JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com– Bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) kian menghangat. Nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono mencuat dan langsung menyita perhatian publik. Bukan semata karena rekam jejaknya di sektor fiskal, melainkan juga karena statusnya sebagai keponakan Presiden Prabowo Subianto, di tengah tuntutan agar bank sentral tetap steril dari pengaruh politik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara terbuka menyatakan dukungannya atas masuknya Thomas dalam radar calon pimpinan BI. Menurutnya, latar belakang Thomas di kebijakan fiskal justru akan memperkaya perspektif bila kelak berkiprah di ranah moneter.
“Bagus. Supaya Pak Thomas punya pengalaman yang lebih luas. Dari fiskal ke moneter itu saling melengkapi. Saya mendukung,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (20/1).
Purbaya menepis anggapan bahwa perpindahan pejabat pemerintah ke Bank Indonesia berpotensi menggerus independensi bank sentral. Ia menegaskan, independensi tetap terjaga selama tidak ada intervensi dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.
“Selama ini kan tidak ada. BI independen, kami jalankan fiskal, mereka jalankan moneter. Lalu kita koordinasi di KSSK agar kebijakan saling mendukung dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.
Rupiah Melemah, Bukan Karena Politik
Menanggapi pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS, Purbaya menilai fenomena tersebut tidak berkaitan dengan isu pencalonan Thomas. Menurutnya, pergerakan kurs lebih dipengaruhi oleh faktor fundamental ekonomi dan arus modal global.
Ia bahkan menyinggung penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah mencetak rekor tertinggi sebagai indikasi masuknya dana asing.
“Kalau IHSG sudah all time high, berarti ada aliran dana asing masuk. Tidak mungkin hanya domestik yang mendorong indeks setinggi itu. Kalau aliran asing masuk, suplai dolar bertambah dan rupiah mestinya menguat. Jadi ini lebih ke spekulasi pasar, bukan isu independensi BI,” ujarnya.
Kursi Kosong Usai Juda Agung Mundur
Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengonfirmasi bahwa posisi Deputi Gubernur BI kosong setelah Juda Agung mengajukan pengunduran diri kepada Presiden pada 13 Januari 2026.
“Atas kekosongan tersebut, Gubernur Bank Indonesia telah merekomendasikan calon kepada Presiden. Selanjutnya Presiden mengusulkan dan mengangkat Deputi Gubernur terpilih setelah mendapat persetujuan DPR,” kata Denny, Minggu (19/1).
Denny menegaskan, di tengah dinamika pencalonan, Bank Indonesia tetap fokus menjalankan mandat utamanya: menjaga stabilitas nilai rupiah, memastikan kelancaran sistem pembayaran, serta memelihara stabilitas sistem keuangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
“Termasuk saat ini BI tengah fokus pada pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Januari 2026, yang keputusannya akan diumumkan pada Rabu, 21 Januari 2026,” pungkasnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan