Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Tragedi Bus ALS, Teriakan Terakhir di Ujung Telepon

Johan Panjaitan • Rabu, 7 Mei 2025 | 20:35 WIB
TERGULING: Bus ALS terguling usai sopir tak dapat mengendalikan bus karena rem blong, hingga mengakibatkan 12 penumpang tewas. FOTO: JAWA POS/SUMUT POS
TERGULING: Bus ALS terguling usai sopir tak dapat mengendalikan bus karena rem blong, hingga mengakibatkan 12 penumpang tewas. FOTO: JAWA POS/SUMUT POS


SIMALUNGUN- Duka mendalam menyelimuti keluarga Sanur Sinaga, warga Desa Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun. Kedua orangtuanya, Melaiki Sinaga (74) dan Karmina Gultom (50), menjadi korban tewas dalam kecelakaan maut Bus ALS di Bukit Surungan, Padang Panjang, Sumatera Barat, Selasa (6/5/2025), kemarin.

Dalam kecelakaan itu menewaskan 12 penumpang. Sanur mengenang detik-detik terakhir saat berkomunikasi dengan sang ibu melalui telepon. Di tengah percakapan, ia mendengar suara teriakan panik dari dalam bus sebelum sambungan terputus secara tiba-tiba.

“Saya telepon ibu pagi itu, nanya sudah sampai di mana. Belum lama bicara, terdengar suara histeris penumpang, lalu telepon mati,” kisah Sanur dengan mata berkaca-kaca di rumah duka.

Setelah gagal menghubungi kembali, Sanur segera mengontak saudaranya di Jakarta untuk mencari informasi ke pihak ALS. Kabar duka pun datang, orangtuanya tewas di lokasi kecelakaan.

Keduanya sedang dalam perjalanan ke Jakarta untuk mengunjungi anak dan cucu mereka. Tragisnya, sang cucu Alfonso Hasibuan yang baru berusia dua setengah tahun, turut berada di dalam bus namun selamat dengan luka ringan.

“Anak saya memang sangat dekat dengan oppungnya. Kalau mereka ke mana-mana, anak saya pasti ikut. Syukurlah dia selamat,” ujar Sanur.

Menurut penuturan Parningotan Sinaga, kakak Sanur, ini adalah kali ketiga orangtua mereka naik Bus ALS ke Jakarta.
“Mereka biasa bawa beras sebagai oleh-oleh. Pulangnya baru naik pesawat. Tapi kali ini mereka tak pernah kembali,” ucap Parningotan lirih.

Pemakaman Melaiki dan Deserita direncanakan berlangsung pada Jumat (9/5). Namun luka kehilangan itu akan tinggal lebih lama dari tanah kubur tempat mereka dibaringkan.

Di rumah duka, cucu kecil Alfonso masih belum benar-benar mengerti mengapa ia tidak akan lagi digendong oleh oppungnya.
Suasana kampung pun berubah. Jalanan tanah yang berdebu dan rusak sejauh tujuh kilometer dari jalan besar Siantar-Parapat menuju desa itu kini sepi. Rumah duka dipenuhi tangisan, doa, dan rasa tidak percaya.Tragedi ini menyisakan pertanyaan tentang keselamatan transportasi umum, tanggung jawab operator, dan kisah keluarga-keluarga yang hancur dalam sekejap.

Karena di balik angka statistik para korban, ada suara jeritan terakhir terdengar di ujung telepon yang tak akan pernah dilupakan.

Pemkab Simalungun akan Beri Santunan
Camat Dolok Panribuan Nopen Sijabat didampingi Kepala Desa Dolok Holden Gultom menyampaikan turut belasungkawa kepada keluarga korban. Mereka datang ke rumah duka untuk memberikan penghiburan.

Camat mengatakan, bahwa peristiwa ini sangat memilukan apalagi sampai suami istri yang menjadi korban. Ia berharap agar pihak Bus ALS dapat bertanggungjawab dalam kejadian ini.

"Kita berharap pengelola transportasi penumpang supaya hati-hati dan mengedepankan keselamatan penumpang. Saya sudah koordinasi dengan Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Simalungun. Tentu nanti adalah santunan kepada keluarga korban," ujarnya.

Editor : Johan Panjaitan
#bus als #kecelakaan maut