Tangis kecil Nayra Azizah pecah di ruang gawat darurat sebuah rumah sakit swasta di Kota Medan. Malam itu tak akan pernah dilupakan ibunya, Selvia. Bayi mungil kelahiran 8 September 2024 itu mengalami kejang hingga tiga kali. Dokter mendiagnosis Nayra menderita pneumonia, penyakit yang sebenarnya bisa dicegah jika imunisasi diberikan tepat waktu.
Kini, pengalaman menakutkan itu mengubah cara Selvia memandang imunisasi. Vaksin bukan lagi sekadar pilihan, melainkan perisai nyata bagi keselamatan sang buah hati.
Sepekan sebelum kejadian itu, Selvia (25), warga Jalan Air Bersih Ujung, Kecamatan Medan Kota, sempat merasa Nayra hanya terserang demam biasa. Ia memberikan obat penurun panas dari klinik terdekat di kediamannya. Namun, demam tak juga turun. Tubuh Nayra justru makin lemah, dan malam itu, kejang pertamanya datang tiba-tiba. “Waktu itu saya benar-benar panik. Badannya panas sekali, matanya terbalik, lalu kejang. Saya langsung bawa ke rumah sakit,” kenang Selvia dengan mata berkaca-kaca.
Di rumah sakit, dokter memutuskan Nayra harus dirawat intensif. Nayra pun dirawat selama tiga hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi paru akibat pneumonia yang cukup parah di paru sebelah kanan Nayra. Bahkan, Nayra sempat mengalami kritis. Beruntung dokter dan tim medis melakukan segala upaya hingga nyawa Nayra akhirnya tertolong.
“Salah satu penyebabnya karena daya tahan tubuh bayi belum terbentuk sempurna. Makanya, imunisasi bagi anak itu penting, harus lengkap diberikan,” jelas dokter anak yang menangani Nayra saat itu, Dr dr Johannes Harlan Saing, MKed (Ped) SpA, Subsp. Neuro, yang bertugas di RS Stella Maris Medan.
Selvia terdiam. Ia teringat beberapa bulan sebelum Nayra sakit, ia hanya memberikan imunisasi tahap pertama, yaitu imunisasi Hepatitis B (HB-0) untuk melindungi dari virus Hepatitis B yang dapat menyebabkan penyakit hati serius, imunisasi BCG untuk melindungi dari penyakit TBC (tuberkulosis), dan imunisasi Polio oral (OPV-0) untuk melindungi dari virus polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan.
Padahal, seharusnya Nayra sudah menerima imunisasi lengkap di usianya yang 9 bulan saat itu. “Saya takut efek sampingnya demam tinggi dan sakit, makanya waktu itu saya berhenti memberikan imunisasi ke tahap kedua, hanya tahap pertama saja,” katanya lirih.
Kini, setelah pengalaman pahit itu, Selvia mengaku menyesal. Ia mulai rajin mengikuti penyuluhan di posyandu dan mengejar imunisasi yang tertinggal. Bahkan, baru-baru ini Nayra sudah diberikan imunisasi campak dan influenza.
Tak lupa, Selvia ikut mendorong para ibu di lingkungannya agar tak takut membawa anak mereka imunisasi. “Saya tak mau ibu lain mengalami hal yang sama. Jangan takut membawa anak untuk imunisasi hingga lengkap. Meskipun ada imunisasi yang tak ditanggung pemerintah seperti imunisasi influenza, tetaplah berikan karena sekarang lagi merebak penyakit influenza,” ujar Selvia berpesan.
Kementerian Kesehatan RI menyatakan, pneumonia sebagai pembunuh senyap karena menyerang paru-paru, melelahkan napas, dan bahkan menyebabkan kematian terutama pada anak. Pneumonia yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur terus menjadi ancaman serius bagi anak-anak di dunia. Kematian akibat pneumonia terjadi setiap 43 detik, yang berarti sekitar 700 ribu anak meninggal setiap tahunnya karena pneumonia.
Direktur Mutu Sumberdaya Manusia Kesehatan, dr Yudhi Pramono, MARS, mengatakan pneumonia merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian terbesar pada balita di Indonesia. "Ini menunjukkan bahwa pneumonia merupakan ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak,” tutur dr Yudhi baru-baru ini di Jakarta.
Baca Juga: Ini Alasan Megawati Hangestri Pertiwi Putuskan Kontrak dengan Manisa BBSK
Selain pneumonia, banyak penyakit lain menyerang bayi dan anak akhir-akhir ini. Di Kota Medan, terdapat kasus penyakit akibat rendahnya cakupan imunisasi. Salah satu contohnya adalah wabah campak beberapa bulan lalu.
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat bahwa sejak Januari hingga 10 Juli 2025, terdapat 159 kasus campak positif di Medan, menjadikannya wilayah dengan angka tertinggi di antara 12 daerah di Sumatera Utara yang berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak.
Mayoritas kasus tersebut terjadi pada anak-anak usia 1–9 tahun, dan sekitar 56% di antaranya tidak memiliki riwayat imunisasi Measles-Rubella (MR). Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya cakupan imunisasi menjadi faktor utama meningkatnya kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di Kota Medan.
Tapi, belum usai wabah campak, belakangan ini muncul penyakit influenza. Tren kasus influenza di Indonesia meningkat menjadi 38 persen, menyerang bayi, balita, anak-anak, hingga orang dewasa. Bahkan, hampir seluruh Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit di Kota Medan dipenuhi pasien penyakit influenza A.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman, menyatakan, subtipe virus influenza yang dominan saat ini adalah influenza A. “Kenaikan kasus influenza biasanya terjadi mulai awal September hingga awal tahun berikutnya,” ujar Aji Muhawarman di Jakarta, Kamis (9/10/2025).
Tak berhenti di penyakit influenza, di akhir Oktober ini muncul penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Medan yang melonjak drastis. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan mencatat sebanyak 30.952 warga Kota Medan terserang ISPA hingga akhir September 2025. Lonjakan ini membuat Dinkes sudah mengeluarkan surat edaran yang meminta masyarakat untuk kembali disiplin menerapkan protokol kesehatan.
Sesuai namanya, ISPA menimbulkan peradangan di saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru. Kondisi ini bisa disebabkan oleh infeksi virus dan bakteri, yang sangat mudah menular, misalnya lewat percikan air liur dari batuk penderita.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Medan dr Irliyan Saputra, SpOG, mengatakan, berbagai penyakit yang menyebar dan menjangkiti bayi, balita dan anak, bisa diantisipasi dengan memberikan imunisasi. Sebab, imunisasi merupakan investasi kesehatan untuk anak di masa depan.
"Imunisasi secara efektif melatih sistem kekebalan tubuh anak untuk membangun pertahanan, membuat anak lebih kuat menghadapi infeksi di masa depan. Jadi, harus memberikan vaksin sesuai jadwal, termasuk imunisasi dasar dan imunisasi lanjutan. Vaksin imunisasi diberikan gratis di fasilitas kesehatan pemerintah seperti puskesmas dan posyandu," ujar dr Irliyan Saputra kepada wartawan Sumut Pos, Selasa (28/10/2025).
Menurutnya, imunisasi mempersiapkan tubuh anak untuk mengenali dan melawan virus atau bakteri penyebab penyakit. Sehingga, mengurangi risiko penyakit seperti campak, rubella, polio, difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, TBC, pneumonia, dan penyakit lain yang bisa berakibat fatal.
