Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Kisah Korban Kebakaran Pajak Pekong Labuhan, Jalani Sahur di Tenda Pengungsian

Juli Rambe • Kamis, 19 Februari 2026 | 20:37 WIB
Ramadhan, korban kebakaran Pajak Pekong di Medan Labuhan berdiri di antar puing- puing sisa kebakaran. (Dok: istimewa)
Ramadhan, korban kebakaran Pajak Pekong di Medan Labuhan berdiri di antar puing- puing sisa kebakaran. (Dok: istimewa)

 

MEDAN, SUMUT POS- Kebakaran Pajak Pekong di Medan Labuhan masih merasakan duka yang mendalam. Terutama untuk Ramadhan, warga yang rumahnya menjadi korban kebakaran.

Kebakaran yang terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 10.00 WIB itu, menghanguskan sedikitnya 11 rumah warga. Mayoritas korban merupakan pedagang yang sehari-hari berjualan di kawasan “pajak pagi” atau pasar pagi setempat.

Ramadhan masih mengingat betul detik-detik awal kejadian. Saat itu, aktivitas jual beli tengah berlangsung seperti biasa. Tak ada firasat apa pun.

“Kami tahunya dari seorang ibu yang habis belanja. Dia bilang ada asap dan api di atas bangunan,” ujar Ramadhan saat ditemui Sumut Pos, Kamis (19/2/2026).

Mendengar kabar tersebut, warga berhamburan keluar. Listrik langsung dimatikan untuk mencegah percikan api semakin meluas. Ramadhan berusaha menyelamatkan apa pun yang bisa diraih dalam waktu singkat.

“Saya cuma sempat selamatkan ijazah, surat-surat penting, sepeda motor, 5 kilo beras, tabung gas, sama beberapa helai pakaian. Selebihnya habis semua,” tuturnya lirih.

Api dengan cepat membesar dan menjalar dari satu rumah ke rumah lain. Material bangunan yang sebagian besar berbahan kayu serta banyaknya barang dagangan seperti plastik, karet, dan kertas yang disimpan di dalam rumah membuat kobaran api tak terkendali. Ditambah lagi, angin siang itu bertiup cukup kencang.

“Api cepat sekali menyebar. Karena di rumah kami ini juga tempat simpan barang dagangan. Plastik, karet, kertas, semua mudah terbakar,” jelasnya.

Dalam waktu singkat, 11 rumah rata dengan tanah. Para penghuni hanya bisa menyaksikan api melalap habis harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun. Tangis dan kepanikan bercampur di tengah terik matahari siang itu.

Bagi Ramadhan dan warga lainnya, rumah bukan sekadar tempat tinggal. Di sanalah mereka menyimpan stok dagangan, peralatan usaha, dan harapan untuk menyambung hidup. Kini, semuanya lenyap.

Meski duka menyelimuti, bantuan dari berbagai pihak mulai berdatangan. Aparat kelurahan dan kecamatan, personel Polsek Medan Labuhan, hingga relawan langsung turun ke lokasi membantu proses evakuasi.

“Alhamdulillah, Pak Lurah, Pak Camat, dari kepolisian juga datang. Mereka bantu evakuasi barang-barang dan mendampingi kami,” kata Ramadhan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) segera mendirikan posko darurat dan menyediakan makanan bagi para korban. Pada sore harinya, Dinas Sosial turut menyalurkan nasi bungkus.

Beberapa jam sebelum wawancara dilakukan, bantuan berupa selimut, perlengkapan mandi, alat kebersihan, minuman, dan makanan cepat saji juga telah diterima warga.

“Atas nama warga, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kota Medan, Pak Camat, dan Pak Lurah yang sudah membantu kami. Bantuan ini sangat berarti,” ucap Ramadhan.

Namun, di balik rasa syukur itu, terselip kekhawatiran akan hari esok. Malam pertama tanpa rumah menjadi kenyataan pahit yang harus mereka hadapi. Anak-anak, orang tua, dan seluruh keluarga kini bergantung pada tenda dan bantuan darurat.

Ramadhan berharap pemerintah dapat membantu pembangunan tempat tinggal sementara bagi para korban.

“Kami berharap ada bantuan untuk bangun tempat tinggal sementara. Minimal ada yang beratap, semacam ‘kotak sabun’, supaya kami ada tempat berteduh,” pintanya.

Kini, yang tersisa hanyalah puing dan kenangan. Di atas tanah yang menghitam, para korban berusaha menguatkan satu sama lain. Di tengah luka dan kehilangan, mereka menggenggam harapan bahwa dari abu yang tersisa, kehidupan akan kembali tumbuh. (san/ram)

Editor : Juli Rambe
#Korban kebakaran pajak pekong #Korban kebakaran jalani puasa di tenda pengungsian #Pajak pekong terbakar