MAKKAH– Sebanyak 2.864 calon jemaah haji (CJH) Indonesia dari tujuh kloter pertama memulai perjalanan dari Madinah menuju Makkah menggunakan 73 bus. Tahapan ini menandai dimulainya rangkaian puncak ibadah haji, diawali dengan pelaksanaan miqat di Bir Ali dan diakhiri dengan umrah wajib setibanya di Tanah Haram.
Sejak subuh, jemaah kloter JKG 1 sudah bersiap di hotel masing-masing. Setelah salat di Masjid Nabawi Madinah, mereka langsung menuju bus. Jemaah pria tampak mengenakan pakaian ihram, lengkap dengan perlengkapan ringan dan konsumsi sarapan dalam kemasan.
”Semua sudah berihram dari hotel dan di Bir Ali hanya tinggal salat dua rakaat, lalu niat. Kami sudah sosialisasikan itu sejak awal,” ujar Kepala Sektor 2 Madinah Zulkarnain Nasution, seperti yang dilansir dari Jawa Pos.
Di lokasi miqat Masjid Dzulhulaifah atau Bir Ali, antrean bus dari berbagai negara sudah mengular sejak pagi. Rombongan jemaah asal Tiongkok, Pakistan, dan Bangladesh lebih dahulu memadati area parkir. Namun, berkat kebijakan skema singgah 15–30 menit per bus, tidak terjadi penumpukan berarti. Bus dari Indonesia mulai masuk Bir Ali pada pukul 07.15.
Kepala Sektor Khusus Bir Ali Muhammad menyebut pihaknya mengerahkan 14 personel yang ditempatkan di lima titik strategis.
”Koordinasi dengan Karu, Karom, dan ketua kloter menjadi kunci. Kami minta jemaah sudah berwudu dan berihram dari hotel agar efisien,” ujarnya.
Konsultan Ibadah Haji Kementerian Agama Prof Aswadi Syuhada menekankan pentingnya pemahaman larangan dalam ihram. Dia menyoroti kasus jemaah yang masih mengenakan celana dalam atau menyemprot parfum setelah berihram.
”Untuk laki-laki, dilarang menutup kepala atau memakai pakaian berjahit. Wanita tidak boleh menutup wajah dan telapak tangan,” ujarnya.
Terkait penggunaan sarung tangan wanita, dia menegaskan hanya diperbolehkan jika kain longgar.
”Kalau ketat dan menjiplak jari seperti sarung tangan motor, itu termasuk pelanggaran,” katanya.
Soal sanksi, dia menyebut bahwa dam hanya dikenakan untuk pelanggaran yang disengaja. Jika jemaah menyentuh kiswah, Rukun Yamani, atau Hajar Aswad yang diberi minyak wangi, tidak dikenai sanksi.
”Karena itu bagian dari ibadah, bukan memakai parfum atas kehendak pribadi,” jelasnya.
Dari Bir Ali, perjalanan jemaah menuju Makkah memakan waktu sekitar lima jam. Setiba di Kota Suci, mereka langsung diarahkan ke hotel masing-masing yang telah disiapkan PPIH Arab Saudi.
”Hari ini kami mulai tempatkan jemaah di 20 hotel awal dari total 205 hotel yang sudah kami siapkan,” ujar Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Makkah Ali Machzumi.
Hotel-hotel itu tersebar di berbagai sektor, rata-rata berstandar bintang tiga dengan fasilitas ramah lansia. Kamar dilengkapi tempat tidur sejajar, kloset duduk, AC, lemari pendingin, dan ruang makan.
”Insya Allah semua hotel dalam kondisi siap huni,” ucap Ali seusai inspeksi bersama tim.
Selain tempat tinggal, hal penting lainnya adalah konsumsi. Selama di Makkah, jemaah tetap disambut menu khas Nusantara seperti nasi kuning, rendang, sambal terasi, hingga sayur asam. Di dapur Tadco Catering yang menangani 3.500 jemaah, aroma rempah Indonesia menyeruak kuat.
”Kami ingin jemaah tetap merasa seperti di rumah sendiri,” ujar chef Azhari, WNI asal Jambi yang menjadi kepala dapur di Tadco, Jumat (9/5).
Menu disusun bergilir, termasuk bubur ayam dan lontong sayur untuk sarapan. Untuk menjamin efisiensi, pada fase puncak ibadah di Armuzna, makanan dikombinasikan antara fresh meal dan siap saji. Secara total, satu jemaah akan menerima 127 kali makan selama di Arab Saudi. Estimasi distribusi tahun ini mencapai 25 juta boks, jumlah terbesar dalam sejarah haji Indonesia.
Uniknya, sebagian besar bumbu masakan berasal dari produksi Indonesia melalui BPKH Limited, anak usaha Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI yang berbasis di Arab Saudi.
”Jadi, selain rasanya khas, unsur kemandirian kita dalam pelayanan haji juga meningkat,” jelas Ali. (mia/dee/oni/jpg)
Editor : Johan Panjaitan