanduk kerbau, tulang lengan atas gajah, serta tengkorak dan tanduk banteng.


Namun, bila berjalan ke sisi kanan, pengunjung akan semakin terkejut. Sebab, tersusun gading gajah raksasa beserta rahangnya dan tiga patung manusia purba.


Tiga patung yang merupakan laki-laki, perempuan dan anak tersebut menjadi pusat perhatian para pengunjung yang datang. Patung itu merupakan rekonstruksi dari Homo Erectus.


‎Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, Syukron Edi mengungkapkan, pameran itu sengaja diselenggarakan untuk mengedukasi masyarakat Medan dan Sumatera Utara khususnya para pelajar terhadap peradaban Manusia Purba Sangiran. Dengan begitu, wawasan mereka akan sejarah semakin bertambah.


"Situs Sangiran adalah salah satu situs manusia purba terlengkap di dunia. Potensi Situs Sangiran akan menjadi bukti-bukti manusia, peradaban, dan lingkungan terpendam di dalam tanah secara baik, tidak kurang dari 2 juta silam. Kontribusi Situs Sangiran berupa fosil manusia telah menyumbang 50 persen populasi Homo Erectus di seluruh dunia. Peradaban manusia pun telah dibuktikan dengan temuan perkakas Homo Erectus pada lapisan tanah berusia 1,2 juta tahun silam. Oleh karena kekayaan itu, UNESCO menyebut Situs Sangiran adalah salah satu situs kunci untuk pemahaman evolusi manusia," ungkap Syukron, kemarin.


Dikatakannya, situs ini menjadi salah satu bagian wilayah penelitian Louis Jean Chretien van Es, seorang geolog Belanda yang bekerja di Jawatan Geologi Hindia Belanda di Bandung. Pada tahun 1928, jawatan ini mengadakan program pemetaan di Jawa untuk kebutuhan agrikultur dan eksplorasi mineral Hindia Belanda yang targetnya selesai dalam 15 tahun.


Wilayah penelitian Jean meliputi 13 lapisan tanah di Jawa, sembilan di antaranya dilengkapi lampiran peta geologi, yaitu Baribis, Patiayam, Sangiran, Kaliuter Baringin, Lembah Sungai Bengawan Solo (Trinil), batas selatan dan utara Pengunungan Kendeng dan Gunung Pandan. Dibantu Gustav, Jean mengumpulkan data fosil spesies yang ditemukan dalam penelitiannya.




Photo
Photo
Foto: SUTAN SIREGAR/SUMUT POS
Pengunjung mengamati koleksi manusia purba pada Pameran Museum Manusia Purba Sangiran di Mall Focal Point Jalan Ringroad Medan, Kamis (19/10/2017). Pameran museum manusia purba Sangiran yang digelar di lima kota di Sumatera tersebut untuk memperkenalkan sejarah situs Sangiran di Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jateng yang telah diakui oleh UNESCO kepada masyarakat luas.

Di Sangiran, Gustav melakukan survei di Ngebung dan menemukan jejak-jejak keberadaan manusia purba. Di areal seluas 59,21 kilometer persegi pada 1934, dia kembali menemukan artefak hasil budaya manusia. Puncaknya pada dua tahun kemudian, dia menemukan delapan individu manusia Homo Erectus. Di sinilah dunia mencatat, Situs Sangiran di Sragen dan Karanganyar ditemukan pertama kali oleh Gustav.


"Sampai hari ini, sudah ditemukan 120 individu manusia purba Sangiran atau 50 persen dari populasi Homo Erectus di dunia," sebut Syukron.


Dijelaskannya, temuan awal Gustav berupa alat dari batuan kalsedon dan jasper berukuran kecil. Ini menjadi indikasi kuat keberadaan manusia awal di Sangiran. Perkakas batu tersebut punya ukuran dan teknologi pengerjaan yang khas, Gustav menyebutnya sebagai Sangiran Flakes Industry dalam publikasi perdananya.


"Temuan ini langsung menjadi perhatian dunia. Dalam kurun waktu 1936 sampai 1941, sisa-sisa peninggalan manusia purba terus ditemukan. Sangiran menjadi salah satu situs hominid yang penting di dunia," ucapnya.


Potensi Situs Sangiran dinilai warga dunia penting untuk ilmu pengetahuan. Pada 1977 situs ini ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya. Dilanjut pada 1996, Situs Sangiran menjadi salah satu situs warisan dunia oleh UNESCO dengan nomor C593.


Menurut dia, perbedaan situs Sangiran dengan situs-situs lain adalah, dalam lapisan tanahnya yang berusia 250.000 sampai 2 juta tahun tersimpan rekaman jejak manusia dan lingkungannya. Kehadiran Homo Erectus Sangiran ditemukan di lapisan tanah berusia antara 1,5 hingga 0,9 juta tahun silam. Lapisan tanah ini berupa endapan lempung hitam yang menunjukkan lingkungan rawa.


Ia menyebutkan, ada empat evolusi yang terjadi di Sangiran, pertama adalah evolusi lingkungan tanpa terputus sejak 1,9 juta sampai 2,4 juta tahun. Masa itu, Sangiran adalah laut dalam. Kemudian pada 1,9 juta hingga 900.000 tahun, Sangiran sudah berubah dari laut dalam menjadi laut tangkal lalu rawa-rawa. Selanjutnya, 900.000 tahun sampai saat ini menjadi daratan.


Evolusi kedua adalah manusia dimulai sejak Homo Erectus Tipik hidup pada 800.000 tahun lalu dan Homo Erectus Progresif yang hidup sekitar 250.000 tahun lalu. Ditemukan di Situs Ngandong Blora dan Sambung Macan, Sragen.


Berikutnya, evolusi ketiga adalah fauna terdapat tiga spesies gajah di Sangiran yaitu mastodon hidup 1,5 juta tahun, yang kemudian berevolusi menjadi stegodon trigonocephalus. Selanjutnya, menjadi elephas namacidus.


Terakhir, evolusi keempat merupakan evolusi budaya di mana ditemukan alat serpih atau hasil budaya manusia purba yang berumur 1,2 juta tahun lalu. "Pada intinya, selain memiliki potensi peninggalan manusia dn budayanya, Situs Sangiran juga mempunyai potensi fosil fauna yang tersebar pada seluruh tingkatan. Mulai dari lapisan endapan laut, rawa hingga daratan. Ragam fauna yang ditemukan pun sangat banyak, antara lain gajah, rusa, kerbau, sapi, banteng, badak, dan lain sebagainya," bebernya. (*/adz)

 

  Editor : Admin-1 Sumut Pos
#Atrium Mal Focal Point #museum manusia purba sangiran #pameran Museum Manusia Purba