Anak-anak yatim di Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah Pulo Brayan Jalan KL Yos Sudarso, Km 6, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli.
SUMUTPOS.CO - Tak memiliki orangtua dan sanak saudara, bukan menjadi penghalang untuk melaksanakan ibadah puasa bagi anak-anak yatim di Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah Pulo Brayan Jalan KL Yos Sudarso, Km 6, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli ini. Bagaimana aktivitas mereka menjalankan ibadah puasa?
==================================================
Fachril Syahputra, Belawan
==================================================
Siang itu, dengan panas terik matahari berada di ufuk kepala, tampak penghuni Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah dengan jumlah 309 anak yatim piatu melaksanakan ibadah rutinitas selama bulan suci Ramadan. Dengan keragaman suku, asal muasal dan karakter, anak - anak berpakaian muslim dan muslimah disibukkan dengan tugas dan kewajiban mereka masing - masing.
Kewajiban ibadah serta rutinitas selama bulan suci ramadan, mengajarkan anak-anak asuhan Al Jamiyatul Washliyah mampu melaksanakan tugas dan tanggung jawab secara bersama. Mereka dituntut harus masak untuk sahur, berbuka puasa, beribadah serta mengerjakan kewajiban di tempat mereka tinggal itu secara bersama. Dengan kebersamaan yang mereka lakukan merupakan bagian dari suatu kekeluargaan.
"Bulan Ramadan ini banyak hikmahnya, kami diajarkan untuk sabar dan hidup kekeluargaan, bagaimana kami bisa memasak sahur dan berbuka puasa dari kami dan untuk kami. Di sinilah kami merasakan kebersamaan seperti hidup di keluarga sendiri," cerita Andika, salah satu anak panti di situ.
Selama bulan Ramadan, mereka tidak hanya merasakan kegiatan sahur dan berbuka, tapi juga termotovasi secara bersama untuk meningkatkan keimanan dan ibadah. "Kami juga bisa bersama - sama tadarus, salat dan mendengar ceramah. Walaupun kami tidak memiliki keluarga, tapi rasa kebersamaan membuat kami seperti bersama keluarga sendiri," ungkap Andika.
Memang mereka hidup tanpa orangtua dan tinggal di panti asuhan. Tentu saja mereka sangat ingin merasakan utuhnya keluarga seperti anak lainnya. Tapi takdir berkata lain, mereka ditakdirkan menjadi yatim dan piatu. Apalagi, mereka tidak bisa merasakan wanginya baju baru untuk dipakai saat Idul Fitri.
"Kalau lebaran nanti, kami hanya bisa bermain di panti. Kami tidak pakai baju baju lebaran karena kami tak punya. Harapan kami, adanya uluran tangan yang bisa memberikan kebahagiaan bagi kami nanti marayakan lebaran," pinta Andika.
Tak hanya itu, remaja kelas 2 SMP ini juga mengharapkan santunan pendidikan yang dalam waktu dekat ini masuk tahun ajaran baru. "Sebentar lagi kami mau sekolah, kami sangat butuh buku, pakaian dan alat tulis. Semoga apa yang kami harapkan dapat didengar oleh orang yang mau membantu kami," harap Andika.
Sekretaris Pengelola Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah, Zulkifli S Pd, mengatakan, mereka yang ada di Panti Asuhan Pulo Brayan bejumlah 309 orang dengan kategori yang masih SD sebanyak 29 orang, Madrasah Tsanawiyah sebanyak 165 orang dan Madrasah Aliyah sebanyak 115 orang. Kehadiran panti asuhan sebagai lembaga untuk membina, melindungi, merawat dan memelihara anak - anak yatim dan piatu.
"Anak - anak yang ada di panti ini, mereka tidak hanya kita berikan kehidupan sebagai tempat tinggal, tapi mereka butuh pendidikan yang sudah kita fasilitasi. Hanya saja sarana pendukung sangat dibutuhkan khususnya alat tulis dan pakaian sekolah," sebut Zulkifli.
Harapannya, dengan bulan Ramadan yang penuh berkah beriringan dengan akan masuknya tahun ajaran baru, dapat membuka para dermawan membantu pendidikan mereka.
"Mereka kita bina secara ketakwaan dan ilmu pendidikan agar mampu hidup bersama dan bertanggungjawab, selama bulan puasa, mereka melaksanakan kegiatan rutinitas ibadah yang sudah kita terapkan sepeti tahun sebelumnya," terang Zulkifli.
Dijelaskan pria berusia 37, Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah Pulo Brayan dulunya adalah Majlis Anak Yatim berdiri pada tahun 5 Mei 193, yang didirikan oleh Arsyad Thalib Lubis, Ismail Banda, Abdurrhman Sihab dan Syekh Muhammad Yunus bersama para ulama lainnya.
Dengan usianya yang sudah 83 tahun, Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah Pulo Brayan telah merawat, mengasuh, mendidik dan membina hingga jutaan anak yatim piatu dan fakir miskin.
"Mereka - mereka yang menjadi asuhan merupakan orang yang terlantar, berasal dari berbagai daerah yang ada di kabupaten dan kota di Sumatera Utara, sudah banyak yang telah hidup dalam kesuksesan," terang Zulkifli.
Dengan perkembangan zaman, lanjut Zulkifli, kehadiran Panti Asuhan Al Jamiyatul Washliyah Pulo Brayan kini mulai mengalami perubahan dari fisik bangunan. Mereka - mereka yang menjadi asuhan telah merasakan fasilitas seperti gudang logistik, aula, ruang makan, kamar, dapur umum, mesjid, kamar mandi umum, perpustakaan, sarana olahraga, gedung sekolah serta asrama untuk putra dan putri.
"Anak - anak ini kita ajarkan bagaimana merawat, menjaga kebersihan, bertanggung jawab serta hidup sehat, jadi fasilitas yang ada tetap terjaga oleh mereka. Harapannya, dengan adanya fasilitas ini, mereka bisa lebih hidup mandiri untuk kebersamaan menjalankan tanggung jawabnya," pungkas Zulkifli. (*)
Editor : Admin-1 Sumut Pos