NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com – Novak Djokovic harus menerima kenyataan pahit di US Open 2026. Pemilik 24 gelar Grand Slam itu tersingkir secara mengejutkan pada babak pertama setelah takluk dari petenis Argentina, Mariano Navone, dalam pertarungan lima set yang menguras fisik, Senin (31/8/2026).
Djokovic sempat berada di atas angin dengan keunggulan 2-1. Namun, kondisi tubuhnya perlahan runtuh hingga akhirnya menyerah dengan skor 7-6 (7-5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1.
Kekalahan tersebut sekaligus mengakhiri salah satu catatan paling luar biasa dalam sejarah tenis putra. Djokovic sebelumnya tidak pernah kalah pada babak pertama Grand Slam sejak Australian Open 2006.
Baca Juga: 3.048 Korban Banjir Bandang Nepal Masih Hilang, Pemerintah Kesulitan Petakan Dampak Bencana
Artinya, sebanyak 77 kemenangan beruntun di babak pertama Grand Slam yang bertahan selama dua dekade akhirnya terhenti di New York.
Namun, yang membuat kekalahan ini terasa lebih getir bukan sekadar angka di papan skor. Kondisi fisik Djokovic menjadi persoalan utama sepanjang pertandingan.
Tubuh Djokovic Mulai Menyerah
Djokovic mengawali pertandingan dengan cukup meyakinkan. Ia mampu mengimbangi permainan Navone dan merebut dua dari tiga set pertama.
Masalah mulai muncul ketika Navone memaksanya menjalani reli-reli panjang. Djokovic beberapa kali terlihat membungkuk di antara poin untuk mengatur napas.
Petenis Serbia itu kemudian mengalami penurunan fisik yang semakin jelas.
Djokovic sempat muntah ke tempat sampah di pinggir lapangan. Tak lama kemudian, ia terlihat mengalami kram. Memasuki set keempat, pergerakannya semakin terbatas hingga membutuhkan perawatan pada bagian punggung.
Situasi tersebut membuat Djokovic kehilangan salah satu senjata terbesarnya: kemampuan bergerak dan bertahan dalam reli panjang.
Baca Juga: Dapur Minyak Ilegal Terbakar Hebat di Langkat, Polisi Pasang Garis Polisi dan Buru Pengelola
Navone membaca situasi tersebut dengan baik. Petenis Argentina itu terus menjaga tekanan, sementara Djokovic semakin kesulitan mengejar bola.
Pada set kelima, kondisi Djokovic nyaris tak memungkinkan untuk memberikan perlawanan seperti biasanya. Navone akhirnya menutup pertandingan dengan kemenangan telak 6-1.
Berusaha Menahan Air Mata
Ketika pertandingan mendekati akhir, ekspresi Djokovic mulai berubah. Petenis yang telah berkali-kali melewati situasi sulit dalam kariernya itu terlihat berusaha menahan air mata.
Usai pertandingan, ia masih menyempatkan diri menyapa penonton di Arthur Ashe Stadium.
Namun, emosinya kembali pecah ketika berjalan menuju ruang ganti.
Kekalahan tersebut terasa berbeda. Bukan hanya karena ia tersingkir terlalu dini, tetapi juga karena kondisi fisiknya kembali menjadi penghalang.
“Saya merasa sangat buruk di lapangan. Ini sesuatu yang sudah saya alami hampir di setiap pertandingan tahun ini. Muntah,” kata Djokovic seperti dikutip BBC.
Kondisinya kemudian semakin memburuk.
“Seluruh tubuh saya kemudian mulai menyerah. Kram, rasa sakit. Punggung saya akhirnya menyerah, begitu juga bahu, dan saya tidak bisa menyelesaikan pertandingan,” sambung juara empat kali US Open tersebut.
Baca Juga: Aghniny Haque Sampai Klaustrofobia, Adegan Dikubur di Film Ini Ternyata Bikin Tegang
Masalah yang Belum Terpecahkan
Apa yang terjadi di New York bukanlah persoalan yang muncul tiba-tiba.
Djokovic telah mengalami masalah fisik sejak awal tahun. Bahkan, ia kembali mengalami kekalahan pada babak pertama Cincinnati Open dua pekan sebelumnya.
Kini, persoalan tersebut kembali menghantui langkahnya di Grand Slam.
Pada usia 39 tahun, Djokovic masih berusaha mempertahankan level permainan yang membuatnya menjadi salah satu petenis terbesar sepanjang masa. Namun, tubuh mulai memberikan sinyal yang tidak bisa diabaikan.
Yang menjadi persoalan, Djokovic sendiri belum mengetahui apakah masalah tersebut dapat sepenuhnya diatasi.
“Saya mencoba, kawan. Saya mencoba. Kita lihat saja,” ucapnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan