MEDAN - Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Toru dan Ketua Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, Prof. Dr. Djufri, M.Si menandatangani kontrak bantuan dana hibah program Grant Assistance for Grassroots Human security Projects senilai 452,357 USD untuk penyediaan alat berat pembersih lahan guna pemulihan bencana alam di Provinsi Aceh.
Jepang telah mengadakan berbagai bantuan pemulihan bencana seperti rekonstruksi perumahan, gedung sekolah, dan infrastruktur dasar di Aceh setelah terjadi gempa bumi dan Tsunami berskala besar pada tahun 2004.
" Kami juga terus melaksanakan upaya pencegahan bencana di Provinsi Aceh melalui program Bantuan Hibah Grassroots untuk Keamanan Manusia. Sebagai proyek terbaru, kami membangun Pusat Edukasi Tsunami di Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, dan meresmikannya pada bulan Desember 2024," ujar Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori.
Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, dan tanah longsor sering terjadi di Provinsi Aceh. Banjir dan tanah longsor menyebabkan rumah terendam air dan penumpukan tanah, memaksa warga mengungsi, serta jembatan dan jalan rusak akibat gempa bumi.
" Melihat situasi ini, kami telah memutuskan untuk memberikan 8 (delapan) unit alat berat pembersih lahan terdiri dari 4 (empat) unit ekskavator dan 4 (empat) unit truk melalui program Bantuan Hibah Grassroots kepada Yayasan Sekolah Laboratorium Syiah Kuala, " ujarnya.
Bantuan Hibah ini merupakan bentuk kerja sama, dukungan, dan kepedulian dari masyarakat Jepang kepada masyarakat Indonesia. " Kami berharap alat berat pembersih lahan yang kami hibahkan dapat berkontribusi pada pemulihan secepat mungkin saat bencana alam terjadi di Provinsi Aceh, tambah Furugori
.
Bantuan Hibah Grassroots dari Pemerintah Jepang kepada masyarakat Indonesia bertujuan untuk mengatasi permasalahan kebutuhan dasar manusia di berbagai bidang termasuk kesehatan, sosial, pendidikan, dan lingkungan sehingga hubungan persahabatan dan kerja sama Jepang dan Indonesia akan makin erat ke depannya. (sih)