Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Wisatawan Dilarang Mandi di Pantai Parangtritis

Juli Rambe • Selasa, 1 Juli 2025 | 19:30 WIB
Pantai Parangtritis di Kecamatan Bantil, Yogyakarta. (Dok: instagram)
Pantai Parangtritis di Kecamatan Bantil, Yogyakarta. (Dok: instagram)

 

SUMUTPOS.CO- Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta wisatawan mematuhi larangan untuk tidak mandi di Pantai Parangtritis.

"Ini sebetulnya kalau menurut saya soal kesadaran. Sudah selalu dikatakan bahwa di Pantai Parangtritis tidak boleh mandi," ujar Sultan HB X di Komplek Kepatihan Yogyakarta, Senin (30/6/2025).

Dijelaskannyq, larangan tersebut diberlakukan demi mencegah terjadinya insiden kecelakaan di laut selama musim liburan sekolah.

Karena itu, dia menyayangkan masih ada pengunjung yang nekat mandi di Parangtritis meski telah diingatkan oleh petugas. Mereka dinilai tidak memahami risiko yang mengintai di laut selatan, terutama wisatawan dari luar daerah.

"Kalau orang Yogyakarta mungkin tahu, jadi menghindari. Tapi kalau dari luar, mereka tidak tahu," ucapnya.

Menurut Sultan, meski di kawasan Pantai Parangtritis sudah dipasang papan peringatan, namun masih perlu dipertimbangkan untuk memperbanyak jumlahnya sebagai upaya preventif.

"Apakah mungkin tulisan itu diperbanyak atau apa, gitu?" katanya.

Dia menilai upaya pencegahan tetap bergantung pada kesadaran pribadi wisatawan sebab petugas di lapangan tidak bisa mengawasi satu per satu perilaku individu.

"Tidak semudah itu. Kalau untuk menghadapi individu-individu perorangan kan juga nggak mungkin," kata Ngarsa Dalem sapaan Sultan HB X.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi menambahkan para pendamping dari sekolah harus benar-benar mengawasi siswa selama berada di lokasi wisata, serta memastikan mereka mematuhi semua arahan dari petugas di lapangan.

"Kami mohon pendamping-pendamping pelajar-pelajar itu betul-betul bisa mengendalikan anak-anaknya untuk mematuhi standar keamanan yang diberikan, baik dari pemda, desa wisata, maupun pokdarwis," ujar Imam.

Soal kepatuhan, Sultan menyinggung persoalan yang sama di kawasan wisata lain seperti Malioboro, di mana sebagian wisatawan masih membuang sampah sembarangan karena tidak terbiasa dengan budaya lokal.

"Satunya membuang sampah di tempat sampah, satunya ya membuang di mana dia berdiri, misalnya. Kira-kira sama, gitu," ujarnya. (bbs/ram)

Editor : Juli Rambe