BANDA ACEH, SUMUTPOS.CO -Di lereng perbukitan Blang Bintang, Aceh Besar, kini mulai ditumbuhi ribuan batang kurma. Padahal sebelumnya hanya bukit tandus.
Batang kurma yang tumbuh subur pada hamparan perbukitan itu, merupakan milik koperasi Petani Kurma Leumbah Barbate. Mereka telah melakukan penanaman batang kurma ini sejak Desember 2015.
Pada tahun itu, mereka mulai menanam sebanyak 2000 batang kurma di sana. Batang kurma ini didatangkan khusus dari benua Afrika melalui Kementerian Pertanian yang telah memberikan kuota impor bagi pelaku koperasi. Hasilnya, batang kurma ini tumbuh dan subur walaupun ditanam pada tempat tanah dengan iklim tropis.
Ribuan pohon kurma itu sekarang sudah berusia 26 bulan dan 8 bulan lagi dipastikan akan berbuah dan siap panen. Selain akan berbuah, pohon kurma ini, setiap batangnya juga bisa menghasilkan bibit 20 batang lainnya.
Mahdi yang menjadi pelopor perkebunan kurma di sana mengatakan, Pekanbaru awalnya mulai berkebun pada 2015 silam dengan membersihkan 20 hektare lahan mati milik pemerintah.
“Kita pilih lokasi ini karena tandus dan gersang, serta iklimnya cocok untuk kita tanam. Lalu kita lakukan pembersihan menggunakan alat berat. Setelah kebun jadi, baru kita tanam,” sebut Mahdi saat dijumpai di kebunnya.
Mantan Kepala Bank Indonesia (BI) ini selanjutnya mengaku mengimpor pohon kurma ini dari Inggris. Ada beberapa jenis kurma yang dia tanam namun mayoritas jenis Barhee.
"Usia pohon kurma di sini baru 26 bulan. Itu sudah kita tanam di lahan seluas 18 hektare," kata Mahdi.
Dikatakannya, membeli bibit kurma ini seharga Rp700 ribu perbatang. Pohon-pohon kurma di sana ditanam dengan jarak antara delapan hingga 10 meter. Proses perawatannya tidak jauh beda dengan tanaman lain yaitu menggunakan pupuk organik.
Untuk menghemat biaya pupuk, Mahdi mengakalinya dengan memelihara puluhan domba yang dilepas di lokasi setiap hari. Dengan itu, diyakininya kurma tetap dapat berbuah saat ditanam di Indonesia.
Syaratnya, bibitnya harus betina dan memiliki pohon kurma jantan sebagai penyerbuk. Biasanya, dalam waktu tiga tahun kurma sudah mulai berbuah.
"Yang berbuah itu bibit kurma betina. Tanam pohon kurma ini sebenarnya tidak ribet. Karena pohon kurma ini juga tahan kering dan dapat bertahan hingga 100 tahun," jelas Mahdi.
Mahdi kini tak sendiri membuka kebun kurma di sana. Dia dan 78 orang lainnya sudah membentuk Koperasi Petani Kurma Lembah Barbate.
Mereka punya lahan dengan luas keseluruhan mencapai 320 hektare. Namun sekarang baru lahan milik Mahdi dan Sukry Syafii (42) yang sudah ditanami tanaman kurma.
Meski tergolong baru, namun beberapa pohon kurma di sana sudah ada yang mulai berbunga dan berbuah. Di dalam perkebunan, mereka juga mendirikan rumah hingga masjid.
Listrik PLN juga sudah dipasang ke setiap sudut perkebunan. Sebelum mulai berkebun, Mahdi pernah melongok perkebunan kurma di sejumlah negara seperti Thailand, Turki, Uni Emirat Arab dan lainnya.
Usai pulang dari sana, tekad Mahdi untuk mengelola kebun kurma semakin besar. Selain itu, jelasnya, kurma juga beberapa kali disebutkan dalam Alquran.
Setelah berusia tiga atau enam bulan, baru bibit ini ditanam pada lahan yang sudah dipersiapkan.
"Pohon kurma ini kita tanam di tanah dengan iklim tropis lebih bagus. Di Lembah Barbate ini utamanya kita tanam kurma. Tapi ada juga beberapa tanaman lain," ungkap Mahdi.(ibi/rif/ala)
Editor : Admin-1 Sumut Pos