Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Warning! Teroris Rekrut Anak-anak Melalui Medsos dan Game Online, Satu Pelakunya Asal Medan

Johan Panjaitan • Rabu, 19 November 2025 | 10:11 WIB

ILUSTRASI: Densus 88 meringkus seorang pelaku teroris. (net)
ILUSTRASI: Densus 88 meringkus seorang pelaku teroris. (net)

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Jejaring terorisme di Indonesia kini merambah ruang digital dan mulai menyasar anak-anak melalui media sosial, game online, hingga aplikasi pesan instan. Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror mengungkap bahwa hingga November tahun ini terdapat 110 anak berusia 10–18 tahun yang terdeteksi terpapar upaya rekrutmen teroris di platform digital tersebut.

Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko, menyampaikan bahwa kelompok teroris semakin agresif memanfaatkan kerentanan psikologis anak untuk menanamkan ideologi radikal.

“Platform digital menjadi pintu masuk utama. Mereka memulai dari ruang terbuka seperti media sosial dan game online, lalu menarik korban ke komunikasi pribadi untuk membangun kedekatan emosional sebelum menanamkan ideologi,” ujar Trunoyudo di Jakarta.

Sejauh ini, Densus 88 telah menangkap lima orang tersangka yang diduga berperan sebagai perekrut dan pengendali anak-anak, yakni:

1. FB alias YT (Medan)

2. LN (Banggai)

3. PB alias BNS (Sleman)

4. NSPO (Tegal)

5. JJS alias BS (Agam)

Terbaru, dua tersangka tambahan ditangkap pada 17 November di Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Mereka disebut sebagai perekrut inti yang melakukan pendekatan sistematis untuk mempengaruhi anak-anak, bahkan mendorong mereka melakukan aksi teror.

Trunoyudo menjelaskan bahwa para pelaku memanfaatkan berbagai konten digital untuk menarik perhatian, mulai dari video pendek, animasi, meme, hingga musik.

“Mereka memanfaatkan rasa ingin tahu, kondisi bullying, broken home, hingga pencarian jati diri anak-anak,” jelasnya.

Modus yang digunakan dimulai dari platform terbuka seperti Facebook, Instagram, dan game online. Setelah mendapatkan target, mereka mengalihkan komunikasi ke saluran tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk melakukan pembinaan ideologis lebih lanjut.

Polri memastikan pola rekrutmen ini terus diawasi demi melindungi anak-anak Indonesia.

“Polri berkomitmen penuh melindungi anak-anak Indonesia dari radikalisasi, eksploitasi ideologi, dan kekerasan digital. Anak adalah masa depan bangsa, dan tugas kita bersama menjaga mereka dari ancaman terorisme,” tegas Trunoyudo.(jpc/han)

Editor : Johan Panjaitan
#anak-anak #densus 88 #media sosial #game online #teroris