MEDAN, SUMUT POS - Penyebab pasti ledakan dahsyat yang merobohkan sebuah rumah di Kompleks Grand Polonia, Kota Medan, hingga kini masih menunggu hasil penyelidikan aparat kepolisian bersama instansi terkait.
Berbagai kemungkinan masih didalami, termasuk dugaan kebocoran gas yang disebut-sebut menjadi pemicu ledakan tersebut.
Di tengah proses investigasi itu, Dosen Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara (USU), Ir. Makmur Ginting, menjelaskan bahwa dari sudut pandang konstruksi, runtuhnya sebuah bangunan akibat ledakan sangat mungkin dipicu oleh rusaknya elemen-elemen struktur utama bangunan akibat getaran yang ditimbulkan ledakan.
Baca Juga: Aksi Damai di Kejati Sumut, Massa Dukung Kejaksaan Berantas Korupsi
Menurut Makmur, sebuah rumah tidak akan langsung roboh hanya karena dinding atau atapnya mengalami kerusakan. Agar bangunan benar-benar runtuh, biasanya harus terjadi kegagalan struktur pada bagian yang berfungsi menopang seluruh beban bangunan, yakni fondasi dan tiang penyangga.
"Kalau rumah runtuh, biasanya karena fondasinya atau pilar tiangnya yang mengalami kerusakan. Mungkin akibat ledakan itu timbul getaran yang menyebabkan fondasi retak atau patah. Akibatnya tiang tidak lagi mampu menopang beban bangunan yang ada di atasnya," kata Makmur saat memberikan keterangan kepada Sumut Pos, Rabu (22/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa gelombang kejut yang muncul dari sebuah ledakan akan menghasilkan getaran yang merambat ke seluruh bagian bangunan. Apabila getaran tersebut cukup kuat, maka bagian struktur yang paling vital dapat mengalami retak, bergeser, bahkan patah.
Ketika kondisi itu terjadi, kemampuan struktur untuk menopang beban bangunan akan berkurang secara drastis. Beban yang sebelumnya dapat didistribusikan melalui kolom menuju fondasi menjadi tidak seimbang sehingga bangunan berpotensi mengalami keruntuhan dalam waktu yang sangat singkat.
"Yang paling berbahaya itu getarannya. Getaran bisa menyebabkan tiang penyangga mengalami retak. Kalau tiang sudah retak atau patah, dia kehilangan daya dukungnya. Begitu daya dukung hilang, bangunan tidak lagi sanggup menahan beban di atasnya sehingga akhirnya runtuh," jelasnya.
Makmur mengatakan mekanisme tersebut pada dasarnya sama dengan kerusakan bangunan akibat gempa bumi. Meski sumber energinya berbeda, baik gempa maupun ledakan sama-sama menghasilkan getaran yang dapat merusak sistem struktur bangunan.
"Prinsipnya hampir sama seperti gempa. Gempa menghasilkan getaran, ledakan juga menghasilkan getaran. Yang pertama kali terdampak biasanya fondasi atau kolom-kolom utama. Kalau bagian itu rusak, bangunan bisa kehilangan keseimbangan dan akhirnya roboh," ujarnya.
Untuk mempermudah memahami mekanisme tersebut, Makmur mengibaratkannya dengan proses pembongkaran gedung menggunakan bahan peledak atau dinamit. Dalam dunia konstruksi, kata dia, dinamit dipasang pada titik-titik struktur yang menjadi penopang utama bangunan agar kekuatan bangunan hilang sehingga bangunan roboh secara terkontrol.
"Kalau merobohkan bangunan menggunakan dinamit, yang dipasang itu di tiang-tiang atau kolom penyangganya. Ketika kolom kehilangan kekuatan, otomatis bangunan runtuh. Secara prinsip, getaran dari ledakan juga bisa memberikan efek seperti itu terhadap struktur bangunan," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa analogi dinamit tersebut hanya digunakan untuk menjelaskan cara kerja keruntuhan struktur bangunan akibat kehilangan daya dukung, bukan untuk menyimpulkan bahwa ledakan di Grand Polonia berasal dari bahan peledak.
"Yang saya maksud itu efek getarannya. Ledakan menghasilkan gelombang kejut yang berubah menjadi getaran. Kalau getaran itu mengenai bagian struktur yang penting, seperti kolom atau fondasi, kerusakan bisa terjadi dan bangunan kehilangan penyangga utamanya," katanya.
Meski demikian, Makmur mengingatkan bahwa penjelasannya masih bersifat analisis umum berdasarkan ilmu teknik sipil. Ia belum dapat memastikan bagaimana pola ledakan yang sebenarnya terjadi di lokasi karena hal tersebut memerlukan pemeriksaan langsung terhadap kondisi bangunan.
Menurutnya, tim investigasi perlu melihat titik awal ledakan, arah rambatan gelombang kejut, kondisi fondasi, hingga kerusakan yang terjadi pada setiap kolom bangunan. Dari pemeriksaan tersebut baru dapat diketahui apakah keruntuhan bangunan memang diawali oleh rusaknya struktur utama akibat ledakan.
"Kita belum tahu persis seperti apa ledakannya. Itu masih perkiraan dari sisi teknik sipil. Untuk memastikan penyebabnya harus dilakukan pemeriksaan langsung di lapangan. Harus dilihat bagaimana kondisi fondasi, kolom, dan struktur lainnya setelah kejadian," tuturnya.
Makmur menambahkan, analisis terhadap kerusakan struktur merupakan salah satu tahapan penting dalam mengungkap penyebab runtuhnya sebuah bangunan. Dengan mengetahui bagian struktur mana yang pertama kali mengalami kegagalan, penyelidik akan lebih mudah menelusuri bagaimana ledakan terjadi dan seberapa besar energi yang dihasilkan hingga mampu menyebabkan rumah tersebut roboh.
Hingga saat ini, penyebab pasti ledakan yang menghancurkan rumah di Kompleks Grand Polonia masih dalam penyelidikan aparat kepolisian bersama instansi teknis terkait. Hasil investigasi tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk memastikan sumber ledakan serta faktor utama yang menyebabkan bangunan kehilangan kekuatan strukturnya hingga akhirnya runtuh. (san/ram)
Editor : Juli Rambe