MEDAN, SUMUTPOS.CO - Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Medan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) akan tetap memonitor dan mengevaluasi Kabupaten/Kota di Sumut, untuk lebih atensi kepada hal-hal yang berpotensi di masyarakat.
"Seperti masa perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) hingga H+7, kita memberikan peringatan sebagai antisipasi agar masyarakat lebih waspada. Apalagi di lintasan jalur Medan-Berastagi, bencana longsor yang telah memakan korban," kata Kepala BPBD Provinsi Simut, Tuahta Ramajaya Saragih, dalam acara Kaleideskop BBMKG Wilayah 1 Medan, di Kantornya, Jalan Ngumban Surbakti Medan, Rabu (8/1).
Dijelaskannya, peringatan dini terkait prakiraan cuaca yang dapat memicu bencana juga akan diinformasikan melalui kepada kepala daerah masing-masing di Kabupaten/Kota di Sumut melalui BPBD daerah untuk setiap bulannya, demi kenyamanan masyarakat.
"Ini kita akan memasuki rendahnya curah hujan, maka nanti akan kita ingatkan masyarakat. Jika curah hujan kembali meningkat maka akan kita berikan peringatan lagi," tandasnya.
Kepala BMKG Wilayah 1 Sumut, Hendro Nugroho menambahkan, pihaknya akan selalu menyampaikan prediksi cuaca per 6 bulan sekali, seperti di Bulan April 2025 diprediksi musim kemarau dan Oktober 2025 memasuki musim penghujan. Pihaknya juga merilis per 10 harian kepada BPBD dan Gubernur Sumut, hingga antisipasinya. Termasuk bencana, seperti banjir dan longsor.
"Bahkan turun lagi per 7 harian, kita berikan data-data prediksi cuaca, hingga 3 harian, 1 harian bahkan per jam an. Ini tujuannya agar masyarakat 'aware'. Jika diberikan per 10 harian tidak mengambil sikap, maka akan terus kami berikan peringatan hingga per harian. Jika sudah begitu, maka tandanya di suatu wilayah tersebut harus segera antisipasi, misalnya terhadap cuaca ekstrem," katanya.
Disinggung terkait ledakan Megathrust, Hendro mengungkapkan, masih belum dapat diprediksi. Namun, ia meminta masyarakat dan Pemerintah Daerah (Pemda) harus bersiaga.
"Kita belum bisa tebak dan belum ada teknologi ataupun pengetahuan yang dapat memprediksi akan terjadinya gempa buminya itu," ungkapnya.
Menurutnya, wilayah yang punya potensi besar terkena ledakan Megathrust berada di wilayah Pantai Barat Sumatera.
"Sepanjang Pantai Barat Sumatera, itu kemungkinan kalau meledak isi perut berarti Pantai Barat Sumatera akan kena semua, itu yang perlu antisipasi," tegasnya.
Karena itu, Hendro mengimbau, harus ada kerja sama dari berbagai stakeholders. Ia pun menegaskan pentingnya peran Pemerintah dalam menghadapi ledakan Megathrust ini.
Dijelaskannya, bahwa Pemda juga harus mengevaluasi bagaimana jalur evakuasinya, apakah ada rambu-rambu evakuasi yang sudah disiapkan, terutama di Pantai Barat Sumut, yakni Mandailingnatal (Madina), Tapanulitengah (Tapteng), dan Tapanuliselatan (Tapsel). Apakah sudah ada rambu-rambu evakuasinya atau penampungannya.
"Kita tinggal di daerah megatrust, ini kalau terjadi tsunami apa yang harus dilakukan dan harus kemana. Ini adalah problem yang kita hadapi, tapi dengan bersama-sama antara BMKG dan stakeholder terkait serta masyarakat, maka akan bersama-sama bisa kita menyikapi bencana tsunami ini," pungkasnya. (dwi/han)
Editor : Redaksi