Meski pun ada vaksin imunisasi yang tidak ditanggung pemerintah, lanjutnya, ia menyarankan harus diberikan kepada bayi, balita, dan anak demi aset kesehatan. "Lebih baik keluar uang sedikit untuk mendapatkan vaksin yang tidak ditanggung pemerintah, daripada keluar uang besar untuk mengobati di masa mendatang," kata dr Irliyan lagi.
dr Irliyan berpesan kepada para ibu agar tidak takut membawa anaknya untuk imunisasi. Sebab, vaksin imunisasi sudah terjamin keamanannya karena telah melewati penelitian panjang. "Kalau tidak aman, mana mungkin diproduksi secara massal. Dan, para dokter anak juga sudah menganjurkan. Jadi jangan takut untuk membawa anak vaksin imunisasi," imbaunya.
Baca Juga: PSMS vs Garudayaksa: Siap Main Rap-Rap
Saat ini, kata dr Irliyan, Dinkes Kota Medan terus menggalakkan imunisasi melalui program Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI) yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun. "Ini untuk meningkatkan cakupan imunisasi," pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Medan dr Pocut Fatimah Fitri, merinci data terbaru capaian imunisasi di Kota Medan. Seperti, Imunisasi dasar lengkap (IDL) pada bayi mencapai 13.401 dari sasaran 34.611 bayi atau sebesar 38,72 persen. Imunisasi baduta lengkap (IBL) tercatat mencapai 11.731 dari 35.085 anak atau 33,44 persen.
Untuk kegiatan Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), capaian MR 1 mencapai 13.102 anak dari 40.266 sasaran atau 32,54 persen, dan vaksin HPV 1 mencapai 6.585 anak dari 18.731 sasaran atau 35,16 persen. Sementara pelaksanaan imunisasi difteri-tetanus (Dt/Td) akan dilakukan pada bulan November 2025.
Pada kategori imunisasi antigen baru, capaian imunisasi polio (IPV 2) mencapai 19.743 anak dari 34.611 sasaran atau 57,04 persen. Imunisasi rotavirus (RV 3) mencapai 10.930 anak atau 31,58 persen, dan imunisasi pneumokokus (PCV 2) mencapai 15.739 anak atau 45,47 persen. Adapun cakupan imunisasi T2+ bagi ibu hamil mencapai 7.220 orang dari 36.803 sasaran atau 19,62 persen.
"Kota Medan sendiri memiliki 1.270 posyandu balita yang masing-masing terdiri dari dua tenaga kesehatan dari puskesmas dan lima kader posyandu. Sehingga, total jumlah kader kita ada 6.375 orang. Dalam meningkatkan cakupan imunisasi serta mencegah dan menurunkan kejadian luar biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), maka Dinkes Kota Medan melaksanakan kegiatan PENARI," ujar dr Pocut kepada Sumut Pos, Rabu (29/10/2025).
Dikatakan dr Pocut, kegiatan PENARI ini dilaksanakan berdasarkan Surat Menteri Kesehatan RI Nomor IM.01.01/C.IV/3405/2025 tanggal 3 Oktober 2025 tentang pelaksanaan Sepekan Mengejar Imunisasi dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional Tahun 2025. Pelaksanaannya berlangsung mulai 27 Oktober hingga 1 November 2025 di seluruh wilayah Kota Medan.
Adapun kegiatan PENARI dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yaitu pada peringatan Pekan Imunisasi Dunia (PID), Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, dan Hari Kesehatan Nasional (HKN). PENARI merupakan kegiatan pemberian imunisasi serentak secara nasional selama satu minggu yang dilaksanakan di posyandu, puskesmas, fasilitas pelayanan kesehatan, serta pos imunisasi yang telah ditetapkan.
"Bagi bayi atau balita yang tidak dapat hadir ke pos pelayanan imunisasi, petugas kesehatan akan melaksanakan sweeping imunisasi dari rumah ke rumah (door to door). Sweeping imunisasi ini dilakukan untuk memastikan seluruh anak di Kota Medan mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal dan tidak ada yang terlewat," pungkas dr Pocut.
Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko penyebaran penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi dan mewujudkan anak-anak Medan yang sehat dan terlindungi untuk masa depan.(ila)
Editor : Redaksi