Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Yan Djuna: Tradisi Upah-Upah Adat Melayu Deli Kota Medan Jangan Dilupakan

Redaksi Sumutpos.co • Senin, 23 Desember 2024 | 15:37 WIB
UPAH-UPAH: Yan Djuna (2 kiri) menghadiri upah-upah Kenduri Masyarakat Adat Melayu Kota Medan.(ISTIMEWA)
UPAH-UPAH: Yan Djuna (2 kiri) menghadiri upah-upah Kenduri Masyarakat Adat Melayu Kota Medan.(ISTIMEWA)

SUMUTPOS.CO - Masyarakat adat Melayu memiliki beragam budaya dan adat istiadat. Diantaranya adalah tradisi upah-upah. Upah-upah menjadi tradisi yang dimaksudkan mengembalikan semangat dalam diri baik seseorang atau kelompok melalui pembacaan doa disertai upacara tepung tawar.

Upah-upah juga diartikan sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan agar Alllah SWT memberi kelancaran dalam usaha dan pekerjaan serta dijauhkan dari musibah.

Dimulai dari Sabtu (21/12) pagi hari hingga tengah hari di Balairung (ruangan tamu) Istana Maimun, digelar tradisi upah-upah ini untuk Gubsu terpilih Muhammad Bobby Afif Nasution dan Wali Kota Medan terpilih Rico Tri Putra Bayu Waas.

Hadir di icon pariwisata dan kebanggaan masyarakat Kota Medan ini dalam balutan busana Melayu. Acara ini dilaksanakan oleh masyarakat adat Melayu Kota Medan.

Tak hanya kedua calon pemimpin daerah ini yang memakai busana adat Melayu, para undangan yang hadir juga memakai busana Melayu yang tampak elegan dan berkelas. Yang pria berkain songket berbagai corak di pingggang, bercekak musang walau sebagian berteluk belanga dengan memakai peci hitam dan tengkulok. Sementara yang wanita berbaju kurung dan berkebaya Melayu warna warni dengan memakai hijab yang senada.

Tampak hadir di acara yang bertajuk Upah-upah Kenduri Masyarakat Adat Melayu Kota Medan, Sultan Deli ke-14 Mahmud Aria Lamanjiji Perkasa Alamsyah, Sultan Serdang Tengku Ameck Achmad Thalaa, Sultan Langkat yang diwakili Pangeran Tengku Ariefanda Aziz, Pangeran Bedagai Tengku Achmad Syafei, YM Datuk Sunggal dan Datuk Sepuluh Dua Kota.

Turut hadir kepala dinas, petinggi pejabat Pemko Medan, akademisi, praktisi, ketua organisasi Melayu seperti MABMI, tokoh masyarakat dan tokoh pemuda Melayu dan banyak lagi.

Acara upah-upah seperti lazimnya diisi Ratib Al Haddad yaitu pembacaan zikir dan wirid yang berisi pujian dan pengagungan kepada Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW, serta permohonan rahmat, ampunan dan berkah.

Selanjutnya dilakukan pemberian tepung tawar oleh para kepala adat dan tokoh masyarakat yang mendapat kehormatan kepada Muhammad Bobby Afif Nasution dan Rico Tri Putra Bayu Waas.

Lalu makan siang dengan tradisi nasi hadap-hadapan dengan iringan orkes Melayu yang mendayu dan menderu yang memberi nuansa akrab dan menghibur.

Tradisi upah-upah ini kiranya dapat terus dilestarikan agar budaya leluhur bangsa khususnya Melayu Deli terus hidup dan tidak hilang di bumi.

''Ini kearifan lokal yang bernilai dan historikal, identitas bangsa Indonesia yang wajib diwariskan, selama pelaksanaannya tak bertentangan dengan syariat Islam yaitu tidak syirik dan mubazir. Saya pikir unik bagi daya tarik pariwisata,'' ungkap Yan Djuna, tokoh pemuda Melayu, akademisi serta praktisi pemasaran sekaligus pengamat pariwisata dan ekonomi kreatif yang hadir di acara tersebut.

Ia berharap gelaran upah-upah yang mendapat dukungan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemko Medan.

''Semoga, Bobby dan Rico yang kelak memegang tanggung jawab memimpin Provinsi Sumut dan Kota Medan mendapatkan kelancaran, keberkahan dan amanah dalam memimpin daerah,'' lanjut pria yang juga berprofesi sebagai penyiar RRI Pro4 FM dan oodcaster di Naira Studio Podcasting tersebut. (dmp/han)

Editor : Redaksi
#Tradisi Upah Upah